Waspada Potensi Bahaya Gunung Lokon, ESDM Imbau Masyarakat Tomohon Siaga
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengingatkan masyarakat Tomohon untuk mewaspadai potensi bahaya Gunung Lokon, termasuk gas beracun dan erupsi freatik, setelah aktivitasnya menunjukkan status Waspada.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan peringatan penting bagi warga Kota Tomohon, Sulawesi Utara, terkait potensi bahaya Gunung Lokon. Peringatan ini disampaikan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap aktivitas vulkanik gunung api tersebut.
Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa ancaman utama meliputi kemungkinan keluarnya gas beracun yang sewaktu-waktu dari kawah dan erupsi freatik secara tiba-tiba. Warga di sekitar alur sungai juga diminta mewaspadai potensi lahar saat musim hujan.
Laporan aktivitas Gunung Lokon periode 16-31 Maret 2026 menjadi dasar imbauan ini, menunjukkan perlunya kesiapsiagaan menghadapi berbagai skenario bahaya. Status Gunung Lokon saat ini berada pada Level II atau Waspada.
Ancaman Gas Beracun dan Erupsi Freatik dari Gunung Lokon
Gunung Lokon memiliki potensi bahaya berupa gas beracun yang bisa keluar dari kawah sewaktu-waktu, menjadi ancaman serius bagi masyarakat sekitar. Gas ini tidak terlihat namun sangat berbahaya jika terhirup dalam jumlah banyak.
Selain itu, erupsi freatik juga menjadi perhatian utama, yakni letusan yang terjadi akibat kontak uap panas magma dengan air hidrotermal. Erupsi jenis ini dapat terjadi secara tiba-tiba tanpa tanda-tanda yang jelas sebelumnya.
Masyarakat yang tinggal di dekat aliran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Lokon juga diimbau untuk waspada terhadap potensi lahar. Bahaya lahar ini sangat mungkin terjadi saat musim hujan lebat atau hujan deras dengan durasi lama di puncak gunung.
Pemantauan Aktivitas Vulkanik dan Status Waspada
Selama periode 16-31 Maret 2026, pemantauan kegempaan Gunung Lokon mencatat 42 kali gempa embusan dan 43 kali gempa vulkanik dangkal. Ada juga satu kali tremor non-harmonik, tujuh kali gempa vulkanik dalam, tiga kali gempa tektonik lokal, serta 61 kali gempa tektonik jauh.
Pengamatan visual menunjukkan embusan asap putih tipis setinggi maksimum sekitar 25 meter di atas kawah Tompaluan. Meskipun demikian, aktivitas vulkanik berdasarkan data visual dan seismik belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Berdasarkan analisis menyeluruh hingga 31 Maret 2026, tingkat aktivitas Gunung Lokon ditetapkan pada Level II (Waspada). Rekomendasi yang diberikan disesuaikan dengan potensi ancaman bahaya terkini yang mungkin terjadi.
Rekomendasi Keselamatan untuk Masyarakat dan Wisatawan
Masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki diwajibkan untuk mematuhi beberapa rekomendasi demi keselamatan. Salah satunya adalah tidak beraktivitas dan mendekati area dalam radius 1,5 kilometer dari kawah Tompaluan, yang merupakan pusat aktivitas Gunung Lokon.
Apabila terjadi letusan dan hujan abu, masyarakat diimbau untuk tetap berada di dalam rumah guna menghindari paparan langsung. Jika terpaksa berada di luar, penggunaan pelindung seperti masker untuk hidung dan mulut, serta kacamata untuk mata, sangat disarankan.
Selain itu, kewaspadaan terhadap potensi lahar pada sungai-sungai yang berhulu dari puncak Gunung Lokon harus ditingkatkan, terutama saat musim hujan. Hal ini penting untuk meminimalkan risiko bencana dan menjaga keselamatan warga.
Sumber: AntaraNews