Beredar Rekaman CCTV Sebelum Penembakan Prajurit TNI, Pihak Kafe Ngaku Kecolongan Pelaku Bawa Senpi
Dalam rekaman yang beredar, terlihat Sertu MRR bersama sejumlah rekannya memasuki Kafe Panhead Palembang pada Sabtu (16/5) dini hari.
Rekaman kamera pengawas (CCTV) di tempat hiburan malam di Palembang kembali menjadi sorotan publik setelah beredar momen sebelum insiden penembakan yang menewaskan seorang prajurit TNI, Pratu F (23), oleh rekannya sesama prajurit, Sertu MRR (23).
Dalam rekaman yang beredar, terlihat Sertu MRR bersama sejumlah rekannya memasuki Kafe Panhead Palembang pada Sabtu (16/5) dini hari. Di lokasi tersebut, petugas keamanan tampak melakukan pemeriksaan terhadap setiap pengunjung menggunakan metal detector sebagai bagian dari prosedur keamanan.
Namun demikian, insiden tragis tetap terjadi di dalam kafe hingga menyebabkan Pratu F tewas akibat luka tembak.
Sertu MRR Ditetapkan Sebagai Tersangka
Dalam perkembangan kasus, Sertu MRR telah ditetapkan sebagai tersangka bersama seorang warga sipil yang diduga turut membantu menyembunyikan senjata api rakitan yang digunakan dalam peristiwa tersebut.
Kuasa hukum Kafe Panhead Palembang, Andyka Andalan Tama, mengakui adanya kelalaian dalam sistem pengamanan sehingga senjata api rakitan jenis korek api dapat lolos dari pemeriksaan petugas.
"Kami akui kecolongan karena senjata api itu bisa lolos pemeriksaan," ungkap Andyka, Selasa (19/5/2026).
Telah Menerapkan Prosedur
Ia menjelaskan, pihak pengelola sebenarnya telah menerapkan prosedur pemeriksaan ketat terhadap setiap tamu, mulai dari pengecekan identitas hingga barang bawaan. Namun, kejadian ini akan menjadi evaluasi besar bagi manajemen.
Menurutnya, ke depan pihak kafe akan memperketat sistem keamanan dengan menerapkan pengawasan berlapis, termasuk rencana penambahan fasilitas seperti mesin X-Ray untuk meminimalisasi risiko serupa.
"Ke depan pengamanan dilakukan berlapis. Kami tidak ingin kejadian ini terulang lagi," ujarnya.
Berharap Operasional Kafe dapat Kembali Berjalan
Di sisi lain, pihak pengelola juga meminta agar garis polisi di lokasi kejadian segera dicabut oleh Denpom II Sriwijaya. Mereka berharap operasional kafe dapat kembali berjalan karena banyak pekerja yang menggantungkan penghasilan dari usaha tersebut.
"Kami mohon pertimbangannya. Tapi intinya kami mendukung semua proses hukum di Denpom, kami ikuti aturan yang berlaku," kata Andyka.
Saat ini, proses penyidikan atas kasus penembakan tersebut masih terus berjalan di bawah penanganan Denpom II Sriwijaya.