Rekam Jejak Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran Sahabat Israel yang Ngebet Rebut Kekuasaan Ayatollah Ali Khamenei
Reza Pahlavi, menyatakan kesiapannya menggantikan Khamenei sebagai pemimpin sementara, namun rekam jejaknya menuai kontroversi.
Reza Pahlavi, putra dari Shah Mohammad Reza Pahlavi penguasa terakhir Iran sebelum revolusi 1979, menyatakan kesiapannya memimpin Iran sebagai pemimpin sementara.
Ia dengan jelas ingin menggantikan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran saat ini. Pahlavi, yang telah hidup di pengasingan selama 46 tahun, kini mencari dukungan internasional.
Secara khusus, Pahlavi meminta dukungan dari negara-negara Barat untuk membantu menggulingkan rezim Khamenei. Ia meyakini bahwa situasi politik di Iran saat ini sangat mendukung perubahan rezim. Konflik baru-baru ini antara Iran dan Israel semakin memperburuk situasi, membuka peluang baru.
Namun, tawaran Pahlavi untuk memimpin transisi menuju pemerintahan demokratis tidak diterima tanpa syarat. Ia menghadapi kritik dari berbagai kalangan, termasuk aktivis oposisi Iran. Banyak yang menentang kembalinya monarki, mengingat sejarah pemerintahan otoriter ayahnya.
Siapa Reza Pahlavi?
Reza Pahlavi lahir di Teheran, Iran pada 30 Oktober 1960 dan merupakan putra sulung raja Dinasti Pahlavi dan syah terakhir monarki Iran, Mohammad Reza Shah Pahlavi. Reza Pahlavi diangkat jadi Putra Mahkota pada 1967 saat ayahnya dinobatkan sebagai raja.
Pada tahun 1978 di saat usianya menginjak 17 tahun, Reza Pahlavi meninggalkan Iran untuk mengikuti latihan jet tempur di Angkatan Udara Amerika Serikat. Ia sempat menjalani pendidikan militer di USAF Academy (Angkatan Udara Amerika Serikat) di Colorado, namun tidak menyelesaikannya secara penuh karena alasan politik dan keamanan.
Namun protes besar-besaran dan revolusi Islam terjadi di Iran hingga membuat keluarganya meninggalkan negaranya pada Januari 1979. Kekuasaan ayahnya digulingkan oleh Revolusi Islam yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini (Imam Khomeini).
Setelah keluar dari pendidikan angkatan udara, ia menekuni studi ilmu politik dan hubungan internasional. Pendidikannya itu yang membuat Reza Pahlavi aktif sebagai aktivis politik yang menentang rezim Republik Islam Iran.
Ia lantang dalam menyuarakan perubahan sistem pemerintahan di Iran melalui cara damai dan demokratis, serta mendorong referendum untuk menentukan bentuk negara (monarki konstitusional atau republik sekuler).
Reza Pahlavi akhirnya menjadi salah satu tokoh oposisi rezim Islam Iran hingga lebih dari empat dekade setelah Revolusi Islam. Ia banyak menjalin hubungan dengan kelompok oposisi di dalam dan luar Iran.
Memanasnya situasi Iran akibat perang dengan Israel, membuat Pahlavi semakin lantang menyuarakan pergantian rezim. Ia bahkan mendukung serangan militer Israel ke Iran karena akan mendorong Khamenei ke ambang kehancuran.
Kontroversi Kedekatan Reza Pahlavi dengan Israel
Kedekatan Reza Pahlavi dengan Israel menjadi sumber kontroversi utama. Kunjungannya ke Israel bersama Yasmine, istrinya pada April 2023 memperjelas dukungannya terhadap Israel dalam konflik dengan Palestina.
Dalam kunjungan tersebut, istri Pahlavi mendapat sambutan hangat dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Isaac Herzog. Bahkan ia juga sempat berdoa di Tembok Ratapan, dan sengaja menghindari Masjid Al-Aqsa.
Cara tersebut disebut sebagai isyarat simbolik dan bentuk dukungan politik terhadap posisi Israel atas Yerusalem. Banyak pihak di Iran menganggap dukungannya terhadap Israel sebagai strategi politik untuk mendapatkan dukungan internasional.
Dukungan ini dipandang sebagai upaya untuk melemahkan pemerintahan Iran saat ini. Namun, hal ini juga memicu reaksi keras dari dalam negeri. Sentimen anti-Israel di Iran sangat kuat, sehingga tindakan Pahlavi dianggap sebagai pengkhianatan.
Meskipun demikian, Pahlavi berpendapat bahwa aliansi dengan Israel penting untuk mencapai tujuannya. Ia percaya bahwa dukungan Israel dapat memberikan tekanan tambahan pada rezim Khamenei. Strategi ini, bagaimanapun, sangat berisiko dan dapat memperburuk posisinya di mata rakyat Iran.
Pahlavi juga sempat bertemu dengan Mark Dubowitz dari FDD, dan menghadirkan dua tokoh kontroversial, Amir Etemadi dan Saeed Ghasseminejad. Dua sosok itu dikenal anti-Palestina dan advokasi untuk sanksi dan aksi militer terhadap Iran. Bahkan, mereka pernah dikenal akan slogan “Death to Palestine”.
Reaksi Oposisi Iran Terhadap Isu Kembalinya Monarki
Banyak aktivis oposisi Iran menentang gagasan kembalinya monarki. Mereka tidak ingin mengulangi sejarah pemerintahan otoriter yang pernah dialami di bawah Shah. Trauma masa lalu masih membekas dalam ingatan kolektif bangsa Iran.
Oposisi ini berpendapat bahwa Iran harus bergerak maju menuju sistem pemerintahan yang lebih demokratis. Mereka menginginkan pemerintahan yang inklusif dan representatif, bukan kembali ke sistem monarki yang dianggap usang.
Meskipun Pahlavi menawarkan diri sebagai pemimpin transisi, banyak yang meragukan komitmennya terhadap demokrasi. Mereka khawatir bahwa ia akan mencoba untuk mempertahankan kekuasaan setelah rezim Khamenei digulingkan. Keraguan ini menjadi penghalang utama bagi Pahlavi untuk mendapatkan dukungan luas dari oposisi.
Dukungan Internasional yang Dibutuhkan Reza Pahlavi
Reza Pahlavi sangat membutuhkan dukungan internasional untuk mewujudkan ambisinya. Ia secara khusus meminta bantuan dari negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Dukungan ini diharapkan dapat memberikan tekanan politik dan ekonomi pada rezim Khamenei.
Namun, dukungan internasional tidak datang dengan mudah. Banyak negara yang enggan terlibat dalam urusan internal Iran. Mereka khawatir bahwa intervensi asing dapat memperburuk situasi dan memicu konflik yang lebih luas.
Pahlavi harus meyakinkan negara-negara Barat bahwa ia adalah pilihan yang tepat untuk memimpin Iran menuju masa depan yang lebih baik. Ia harus menunjukkan komitmennya terhadap demokrasi dan hak asasi manusia.
Tanpa dukungan internasional yang kuat, peluangnya untuk menggulingkan rezim Khamenei sangat kecil.
Tantangan Reza Pahlavi dalam Merebut Kekuasaan
Reza Pahlavi menghadapi banyak tantangan dalam upayanya merebut kekuasaan di Iran. Ia harus mengatasi oposisi dari dalam negeri, meyakinkan negara-negara Barat untuk memberikan dukungan, dan menghadapi kekuatan rezim Khamenei yang masih kuat.
Selain itu, Pahlavi harus mengatasi citra masa lalu keluarganya yang otoriter. Ia harus membuktikan bahwa ia berbeda dari ayahnya dan berkomitmen terhadap demokrasi. Tugas ini tidak mudah, mengingat sejarah panjang pemerintahan monarki di Iran.
Meskipun demikian, Pahlavi tetap optimis tentang masa depan Iran. Ia percaya bahwa rakyat Iran menginginkan perubahan dan bahwa ia dapat menjadi pemimpin yang mereka butuhkan. Hanya waktu yang akan menentukan apakah ia berhasil mewujudkan visinya atau tidak.