Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan rincian kesepakatan tarif dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, pemerintah AS sempat menetapkan tarif sebesar 32% terhadap Indonesia, yang kemudian diturunkan menjadi 19%.
“AS melakukan penurunan pengenaan tarif resiprokal bagi Indonesia itu seperti yang dituangkan dalam joint statement yang lalu dan berbeda dengan berbagai perjanjian ART dengan negara lain," kata Airlangga dalam konferensi per daring, Jumat (20/2/2026).
Menurutnya, skema yang disepakati Indonesia memiliki karakter berbeda dibandingkan perjanjian perdagangan yang dilakukan AS dengan negara lain.
Advertisement
Airlangga menegaskan, dalam kesepakatan tersebut terdapat sejumlah pengecualian, terutama untuk sektor yang tidak termasuk dalam kerja sama ekonomi.
"Amerika sepakat untuk mencabut pasal-pasal yang non-kerjasama ekonomi,” paparnya.
Poin ini dinilai penting karena memberikan kepastian hukum serta memperjelas ruang lingkup kerja sama yang benar-benar difokuskan pada sektor ekonomi dan perdagangan.
Advertisement
Sebagai bagian dari komitmen timbal balik, Indonesia memberikan tarif 0% untuk sejumlah produk asal AS, terutama di sektor pertanian. Airlangga mencontohkan komoditas seperti gandum (wheat) dan kedelai (soybean) yang selama ini memang diimpor Indonesia.
“Indonesia berkomitmen untuk memberikan fasilitas untuk produk Amerika dengan tarif nol karena utamanya Indonesia mengimpor produk pertanian, wheat, kemudian juga soybean," ungkapnya.
Ia memastikan kebijakan ini tidak akan membebani masyarakat dengan kenaikan harga bahan baku.
"Sehingga masyarakat Indonesia membayar 0% untuk barang yang diproduksi dari noodle ataupun tahu dan tempe, Jadi masyarakat kita tidak dikenakan beban tambahan biaya untuk bahan baku yang kita impor dari Amerika Serikat,” sambungnya.
Dengan skema tersebut, pemerintah berharap stabilitas harga produk turunan seperti mi dan olahan kedelai tetap terjaga.
Advertisement
Sementara itu, dalam pernyataan resmi Gedung Putih yang dimuat di situs resminya, pemerintah AS menyatakan tetap mempertahankan tarif timbal balik sebesar 19% untuk impor dari Indonesia. Namun, sejumlah produk tertentu akan memperoleh tarif timbal balik 0%.
Pemerintah AS juga menyatakan komitmennya untuk membentuk mekanisme khusus yang memungkinkan produk tekstil dan pakaian tertentu dari Indonesia mendapatkan tarif 0% untuk volume impor yang akan ditentukan kemudian.
Penetapan volume tersebut akan didasarkan pada kuantitas ekspor tekstil Indonesia yang diproduksi menggunakan kapas asal Amerika serta bahan baku tekstil serat buatan dari AS.
Kesepakatan ini menandai babak baru hubungan dagang Indonesia–AS, dengan fokus pada keseimbangan kepentingan, perlindungan industri strategis, serta upaya menjaga daya saing produk di pasar global.