Waspada Gunung Lokon: Kenali Potensi Ancaman Gas Beracun dan Erupsi Freatik yang Mengintai
Badan Geologi mengingatkan warga untuk waspada terhadap potensi bahaya Gunung Lokon di Tomohon, Sulawesi Utara, termasuk ancaman gas beracun dan erupsi freatik yang bisa terjadi tiba-tiba.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara resmi mengeluarkan imbauan kepada seluruh masyarakat, khususnya yang berada di sekitar Kota Tomohon, Sulawesi Utara, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman bahaya dari aktivitas Gunung Lokon. Imbauan ini didasarkan pada hasil pemantauan terbaru yang menunjukkan adanya potensi bahaya yang perlu diwaspadai secara serius. Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid AN, menekankan pentingnya respons cepat dan pemahaman akan risiko yang ada.
Ancaman utama yang diidentifikasi saat ini meliputi kemungkinan keluarnya gas beracun dari kawah sewaktu-waktu, serta potensi erupsi freatik yang dapat terjadi secara mendadak. Erupsi freatik adalah letusan yang disebabkan oleh kontak antara uap panas magma dengan air hidrotermal, yang dapat memicu ledakan uap secara tiba-tiba. Selain itu, warga yang tinggal di sekitar alur sungai yang berhulu dari puncak Gunung Lokon juga diminta mewaspadai bahaya lahar, terutama saat musim penghujan atau hujan deras yang berlangsung lama.
Meskipun potensi bahaya ini ada, tingkat aktivitas Gunung Lokon saat ini masih berada pada Level II atau Waspada. Status ini ditetapkan berdasarkan data pengamatan visual dan instrumental yang komprehensif, serta pertimbangan matang terhadap potensi ancaman bahayanya. Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau untuk terus berkoordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Lokon dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk mendapatkan informasi terkini dan panduan mitigasi yang tepat.
Potensi Bahaya Tersembunyi Gunung Lokon
Gunung Lokon, yang merupakan salah satu gunung api aktif di Sulawesi Utara, memiliki beberapa potensi bahaya yang perlu diketahui dan diwaspadai oleh masyarakat. Berdasarkan laporan dari Badan Geologi, ancaman paling mendesak saat ini adalah kemungkinan pelepasan gas beracun dari kawah. Gas-gas ini, meskipun tidak selalu terlihat, dapat berbahaya jika terhirup dalam konsentrasi tinggi, mengancam kesehatan dan keselamatan warga yang berada terlalu dekat dengan area kawah.
Selain gas beracun, potensi erupsi freatik juga menjadi perhatian serius. Erupsi jenis ini sulit diprediksi karena terjadi akibat interaksi air dengan panas di bawah permukaan, menghasilkan ledakan uap yang tiba-tiba tanpa didahului oleh tanda-tanda vulkanik yang jelas. Kejadian semacam ini dapat melontarkan material padat seperti batuan dan abu, serta menghasilkan aliran piroklastik yang berbahaya di sekitar kawah.
Ancaman lain yang tak kalah penting adalah lahar dingin. Pada musim hujan, material vulkanik lepas yang menumpuk di lereng Gunung Lokon dapat terbawa oleh aliran air hujan membentuk lahar. Aliran lahar ini sangat destruktif, mampu menghanyutkan apa saja yang dilaluinya, termasuk permukiman dan infrastruktur. Masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari puncak gunung diimbau untuk selalu waspada terhadap perubahan cuaca dan debit air sungai.
Status Waspada dan Rekomendasi Jarak Aman
Saat ini, tingkat aktivitas Gunung Lokon berada pada Level II atau Waspada. Penetapan level ini mengindikasikan bahwa terdapat peningkatan aktivitas vulkanik di atas normal, namun belum mencapai fase yang memerlukan evakuasi massal. Meskipun demikian, status Waspada tetap menuntut kewaspadaan tinggi dari masyarakat dan pihak berwenang.
Sebagai bagian dari rekomendasi pada tingkat aktivitas Level II, masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki dilarang keras untuk beraktivitas dan mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari kawah Tompaluan. Zona larangan ini ditetapkan untuk memastikan keselamatan dari potensi bahaya langsung seperti lontaran material pijar atau gas beracun yang mungkin keluar dari kawah. Pelanggaran terhadap rekomendasi ini dapat membahayakan nyawa.
Pemerintah daerah, termasuk BPBD Provinsi Sulawesi Utara dan BPBD kabupaten/kota, diminta untuk senantiasa berkoordinasi erat dengan Pos Pengamatan Gunung Lokon dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM. Koordinasi ini penting untuk memastikan informasi terkini tentang aktivitas gunung dapat disebarluaskan dengan cepat dan akurat kepada masyarakat, serta untuk mempersiapkan langkah-langkah mitigasi yang diperlukan.
Aktivitas Seismik Terkini Gunung Lokon
Pemantauan instrumental yang dilakukan oleh Badan Geologi menunjukkan berbagai aktivitas seismik di Gunung Lokon selama periode 16-31 Agustus 2025. Data ini menjadi salah satu indikator utama dalam menentukan tingkat kewaspadaan gunung api. Tercatat, aktivitas seismik Gunung Lokon menunjukkan pola yang beragam, mengindikasikan pergerakan di bawah permukaan.
Selama periode tersebut, terekam beberapa jenis gempa bumi yang berbeda. Tercatat lima kali gempa embusan, yang seringkali berkaitan dengan pelepasan gas dari dalam kawah. Selain itu, terdeteksi 30 kali gempa vulkanik dangkal dan lima kali gempa vulkanik dalam, yang menunjukkan pergerakan magma atau fluida di kedalaman yang berbeda di bawah tubuh gunung.
Aktivitas tektonik juga terpantau dengan satu kali gempa tektonik lokal dan 73 kali gempa tektonik jauh. Dua gempa terasa dengan skala MMI-I juga dilaporkan, menunjukkan adanya getaran yang dapat dirasakan oleh sebagian kecil masyarakat di sekitar gunung. Data seismik ini secara keseluruhan mendukung penetapan status Waspada dan pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap Gunung Lokon.
Sumber: AntaraNews