Badan Geologi Tingkatkan Status Gunung Ile Lewotolok Menjadi Siaga Akibat Peningkatan Aktivitas Vulkanik

Badan Geologi resmi menaikkan status Gunung Ile Lewotolok di Lembata menjadi Level III (Siaga) mulai 18 Januari 2026 menyusul lonjakan signifikan aktivitas erupsi dan kegempaan yang teramati.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Badan Geologi Tingkatkan Status Gunung Ile Lewotolok Menjadi Siaga Akibat Peningkatan Aktivitas Vulkanik
Badan Geologi resmi menaikkan status Gunung Ile Lewotolok di Lembata menjadi Level III (Siaga) mulai 18 Januari 2026 menyusul lonjakan signifikan aktivitas erupsi dan kegempaan yang teramati. (AntaraNews)

Badan Geologi telah mengumumkan peningkatan status aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Status gunung berapi ini resmi dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) per 18 Januari 2026 pukul 11.00 Wita. Keputusan ini diambil menyusul peningkatan intensitas erupsi yang signifikan dalam beberapa hari terakhir.

Kenaikan status ini merupakan respons terhadap data pengamatan yang menunjukkan lonjakan jumlah kejadian erupsi. Petugas Pemantau Gunung Ile Lewotolok, Stanislaus Arakian, membenarkan bahwa aktivitas erupsi terus meningkat tajam. Peningkatan ini menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang dan masyarakat sekitar.

Gunung Ile Lewotolok, yang pernah meletus hebat pada tahun 2020 dan menyebabkan evakuasi warga, kini kembali menunjukkan gejala peningkatan aktivitas. Masyarakat di sekitar lereng gunung diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang. Pemerintah daerah dan Badan Geologi terus memantau perkembangan situasi secara ketat.

Peningkatan Aktivitas Erupsi Gunung Ile Lewotolok

Peningkatan aktivitas Gunung Ile Lewotolok telah terdeteksi sejak awal Januari 2026. Pada tanggal 4 Januari 2026, gunung ini mulai menunjukkan peningkatan erupsi dengan tinggi kolom abu mencapai 300 meter di atas puncak. Fenomena ini menjadi indikasi awal dari perubahan kondisi vulkanik yang lebih aktif.

Lonjakan aktivitas semakin nyata pada 13 Januari 2026, ketika tercatat 341 kejadian gempa erupsi dalam sehari. Selain itu, pada tanggal yang sama, aliran lava mulai teramati keluar dari kawah gunung. Sebelumnya, aliran lava ini hanya bergerak di dalam kawah, menandakan pergerakan magma yang lebih signifikan.

Visualisasi gunung menunjukkan asap kawah berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang, mencapai ketinggian 20-200 meter dari puncak. Kolom erupsi juga terlihat dengan tinggi 200-500 meter, berwarna putih, kelabu, hingga hitam. Lontaran material erupsi menjangkau jarak 300 meter dari pusat erupsi ke arah tenggara. Erupsi ini juga disertai suara gemuruh lemah hingga sedang.

Data Kegempaan Gunung Ile Lewotolok yang Meningkat Tajam

Data kegempaan menjadi dasar utama dalam penentuan status Gunung Ile Lewotolok. Periode 1 hingga 15 Januari 2026 mencatat angka yang sangat tinggi, termasuk 2.713 kali gempa erupsi dan 4.391 kali gempa embusan. Selain itu, terdapat lima kali gempa guguran dan 834 kali tremor non-harmonik yang mengindikasikan aktivitas internal.

Aktivitas seismik juga mencakup tujuh kali gempa hybrid, 13 kali gempa vulkanik dangkal, serta 25 kali gempa vulkanik dalam. Gempa tektonik lokal tercatat delapan kali, dan gempa tektonik jauh juga delapan kali. Data ini menunjukkan kompleksitas pergerakan magma dan batuan di bawah permukaan gunung.

Tren peningkatan kegempaan terus berlanjut hingga beberapa hari terakhir sebelum status dinaikkan. Pada 16 hingga 18 Januari 2026, mulai pukul 06.00 Wita, tercatat 831 kali gempa erupsi dan 925 kali gempa embusan. Satu kali gempa vulkanik dalam juga terekam, memperkuat indikasi bahwa Gunung Ile Lewotolok berada dalam fase yang sangat aktif.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi