Iran Serang 18 Pangkalan Militer AS di Kuwait dan Bahrain
Klaim serangan ini menjadikan Kuwait dan Bahrain sebagai pusat ketegangan yang baru antara Amerika Serikat dan Iran.
Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah semakin tegang setelah terjadinya serangkaian aksi militer yang saling dibalas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam dua hari terakhir. Eskalasi terbaru dimulai pada Rabu (10/6), ketika AS melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut operasi ini sebagai respons terhadap "agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut." Tidak lama setelah pengumuman tersebut, Kantor Berita Mehr melaporkan adanya ledakan baru di Bandar Abbas dan Sirik, serta ledakan lainnya di dekat Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan.
Pada hari yang sama, Mehr melaporkan bahwa ledakan di luar Kota Fars disebabkan oleh aktivasi sistem pertahanan udara. Aktivitas pertahanan udara juga terdengar di wilayah barat Teheran, sementara ledakan terpisah dilaporkan terdengar dari kejauhan di dekat Pulau Kish.
Kemudian, pada Kamis (11/6), Iran mengumumkan bahwa 18 target militer utama AS di Kuwait dan Bahrain menjadi sasaran serangan. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan bahwa target-target tersebut mencakup Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Ahmad Al Jaber di Kuwait, serta Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain.
Secara terpisah, militer Iran juga menyebut telah menargetkan sistem Patriot dan fasilitas komunikasi milik Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.
Militer Iran menyatakan bahwa drone bunuh diri telah diluncurkan ke arah Armada Kelima AS sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai serangan AS terhadap wilayah selatan Iran. Dengan meningkatnya ketegangan ini, situasi di kawasan tersebut semakin tidak stabil dan memerlukan perhatian dari komunitas internasional.