Gunung Karangetang: ESDM Ungkap Peningkatan Aktivitas Kegempaan dan Potensi Erupsi
Aktivitas kegempaan Gunung Karangetang di Sulawesi Utara meningkat signifikan, menurut Badan Geologi Kementerian ESDM. Indikasi pergerakan magma memicu potensi erupsi. Waspadai Peningkatan Aktivitas Kegempaan Gunung Karangetang.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan adanya peningkatan signifikan dalam aktivitas kegempaan Gunung Karangetang. Peningkatan ini terdeteksi di Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, selama periode awal Juni 2026.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan bahwa data kegempaan menunjukkan indikasi kuat pergerakan suplai magma menuju bagian dangkal gunung api tersebut. Kondisi ini memerlukan kewaspadaan tinggi dari masyarakat sekitar dan pihak berwenang.
Laporan khusus yang dibagikan pada Minggu, 14 Juni 2026, merinci berbagai jenis gempa yang terekam, menggarisbawahi potensi bahaya erupsi magmatik dan guguran awan panas. Masyarakat diminta untuk tetap tenang dan mematuhi rekomendasi resmi.
Lonjakan Data Kegempaan Gunung Karangetang
Pada periode 1 hingga 10 Juni 2026, Gunung Karangetang mencatat beragam aktivitas seismik yang signifikan. Tercatat dua kali gempa guguran, 44 kali gempa embusan, dan 20 kali tremor harmonik. Selain itu, 47 kali tremor nonharmonik dan enam kali gempa hybrid/fase banyak juga terekam.
Aktivitas vulkanik dangkal juga menunjukkan peningkatan dengan 20 kali gempa vulkanik dangkal dan 100 kali gempa vulkanik dalam. Gempa tektonik lokal terjadi satu kali, sementara gempa terasa pada skala I-IV MMI tercatat sembilan kali, dan gempa tektonik jauh mencapai 143 kali.
Peningkatan paling mencolok terjadi pada 11 Juni 2026, di mana gempa vulkanik dalam terekam sebanyak 70 kejadian, menunjukkan lonjakan signifikan dibandingkan hari-hari sebelumnya. Data kegempaan pada 12 Juni 2026 menunjukkan 16 kali gempa tektonik jauh, dua kali gempa tektonik lokal, 15 kali gempa vulkanik dalam, dan delapan kali gempa vulkanik dangkal.
Pada 13 Juni 2026, rekaman data mencakup 11 kali gempa tektonik jauh, dua kali gempa terasa, empat kali gempa tektonik lokal, 19 kali gempa vulkanik dalam, dan enam kali gempa vulkanik dangkal. Selain itu, 15 kali gempa hybrid, 10 kali gempa guguran, tujuh kali gempa embusan, 11 kali tremor nonharmonik, dan satu kali tremor harmonik juga terekam.
Indikasi Pergerakan Magma dan Potensi Erupsi
Peningkatan intensitas kegempaan di Gunung Karangetang mengindikasikan adanya pergerakan suplai magma dari bagian dalam menuju ke bagian dangkal gunung. Hal ini dicirikan oleh peningkatan gempa vulkanik dangkal dan gempa hybrid/fase banyak. Gempa-gempa ini mencerminkan pergerakan fluida di permukaan yang mengganggu kesetimbangan kubah lava, memicu terjadinya gempa guguran.
Kemunculan gempa vulkanik dangkal, hybrid, dan guguran setelah peningkatan gempa vulkanik dalam merupakan sinyal penting. Fenomena ini menunjukkan bahwa gunung api sedang menuju fase pembentukan kubah lava atau bahkan berpotensi menuju erupsi. Meskipun ada peningkatan kegempaan, anomali visual seperti tinggi kolom asap masih sekitar 20 meter, dan kondisi lainnya belum menunjukkan perubahan signifikan.
Potensi bahaya utama Gunung Karangetang meliputi erupsi magmatik serta guguran awan panas yang dapat meluncur ke lembah-lembah. Awan panas ini berpotensi mengarah dari pusat erupsi kawah utara atau kawah selatan. Erupsi efusif, yang merupakan ciri khas Karangetang, juga berpotensi terjadi, di mana kubah lava atau lava keluar dan meluncur ke lembah-lembah.
Rekomendasi Keselamatan dan Kewaspadaan Masyarakat
Mengingat peningkatan aktivitas dan potensi bahaya yang ada, masyarakat diimbau untuk tidak memasuki dan beraktivitas dalam radius tertentu dari kawah. Radius aman adalah 1,5 kilometer dari kawah utara dan kawah selatan. Selain itu, area sektoral barat daya dan selatan dari kawah selatan memiliki radius aman 2,5 kilometer.
Penting bagi masyarakat untuk tetap tenang dan selalu mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan oleh Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Informasi resmi adalah kunci untuk menjaga keselamatan dan menghindari kepanikan.
Masyarakat juga diminta untuk tidak mudah terpancing oleh berita-berita yang tidak benar dan tidak bertanggung jawab mengenai aktivitas Gunung Karangetang. Verifikasi informasi dari sumber resmi sangat krusial dalam situasi seperti ini.
Sumber: AntaraNews