Sinar Api Misterius di Kawah Tompaluan: Apakah Gunung Lokon Akan Erupsi Seperti 2011?
Kemunculan sinar api di kawah Tompaluan Gunung Lokon sejak 4 September 2025 memicu kekhawatiran. Apakah ini pertanda erupsi besar atau hanya aktivitas biasa?
Ketua Pos Pengamanan Gunung Api (PGA) Tomohon, Armando Manguleh, melaporkan adanya kemunculan sinar api dari kawah Tompaluan Gunung Lokon di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Fenomena menarik ini telah terpantau secara terus-menerus sejak tanggal 4 September 2025, memicu perhatian dari berbagai pihak terkait aktivitas vulkanik gunung berapi tersebut. Laporan ini disampaikan Armando di Tomohon pada hari Minggu, memberikan informasi terkini mengenai kondisi Gunung Lokon.
Kemunculan sinar api ini bukan sekadar fenomena visual belaka, melainkan indikasi kuat adanya aktivitas magma yang bergerak naik ke permukaan. Proses ini menyebabkan pemanasan signifikan pada suhu tanah di sekitar kawah, termasuk area solfatara yang mengeluarkan uap belerang. Kondisi internal gunung yang memanas inilah yang secara langsung memicu munculnya cahaya kemerahan di kawah.
Peningkatan aktivitas internal ini menimbulkan potensi terjadinya erupsi, mengingat suhu tanah yang terus meningkat dan aktivitas kegempaan yang masih sangat tinggi. Sinar api tersebut dapat bertahan atau menghilang, sangat bergantung pada suplai magma yang berkelanjutan dan intensitas kegempaan. Situasi ini mendorong Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk meningkatkan status Gunung Lokon.
Sinyal Aktivitas Magma dan Peningkatan Suhu Tanah
Armando Manguleh menjelaskan bahwa kemunculan sinar api di kawah Tompaluan merupakan cerminan langsung dari pergerakan magma di bawah permukaan. "Kemunculan sinar api tersebut sejak tanggal 4 September 2025," kata Armando, menegaskan periode pengamatan fenomena ini. Aktivitas magma ini secara efektif memanaskan lapisan tanah di kawah, termasuk area solfatara, yang kemudian memancarkan cahaya.
Menurut Armando, "Kondisi itulah yang menyebabkan munculnya sinar api yang tampak di kawah Tompaluan." Pemanasan ini bukan hanya sekadar tanda, melainkan juga menunjukkan adanya energi besar yang terakumulasi di dalam perut Gunung Lokon. Potensi terjadinya erupsi sangat mungkin terjadi, mengingat aktivitas internal yang terus-menerus dan suhu tanah yang menunjukkan peningkatan signifikan.
Sinar api yang terlihat bisa saja bertahan dalam jangka waktu tertentu atau menghilang. Hal ini sangat bergantung pada suplai magma yang masih berlanjut dan aktivitas kegempaan yang terjadi. Jika suplai magma terus berlangsung dan kegempaan tetap tinggi, maka kemungkinan sinar api akan terus terlihat, menjadi indikator penting bagi pemantauan gunung.
Sejarah Sinar Api Gunung Lokon dan Peningkatan Status Siaga
Sejarah aktivitas Gunung Lokon menunjukkan bahwa kemunculan sinar api bukanlah fenomena yang baru. Armando Manguleh mengungkapkan bahwa pada tahun 2008, sinar api juga sempat muncul dari kawah Tompaluan Gunung Lokon. Menariknya, pada saat itu tidak terjadi erupsi besar setelah kemunculan sinar api tersebut, memberikan preseden yang perlu dipertimbangkan.
Namun, Armando juga menambahkan bahwa terdapat jeda waktu antara kemunculan sinar api dan erupsi signifikan. "Kemunculan sinar api nanti diikuti erupsi tiga tahun kemudian. Saat terjadi erupsi warga dievakuasi," ujarnya, merujuk pada erupsi besar yang terjadi pada tahun 2011. Kejadian ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat dan pihak berwenang untuk tetap waspada.
Sebagai respons terhadap peningkatan aktivitas vulkanik, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah meningkatkan status Gunung Lokon. Sejak Rabu, 3 September 2025, pukul 12:00 WITA, status Gunung Lokon resmi naik dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III). Peningkatan status ini didasarkan pada data kegempaan yang menunjukkan lonjakan signifikan.
- Terjadi kenaikan jumlah kegempaan yang signifikan, mencapai lebih dari 100 gempa per hari.
- Frekuensi normal kegempaan Gunung Lokon sebelumnya hanya sekitar tiga kali gempa per hari.
Data ini menunjukkan peningkatan aktivitas internal yang drastis, sehingga memerlukan tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi dari semua pihak terkait. Pemantauan intensif terus dilakukan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi di Gunung Lokon.
Sumber: AntaraNews