Setelah Tertunda, Delegasi AS dan Iran Bertemu di Swiss Hari Ini
Proses negosiasi dijadwalkan akan dimulai di tengah ketegangan terkait pelaksanaan nota kesepahaman yang telah ditandatangani oleh kedua negara awal pekan ini.
Pakistan mengumumkan bahwa perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang sebelumnya ditunda pada Jumat (19/6/2026), akan berlangsung di Swiss pada Minggu (21/6). Sementara itu, Teheran mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Sabtu (20/6) mengonfirmasi bahwa delegasi Iran yang dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, serta sejumlah pejabat senior lainnya, sedang dalam perjalanan menuju Swiss. Media penyiaran pemerintah Iran juga melaporkan bahwa tim negosiasi telah tiba di Zurich pada Sabtu malam.
Di Washington, juru bicara Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa Vance juga telah berangkat ke Swiss pada hari yang sama. Dalam pernyataan yang dikutip oleh Reuters, Vance mengungkapkan bahwa dirinya hanya dapat berada di negara tersebut selama satu atau dua hari, namun berharap dapat mencapai kemajuan terkait gencatan senjata di Lebanon dan isu program nuklir Iran.
Pertemuan ini akan menandai dimulainya negosiasi tingkat teknis menuju kesepakatan final antara AS dan Iran, setelah kedua negara menandatangani nota kesepahaman (MoU) awal pekan ini, yang menyatakan berakhirnya secara permanen operasi militer di semua front, termasuk di Lebanon. MoU tersebut menetapkan bahwa kesepakatan final harus dicapai dalam waktu 60 hari dan dapat diperpanjang dengan persetujuan bersama.
Meskipun demikian, proses menuju meja perundingan setelah penandatanganan MoU tidak berjalan mulus. Putaran pembicaraan yang awalnya dijadwalkan pada Jumat terpaksa ditunda karena Iran gagal mengirimkan delegasinya, mengingat serangan mematikan Israel di Lebanon masih berlangsung. Meski Israel telah menyetujui gencatan senjata baru dengan Hizbullah pada hari yang sama, serangan di Lebanon tetap berlanjut hingga Sabtu.
Menurut laporan dari pertahanan sipil dan media pemerintah Lebanon, sedikitnya 32 orang dilaporkan tewas akibat serangan tersebut. Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan bahwa serangan Israel pada Jumat menewaskan 83 orang dan melukai 141 lainnya.
Selat Hormuz telah ditutup
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan pada hari Sabtu bahwa mereka akan kembali menerapkan pembatasan di Selat Hormuz. Langkah ini diambil sebagai reaksi terhadap apa yang mereka sebut sebagai "kejahatan" Israel di Lebanon dan pelanggaran komitmen Amerika Serikat dalam mewujudkan gencatan senjata. IRGC mengingatkan kepada para awak kapal agar tidak mendekati jalur perairan strategis tersebut, dengan pernyataan bahwa keselamatan mereka akan terancam jika tetap melintas.
Menurut Mohammad Mokhber, penasihat pemimpin tertinggi Iran, arus energi di Timur Tengah berpotensi terhenti jika kesepakatan antara AS dan Iran "hanya sebatas kesepakatan di atas kertas".
Di sisi lain, militer AS mengklaim bahwa pasukannya masih aktif beroperasi di sekitar Selat Hormuz dan tetap siaga untuk memastikan semua aspek kesepakatan dengan Iran dipatuhi. Militer AS juga menyebutkan bahwa pada hari Sabtu, sebanyak 55 kapal komersial telah melintasi selat tersebut dan jalur pelayaran yang aman masih "tetap terjaga".
"Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz," ungkap Kapten Tim Hawkins, juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM).
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa selat tersebut akan tetap bebas dari pungutan Iran selama dan setelah periode negosiasi 60 hari. Namun, dia juga mengancam akan memberlakukan pungutan AS di jalur perairan itu jika kesepakatan final tidak tercapai.
Iran akan Bersikap Tegas dan Serius
Menurut pemerintah Pakistan, sejumlah pejabat negara, termasuk Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Panglima Angkatan Darat Marsekal Lapangan Asim Munir, akan berpartisipasi dalam perundingan antara AS dan Iran yang dijadwalkan pada hari Minggu di kawasan resor pegunungan Burgenstock, Swiss.
Koresponden Al Jazeera Osama Bin Javaid melaporkan bahwa telah terjadi aktivitas diplomatik yang intensif menjelang negosiasi resmi ini. Dalam konteks ini, Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani dilaporkan telah mengadakan beberapa pertemuan untuk memfasilitasi proses tersebut. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar juga terlibat dalam pembicaraan di Mesir, dan Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi melakukan perjalanan ke Iran.
Baghaei mengisyaratkan bahwa kemajuan dalam perundingan mungkin akan terbatas sampai Iran merasa bahwa AS benar-benar memenuhi kewajibannya dalam kesepakatan sementara yang telah disepakati. Dalam pernyataan yang disiarkan oleh IRIB, Baghaei menekankan bahwa Iran akan bersikap tegas dan serius dalam menuntut pemenuhan kewajiban tersebut, mengingat "kegagalan masa lalu" AS dalam menghormati komitmennya.
Koresponden Al Jazeera James Bays, yang melaporkan dari Burgenstock, mencatat bahwa ada indikasi bahwa "situasi bergerak mundur dibanding saat MoU ditandatangani". Hal ini merujuk pada berlanjutnya pengeboman Israel di wilayah selatan Lebanon, yang dianggap Iran sebagai pelanggaran serius terhadap MoU.
James Bays menambahkan bahwa respons awal Iran adalah menunda kehadiran mereka dalam putaran perundingan yang awalnya dijadwalkan pada hari Jumat. Kini, mereka menggunakan instrumen tekanan yang lebih besar dengan menutup Selat Hormuz.
"Iran meyakini taktik ini akan membantu mengembalikan situasi ke jalurnya terkait Lebanon selatan," tambahnya. Abdulla Banndar al-Etaibi, seorang profesor di Qatar University, menyatakan bahwa Iran sedang "memberikan tekanan maksimum kepada Presiden Trump dan para mediator dengan menjadikan Hormuz sebagai alat tawar untuk Lebanon."
Ia menegaskan, "Mereka ingin seluruh pertempuran di Lebanon dihentikan agar Selat Hormuz kembali dibuka," ujarnya kepada Al Jazeera.