Kisruh Timur Tengah Bikin Harga Minyak Naik, Bahlil Sebut Negara Kantongi Pendapatan Tambahan

Bahlil mengutarakan, Indonesian Crude Price dipatok di kisaran USD 70 per barel. Namun sekarang harga minyak dunia sudah naik ke level USD 78-80 per barel.

Maulandy Rizki Bayu Kencana
Kisruh Timur Tengah Bikin Harga Minyak Naik, Bahlil Sebut Negara Kantongi Pendapatan Tambahan
Kisruh Timur Tengah Bikin Harga Minyak Naik, Bahlil Sebut Negara Kantongi Pendapatan Tambahan (Merdeka.com)

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyebut bahwa lonjakan harga minyak dunia imbas ketegangan di Timur Tengah punya dampak negatif dan positif bagi Indonesia. 

Di satu sisi, kenaikan harga minyak mentah global bakal membuat subsidi energi bakal semakin bengkak. Namun di sisi lain, negara juga berpotensi mengantongi tambahan pendapatan dari harga minyak mentah Indonesia (ICP). 

Bahlil mengutarakan, Indonesian Crude Price dipatok di kisaran USD 70 per barel. Namun sekarang harga minyak dunia sudah naik ke level USD 78-80 per barel.   

"Ini yang akan kita harus hati-hati, ini berdampak pada kenaikan subsidi yang akan ditanggung oleh negara. Tapi di sisi lain, dengan kenaikan harga ICP, itu juga negara mendapatkan pendapatan," ujar Bahlil di kantornya, Jakarta, Selasa (3/3).

"Karena kan kita berkontribusi kan kurang lebih sekitar 600.000 barel. Nah, selisih ini yang sedang kita hitung," dia menambahkan. 

Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah diminta sangat berhati-hati dalam menghitung dampak eskalasi konflik AS-Iran terhadap negara, termasuk memastikan ketersediaan energi. "Untuk memberikan kepastian kepada pelayanan kepada masyarakat kita," imbuhnya. 

Pada kesempatan sama, Bahlil menyatakan, Dewan Energi Nasional (DEN) telah memetakan strategi untuk mengantisipasi dampak gejolak Timur Tengah terhadap sektor energi nasional. Khususnya untuk mengakali kebutuhan impor minyak dan gas bumi (migas), pasca Selat Hormuz diblokade oleh Iran

Bahlil mengatakan, Selat Hormuz jadi jalur vital perdagangan migas global. Lantaran setiap harinya dilewati oleh kapal pengangkut minyak mentah (crude) yang membawa sekitar 20,1 juta barel per hari (BOPD). 

"Di mana 20,1 juta barel per day itu, termasuk di dalamnya adalah Indonesia melakukan impor crude dari Middle East yang melewati Selat Hormuz," ujar Bahlil.

Adapun porsi impor minyak Indonesia dari Selat Hormuz diklaim hanya sekitar 20-25 persen. Sedangkan sisanya Indonesia membeli minyak impor dari Amerika Serikat (AS) dan Afrika. 

"Jadi secara keseluruhan impor kita untuk crude, 20 sampai 25 persen dari Selat Hormuz, selebihnya tidak dari sana. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brazil," bebernya. 

Sebagai antisipasi, Indonesia bakal mengalihkan impor minyak dari Selat Hormuz ke Amerika Serikat (AS). Terlebih Indonesia telah menandatangani kesepakatan perdagangan resiprokal (ART), untuk meningkatkan impor migas dari Negeri Paman Sam senilai USD 15 miliar per tahun. 

"Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East, sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika. Supaya apa? Ada kepastian ketersediaan crude kita," tegas Bahlil.

Rekomendasi