Gunung Lewotobi Laki-laki Erupsi Lagi, Warga Diimbau Tetap Waspada
Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur kembali erupsi pada Jumat pagi, dengan kolom abu mencapai 500 meter. Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada terhadap potensi bahaya vulkanik.
Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali mengalami erupsi pada Jumat pagi, 10 April. Kolom abu letusan mencapai sekitar 500 meter di atas puncak, menunjukkan aktivitas vulkanik yang terus berlanjut di wilayah tersebut. Kejadian ini dilaporkan langsung oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Erupsi terjadi tepat pada pukul 07.24 Wita, dengan kolom abu berwarna kelabu berintensitas sedang. Arah condong abu terpantau menuju timur laut, berpotensi memengaruhi area sekitarnya. Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, memberikan keterangan resmi terkait peristiwa ini di Jakarta.
Aktivitas vulkanik ini terekam jelas pada seismogram PGA Gunung Lewotobi dengan amplitudo maksimum 7,4 mm. Durasi erupsi tercatat sekitar 2 menit 47 detik, menandai rangkaian letusan yang menambah catatan sejarah gunung tersebut. Kejadian ini mengingatkan kembali pada periode erupsi eksplosif sebelumnya.
Aktivitas Terkini dan Status Waspada
Erupsi terbaru Gunung Lewotobi Laki-laki ini menambah daftar panjang rangkaian aktivitas vulkanik yang terjadi. Sebelumnya, letusan signifikan juga tercatat pada Maret 2026, serta periode erupsi eksplosif antara 2024 hingga 2025. Pola erupsi gunung ini bervariasi, dengan selang waktu satu hingga 29 tahun.
Meskipun terjadi erupsi, Lana Saria memastikan bahwa status Gunung Lewotobi Laki-laki saat ini masih berada pada Level II atau Waspada. Status ini mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas, namun belum mencapai tingkat bahaya tertinggi. Masyarakat diminta untuk mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan.
Rekomendasi utama yang dikeluarkan adalah larangan aktivitas dalam radius empat kilometer dari pusat erupsi. Area ini dianggap sebagai zona bahaya langsung yang harus dihindari oleh masyarakat maupun wisatawan. Pemantauan terus dilakukan untuk mengantisipasi perubahan status gunung.
Sejarah Erupsi dan Dampak Signifikan
Berdasarkan catatan sejarah, Gunung Lewotobi Laki-laki dikenal memiliki karakter erupsi eksplosif. Erupsi gunung ini mampu menghasilkan lontaran material pijar, endapan abu, aliran lava, hingga awan panas yang berbahaya. Karakteristik ini menunjukkan potensi dampak yang besar jika terjadi erupsi berskala besar.
Erupsi signifikan dengan dampak luas pernah terjadi pada November 2024 dan berlanjut dari Maret hingga Oktober 2025. Pada Maret 2025, tercatat letusan hebat dengan kolom abu mencapai 8 hingga 10 kilometer. Aktivitas vulkanik berlanjut intensif hingga puluhan erupsi dalam sepekan.
Dampak dari erupsi sebelumnya sangat besar, menyebabkan lebih dari 500 kepala keluarga harus mengungsi dan direlokasi. Kajian dari tim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Geologi menunjukkan bahwa rumah serta lingkungan warga rusak berat. Area tersebut juga masuk dalam kawasan rawan bencana erupsi.
Data pemantauan satelit terbaru dari Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Lewotobi Laki-Laki menunjukkan pola deflasi atau pengempisan tubuh gunung. Indikasi ini penting karena menunjukkan tidak adanya suplai magma besar dari dalam. Ini menjadi salah satu faktor penentu dalam analisis potensi erupsi selanjutnya.
Imbauan Keselamatan untuk Masyarakat
Masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-laki diimbau untuk tetap tenang dan tidak panik menghadapi situasi ini. Sangat penting untuk selalu mengikuti arahan dari pemerintah daerah dan tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya. Verifikasi informasi adalah kunci untuk menghindari kepanikan.
Kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar hujan juga menjadi perhatian serius, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Wilayah-wilayah seperti Dulipali, Padang Pasir, Nobo, Nurabelen, Klatanlo, Hokeng Jaya, Boru, dan Nawakote yang berhulu di puncak gunung harus sangat waspada. Banjir lahar dapat membawa material vulkanik yang berbahaya.
Bagi warga yang terdampak hujan abu, Badan Geologi menyarankan penggunaan masker atau penutup hidung dan mulut. Tindakan ini krusial untuk melindungi sistem pernapasan dari partikel abu vulkanik yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Kesehatan masyarakat adalah prioritas utama dalam menghadapi erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki.
Sumber: AntaraNews