AS Klaim Apache Ditembak Jatuh, Serangan Balasan ke Iran Mencuat
Serangan terbaru dapat mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang telah disepakati antara Amerika Serikat dan Iran sejak bulan April yang lalu.
Presiden Donald Trump telah memberikan izin untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah mengklaim bahwa negara tersebut telah menembak jatuh sebuah helikopter militer Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz.
Dalam sebuah unggahan di media sosial pada Selasa (9/6), Trump menuliskan, "Saya baru saja diberi tahu oleh Militer Hebat kita bahwa tadi malam pihak Iran menembak jatuh salah satu Helikopter Apache kita yang sangat canggih saat sedang berpatroli di atas Selat Hormuz."
Ia menambahkan bahwa meskipun kedua pilot selamat, AS harus memberikan respons terhadap serangan tersebut.
Tak lama setelah pernyataan Trump, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) yang bertanggung jawab atas operasi militer di Timur Tengah mengumumkan bahwa mereka telah melanjutkan serangan terhadap Iran, menyebutnya sebagai tindakan pembelaan diri.
Ledakan dilaporkan terjadi di kota pelabuhan Sirik, Iran, serta beberapa lokasi lain di sekitar Selat Hormuz.
CENTCOM mengonfirmasi bahwa serangan tersebut diluncurkan sekitar pukul 17.00 waktu Pantai Timur AS (21.00 GMT) dan menyatakan, "Misi ini merupakan respons yang proporsional terhadap agresi Iran yang tidak dapat dibenarkan," merujuk pada insiden jatuhnya helikopter tersebut.
Serangan terbaru ini berpotensi merusak gencatan senjata yang telah ada sejak 8 April, yang menghentikan konflik antara AS dan Israel melawan Iran, meskipun kesepakatan tersebut sebelumnya sudah berada di ambang kehancuran akibat bentrokan yang terus terjadi.
CENTCOM juga mengungkapkan bahwa penyebab insiden tersebut masih dalam penyelidikan.
"Para prajurit berhasil dievakuasi dengan selamat dalam waktu sekitar dua jam dan berada dalam kondisi stabil," ujarnya.
Sementara itu, Iran belum memberikan konfirmasi atau bantahan terkait klaim penembakan helikopter tersebut.
Dalam tanggapan yang dianggap sebagai respons terhadap pernyataan Trump, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyerukan agar pasukan AS segera meninggalkan wilayah tersebut.
"Selat Hormuz BUKAN perairan internasional, melainkan wilayah yang dimiliki bersama oleh Iran dan Oman, serta berada ribuan mil dari pantai AS. Batas-batas maritim sangat jelas," terang dia.
Araghchi juga menekankan bahwa Angkatan Bersenjata Iran selalu siaga terhadap pelanggaran wilayah dan memperingatkan bahwa pasukan asing yang berada di dekat wilayah Iran akan menghadapi risiko karena kesalahan mereka sendiri.
Setelah serangan AS dilancarkan, Araghchi kembali memperingatkan bahwa Iran sedang mempersiapkan balasan dan mendesak agar pasukan AS meninggalkan kawasan. Ia menulis di media sosial,
"Meskipun mengalami kekalahan di medan perang, AS memilih untuk menguji tekad kami. Angkatan Bersenjata kami yang kuat tidak akan membiarkan satu pun serangan atau ancaman tanpa balasan. Tinggalkan kawasan kami jika Anda ingin aman."
Iran Siap Perang
Terjadi eskalasi terbaru setelah militer Amerika Serikat mengungkapkan bahwa mereka telah menghancurkan sebuah kapal tanker minyak Iran di Teluk pada hari Senin (8/6).
Dalam beberapa hari terakhir, ketegangan antara Iran dan Israel kembali meningkat, di mana Iran menembakkan rudal ke arah Israel sebagai reaksi terhadap pengeboman di Beirut.
Israel kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke wilayah Iran, meskipun Presiden Trump telah meminta semua pihak untuk menahan diri.
Sejak gencatan senjata yang mulai berlaku pada bulan April lalu, kesepakatan tersebut terus berada dalam tekanan akibat serangkaian serangan dan aksi balasan yang terjadi di kawasan tersebut.
Awal bulan ini, militer AS meluncurkan serangan ke Pulau Qeshm milik Iran, yang direspons oleh Teheran dengan peluncuran rudal ke sebuah pangkalan militer AS di Kuwait.
Sebuah drone juga menyerang bandara internasional Kuwait dan menewaskan satu orang, meskipun Iran membantah keterlibatannya dalam insiden tersebut.
Trump sebelumnya meremehkan berbagai insiden kekerasan yang terjadi dan menegaskan bahwa kesepakatan antara Washington dan Teheran hampir tercapai meskipun ketegangan masih berlangsung.
Namun, serangan langsung Iran terhadap pasukan AS menandai peningkatan signifikan dalam eskalasi konflik yang ada.
Pejabat senior di Teheran secara konsisten mengklaim bahwa blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon adalah pelanggaran terhadap gencatan senjata yang ditetapkan pada 8 April.
Beberapa menit sebelum Trump menyampaikan klaim mengenai helikopter pada hari Senin, ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator negara itu, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengisyaratkan bahwa Iran tidak takut untuk kembali berperang.
"Kami lebih memilih bahasa diplomasi, tetapi kami jauh lebih fasih dalam bahasa lainnya. Langgar komitmen Anda dan kami akan beralih pada apa yang paling kami kuasai," tulis Ghalibaf di platform media sosial X.
"Anda menunggangi kuda yang Anda pelana sendiri!"