Di tengah gempuran gaya hidup digital dan kemudahan fitur belanja, generasi muda Indonesia kini dihadapkan pada tantangan besar dalam mengelola isi dompet. Data industri menunjukkan bahwa 58 persen Gen Z memiliki kecenderungan konsumtif yang tinggi demi mengikuti tren.
Lebih jauh lagi, layanan buy now, pay later (BNPL) alias paylater kini marak digunakan anak muda untuk mendanai liburan (54 persen), fesyen (42 persen), hingga gawai terbaru (43 persen).
Urgensi penguatan literasi keuangan ini kian nyata di tengah tekanan ekonomi global. Survei PwC Voice of the Consumer 2025 mengungkapkan bahwa 50 persen konsumen di Indonesia mulai khawatir terhadap kenaikan biaya hidup, yang memaksa mereka memangkas pengeluaran non-primer.
Sebagai generasi digital native, Gen Z dinilai membutuhkan instrumen edukasi berbasis teknologi yang sejalan dengan semangat Society 5.0 untuk membantu mereka mengatur skala prioritas.
Melihat fenomena tersebut, PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) bersama Prudence Foundation menginisiasi kehadiran Levela, sebuah platform digital edukasi keuangan yang dapat diakses secara gratis.
Ditargetkan untuk kelompok usia 18–25 tahun, platform ini dirancang untuk membekali Gen Z agar lebih bijak, berpikir kritis, serta percaya diri dalam mengambil keputusan finansial di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) saat ini.
Executive Director Prudence Foundation, Nicole Ngeow, menjelaskan bahwa platform baru ini merupakan pengembangan dari program literasi keuangan terdahulu bernama Cha-Ching yang berfokus pada anak-anak.
"Kini kami menyediakan pengetahuan dan perangkat keuangan kepada generasi baru anak muda yang membutuhkan. Langkah ini merupakan komitmen kami bersama para mitra di Indonesia untuk memperkuat ketangguhan finansial populasi muda yang kini memiliki akses sangat luas terhadap layanan keuangan," jelas Nicole.
Advertisement
Sementara itu, Chief Customer & Marketing Officer Prudential Indonesia, Karin Zulkarnaen, menggarisbawahi pentingnya membangun ketahanan finansial sejak dini, terutama ketika seseorang mulai memiliki penghasilan mandiri.
"Lewat modul yang sederhana dan interaktif, kami mendampingi generasi muda membangun kebiasaan perencanaan keuangan yang bijak. Di Indonesia, kami juga berkolaborasi dengan komunitas guru agar edukasi ini dapat menjangkau ekosistem yang lebih luas," ungkap Karin.
Melalui aplikasi seluler dan situs web, platform ini menyajikan enam topik utama yang sangat relevan dengan kebutuhan anak muda, mulai dari strategi menyusun anggaran, mengelola utang, memahami proteksi asuransi, hingga cara menghindari penipuan (fraud) digital. Demi memperluas jangkauan ke berbagai daerah, implementasi program ini turut menggandeng Ruangguru dan Prestasi Junior Indonesia (Junior Achievement Indonesia).
Langkah edukasi digital ini menjadi komitmen berkelanjutan setelah sebelumnya program Cha-Ching sukses menjangkau lebih dari 1 juta siswa sekolah dasar di tanah air. Dengan akses edukasi yang praktis, generasi muda diharapkan mampu lepas dari jebakan konsumerisme dan lebih siap merencanakan masa depan yang mandiri secara finansial.