Badan Geologi Imbau Pendaki Jauhi Radius 1,5 Km dari Puncak Gunung Soputan
Badan Geologi Kementerian ESDM mengeluarkan imbauan penting terkait Aktivitas Gunung Soputan, meminta pendaki dan masyarakat menjauhi radius 1,5 kilometer dari puncak karena statusnya masih Waspada.
Manado – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kembali mengeluarkan peringatan bagi masyarakat, pendaki, dan wisatawan di sekitar Gunung Soputan, Sulawesi Utara. Imbauan ini secara tegas meminta agar tidak ada aktivitas dalam radius 1,5 kilometer dari puncak gunung. Langkah ini diambil menyusul evaluasi menyeluruh yang menunjukkan tingkat aktivitas Gunung Soputan tetap berada pada Level II atau Waspada.
Pelaksana tugas Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, menyampaikan bahwa rekomendasi ini disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini. Evaluasi tersebut dilakukan hingga 31 Mei 2026, menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap kondisi gunung api tersebut. Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti arahan dari pihak berwenang demi keselamatan bersama.
Selain pembatasan jarak, Badan Geologi juga menyarankan masyarakat yang bermukim atau beraktivitas di sekitar Gunung Soputan untuk menyiapkan masker penutup hidung dan mulut. Persiapan ini penting guna mengantisipasi kemungkinan terjadinya hujan abu jika erupsi sewaktu-waktu terjadi. Kesiapsiagaan menjadi kunci dalam menghadapi potensi dampak aktivitas vulkanik.
Status Waspada dan Zona Aman Gunung Soputan
Tingkat aktivitas Gunung Soputan yang berada pada Level II (Waspada) mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas seismik dan potensi erupsi. Oleh karena itu, penetapan radius aman 1,5 kilometer dari puncak gunung adalah langkah mitigasi yang krusial. Zona ini harus steril dari segala bentuk aktivitas manusia, termasuk pendakian dan kegiatan wisata.
Badan Geologi secara rutin melakukan analisis dan evaluasi terhadap data-data kegempaan serta visual Gunung Soputan. Keputusan untuk mempertahankan status Waspada didasarkan pada data komprehensif yang dikumpulkan. Masyarakat diimbau untuk tidak lengah dan selalu mematuhi rekomendasi yang diberikan oleh pihak berwenang.
Selain radius 1,5 kilometer dari puncak, masyarakat juga perlu mewaspadai wilayah sektoral arah barat-barat laut sejauh 2,5 kilometer. Area ini merupakan daerah bukaan kawah yang berpotensi menjadi jalur leleran lava dan awan panas guguran. Kewaspadaan terhadap ancaman sekunder seperti lahar juga penting, terutama bagi warga yang tinggal di bantaran sungai yang berhulu di Gunung Soputan saat musim hujan.
Analisis Kegempaan dan Potensi Bahaya
Periode 16-31 Mei 2026 menunjukkan bahwa kegempaan Gunung Soputan didominasi oleh gempa tektonik jauh. Seismograf mencatat 11 kali gempa vulkanik dangkal, satu kali gempa vulkanik dalam, dan 104 kali gempa tektonik jauh. Meskipun gempa tektonik relatif tinggi, migrasi magma ke permukaan belum terdeteksi secara signifikan.
Secara visual, guguran tidak teramati dan tinggi asap kawah terpantau maksimum 30 meter dari puncak. Data instrumental juga menunjukkan bahwa aktivitas kegempaan masih didominasi oleh jenis gempa tektonik. Meskipun tidak ada perubahan deformasi signifikan pada tekanan di bawah tubuh gunung, potensi bahaya tetap ada.
Potensi bahaya yang perlu diwaspadai dari Aktivitas Gunung Soputan saat ini meliputi lontaran material, aliran/guguran lava, maupun piroklastik. Hal ini seiring dengan masih tingginya gempa tektonik yang tercatat pada periode tersebut. Jika terjadi erupsi, potensi bahaya sekunder berupa lahar dapat mengancam sungai-sungai dan lembah yang berhulu di Gunung Soputan.
Sumber: AntaraNews