Ketegangan dengan Iran Memuncak, AS Kurangi Personel di Pangkalan Militer Qatar
AS memutuskan menarik beberapa personel dari pangkalan militernya di Timur Tengah sebagai tindakan pencegahan menyusul meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Amerika Serikat (AS) telah memulai proses penarikan sebagian anggotanya dari pangkalan militer yang berada di Timur Tengah, seiring dengan meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Tindakan ini diambil setelah Iran mengeluarkan ancaman untuk menyerang pangkalan-pangkalan AS jika Washington ikut campur dalam krisis yang terjadi di negara tersebut. Menurut laporan dari Aljazera yang mengutip Reuters pada Rabu (14/1/2026), tiga diplomat mengungkapkan bahwa sejumlah personel di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar, telah diminta untuk meninggalkan lokasi pada malam yang sama.
Pangkalan Udara Al Udeid dikenal sebagai salah satu basis militer terbesar milik AS di kawasan ini dan berfungsi sebagai pusat operasi penting di Timur Tengah. Dalam konteks ini, Pemerintah Qatar mengonfirmasi bahwa penarikan sebagian personel dari pangkalan tersebut merupakan respons terhadap situasi ketegangan regional yang sedang berlangsung.
"Qatar terus mengambil semua langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan keselamatan warga serta penduduk sebagai prioritas utama, termasuk perlindungan infrastruktur penting dan fasilitas militer," ungkap Kantor Media Internasional Qatar.
Selain AS, Inggris juga dilaporkan mengurangi jumlah personelnya di pangkalan udara yang sama di Qatar. Juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa pihaknya tidak akan membagikan rincian mengenai penempatan dan basis militer demi alasan keamanan.
"Inggris selalu mengambil langkah pencegahan untuk memastikan keamanan dan keselamatan personel kami, termasuk menarik personel bila diperlukan," tambah juru bicara tersebut.
Trump Dorong Warga Iran untuk Terus Berdemonstrasi
Pada Selasa, 13 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengajak rakyat Iran untuk terus melanjutkan aksi demonstrasi. Ia menyampaikan bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan," yang dianggap sebagai indikasi bahwa Trump mungkin akan segera memberikan izin untuk melancarkan serangan militer terhadap pemimpin Iran.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menulis, "Warga Iran yang Patriotik, TERUSLAH MELANCARKAN AKSI PROTES -- AMBIL ALIH INSTITUSI KALIAN!!!" Pernyataan ini menunjukkan dukungan Trump terhadap tindakan protes di Iran.
Trump juga menekankan pentingnya mencatat nama-nama para pelaku kekerasan, menjanjikan bahwa mereka akan menanggung konsekuensi yang berat. Ia menambahkan, "Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal ini BERHENTI. BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN."
Ancaman tindakan militer terhadap Iran telah diulang oleh Trump jika pemerintah Iran terus menindas para demonstran. Namun, ketika ditanya tentang maksud dari pernyataannya saat mengunjungi sebuah pabrik otomotif di Michigan, Trump memilih untuk tidak memberikan penjelasan lebih lanjut, mengatakan, "Kalian harus mencari tahu sendiri," seperti yang dilaporkan oleh TIME.
Dimulai Sejak Dua Pekan Lalu
Demonstrasi di Iran dimulai dua minggu yang lalu di bazar-bazar, yang merupakan pusat perdagangan tradisional, di Teheran sebagai respons terhadap inflasi yang sangat tinggi.
Seiring berjalannya waktu, aksi protes ini meluas menjadi gerakan yang lebih besar di berbagai daerah di Iran, menentang Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei beserta rezimnya yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam pada tahun 1979.
Upaya pemadaman internet secara nasional telah menghalangi komunikasi yang efektif dengan dunia luar. Meskipun demikian, beberapa estimasi mengenai jumlah korban jiwa akibat tindakan keras yang dilakukan oleh aparat keamanan menunjukkan angka yang sangat mengkhawatirkan, mencapai ribuan orang.
Sebuah kelompok analis sukarelawan yang bekerja berdasarkan laporan dari rumah sakit di Teheran menginformasikan kepada TIME bahwa jumlah korban tewas secara nasional bisa mencapai 6.000 orang. Foto-foto yang beredar dari dalam Iran menunjukkan sebuah kamar jenazah di wilayah Teheran yang dipenuhi ratusan jenazah hanya dalam satu malam, yaitu dari Kamis malam saja.