Airlangga Bicara Strategi Indonesia Jaga Keamanan Ekonomi di Tengah Konflik Timur Tengah
Hal itu dikatakan Airlangga dalam acara Brussels Economc Security Forum (BESF), di Brussel, Belgia, Jumat (5/6).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan, Pemerintah Indonesia menjadikan ketahanan pangan sebagai salah satu pilar utama dalam menjaga keamanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
"Dari perspektif Indonesia, keamanan ekonomi akan terjamin dengan swasembada pangan, ketahanan pangan serta energi," kata Menko Airlangga dalam acara Brussels Economc Security Forum (BESF), di Brussel, Belgia, Jumat (5/6).
Airlangga mengatakan kemampuan suatu negara dalam memenuhi kebutuhan pangannya sendiri menjadi faktor penting untuk menghadapi berbagai krisis yang terjadi secara bersamaan di berbagai belahan dunia.
Menurutnya, Indonesia telah menyiapkan strategi jangka panjang untuk memperkuat swasembada pangan melalui ketersediaan input produksi, termasuk pupuk dan energi, guna memastikan sektor pertanian tetap berjalan stabil meski dunia menghadapi tekanan ekonomi dan geopolitik.
"Jadi, Indonesia telah membuat strategi untuk menyediakan, misalnya, input untuk ketahanan pangan, pupuk, sehingga kita swasembada pupuk berdasarkan energi domestik seperti gas," ujar dia.
Dalam forum Brussels Economic Security Forum (BESF), Airlangga mengatakan, dengan kapasitas produksi yang dimiliki saat ini, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga mengekspor pupuk ke sejumlah negara tetangga.
Dia menyebut Indonesia telah memasok pupuk ke Australia, Filipina, dan beberapa negara ASEAN lainnya sebagai bagian dari kontribusi menjaga stabilitas pasokan kawasan.
"Jadi, kita tidak mengalami gangguan dalam pasokan pupuk dan kita mampu mendukung negara tetangga dalam mengekspor pupuk kita ke Australia, Filipina, dan negara-negara ASEAN lainnya," kata dia.
Ketahanan Sektor Energi
Kemudian di bidang energi, Airlangga mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia juga mengandalkan sumber daya karbon seperti batu bara, gas, panas bumi, dan tenaga air untuk menjaga biaya listrik tetap terjangkau.
Airlangga juga menjelaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari kawasan Timur Tengah relatif rendah, yakni sekitar 20 persen dari kebutuhan minyak mentah nasional.
Menurutnya, pemerintah telah mengantisipasi potensi gangguan pasokan dengan memperluas sumber energi dari negara lain, termasuk melalui kesepakatan tarif timbal balik dengan Amerika Serikat serta akses pasokan yang dimiliki Pertamina di Venezuela.
"Indonesia hanya bergantung pada Timur Tengah sekitar 20% energinya untuk minyak mentah, tetapi kita sudah mengkompensasinya dengan kesepakatan tarif timbal balik dengan AS di mana kita dapat memperoleh kelebihan energi tambahan dari AS dan Venezuela. Jadi, saya pikir jika perang tidak terlalu lama, hanya empat, lima, enam atau bahkan menjelang akhir tahun, untuk tahun ini Indonesia relatif aman," pungkasnya.
Bahas IEU-CEPA di BESF
Pemerintah Indonesia memastikan perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) telah mencapai tahap akhir dan ditargetkan ditandatangani pada tahun ini.
Kesepakatan dagang telah dinegosiasikan selama lebih dari sembilan tahun itu akan membuka akses pasar lebih luas dengan penghapusan sekitar 98% tarif perdagangan antara Indonesia dan Uni Eropa.
"Perdagangan antara Indonesia dan Eropa belum mencapai potensi maksimalnya karena tarif. Namun dengan implementasi CEPA, di mana 98 persen tarif akan menjadi nol, saya pikir peluang besar akan datang," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam acara Brussels Economc Security Forum (BESF), di Brussel, Belgia, Jumat (5/6).
Airlanggga mengatakan penyelesaian IEU-CEPA menjadi momentum penting bagi hubungan ekonomi Indonesia dan Uni Eropa di tengah meningkatnya ketidakpastian global serta kecenderungan sejumlah negara mengedepankan kebijakan unilateral.
Menurut Airlangga, implementasi perjanjian tersebut akan membawa hubungan perdagangan dan investasi kedua kawasan ke level yang lebih tinggi, sekaligus memperkuat kolaborasi ekonomi antara salah satu negara terbesar di ASEAN dan Uni Eropa.
Perjalanan Panjang Perundingan CEPA
Dalam Brussels Economic Security Forum (BESF), Airlangga menyampaikan bahwa Indonesia dan Uni Eropa telah menempuh perjalanan panjang dalam menyelesaikan perundingan CEPA.
"Dari perspektif Indonesia, Indonesia dan Eropa saling melengkapi. Kita tidak benar-benar bersaing dalam produk yang kita hasilkan masing-masing. Jadi saya pikir dengan itu, perdagangan yang saling melengkapi antara keduanya, saya pikir kita perlu meningkatkannya," ujar dia.
Airlangga menjelaskan, kesepakatan tersebut tidak hanya berfokus pada perdagangan barang dan jasa, tetapi juga menjadi simbol penguatan kerja sama strategis antara Indonesia dan Uni Eropa dalam bidang investasi, standar ekonomi, serta pengembangan rantai pasok global.
Airlangga menilai kehadiran CEPA akan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra penting Eropa di kawasan Indo-Pasifik.