Iran Tuding AS Langgar Gencatan Senjata, Konflik di Timur Tengah Semakin Memanas
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa terjadi ledakan di kota pelabuhan Bandar Abbas, yang terletak dekat dengan Selat Hormuz, semalam.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menuduh Amerika Serikat telah melanggar gencatan senjata melalui serangan terbaru di bagian selatan negara tersebut. Sementara itu, serangan Israel di Lebanon selatan menyebabkan banyak korban jiwa dan memperburuk situasi keamanan di wilayah tersebut.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa militer AS telah melakukan 'pelanggaran berat' terhadap gencatan senjata dalam 48 jam terakhir dengan serangan yang terjadi di Provinsi Hormozgan, sebuah wilayah strategis yang dekat dengan Selat Hormuz.
"Iran tidak akan membiarkan kejahatan apa pun tanpa balasan dan tidak akan ragu membela bangsa Iran," tegas pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Iran, yang tidak merinci langkah balasan yang akan diambil, seperti dikutip dari Straits Times pada Rabu (27/5).
Sebelumnya, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan telah melancarkan serangan baru terhadap target-target militer Iran di selatan negara tersebut.
Juru bicara CENTCOM, Kapten Tim Hawkins, menyatakan bahwa operasi tersebut dilakukan sebagai "serangan bela diri" untuk melindungi pasukan AS dari potensi ancaman yang berasal dari Iran.
Menurut Hawkins, target serangan termasuk lokasi peluncuran rudal dan kapal yang diduga berencana untuk menempatkan ranjau laut. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa ledakan terjadi semalam di kota pelabuhan Bandar Abbas, yang terletak dekat Selat Hormuz. Garda Revolusi Iran juga mengklaim telah menembak jatuh drone AS yang memasuki wilayah udaranya dan menyerang jet tempur F-35.
Ketegangan yang meningkat ini langsung memicu gejolak di pasar energi global, dengan harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari tiga persen setelah pengumuman serangan terbaru dari AS. Dalam situasi yang penuh ketegangan ini, China mendesak semua pihak untuk menghormati gencatan senjata dan menyelesaikan konflik melalui jalur diplomatik.
"Kami mendesak pihak-pihak terkait untuk memenuhi komitmen gencatan senjata dan menyelesaikan perselisihan melalui cara damai," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning.
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, dalam pernyataannya saat perayaan Idul Adha, menegaskan bahwa pengaruh AS di Timur Tengah semakin melemah. Ia juga memperingatkan negara-negara di kawasan agar tidak menyediakan pangkalan militer yang dapat digunakan oleh Washington untuk melancarkan serangan.
Peluang Kesepakatan
Walaupun kondisi semakin tegang, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa kemungkinan untuk mencapai kesepakatan damai masih ada. Ia menekankan bahwa Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas dunia, akan tetap terbuka "dengan satu atau lain cara".
Konflik ini juga meluas ke wilayah Lebanon selatan. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan Israel pada 26 Mei telah mengakibatkan kematian sedikitnya 31 orang, termasuk empat anak. Iran menegaskan bahwa setiap kesepakatan damai dengan Amerika Serikat harus mencakup Lebanon. Gencatan senjata yang diberlakukan di negara tersebut sejak 17 April dinilai tidak efektif dalam menghentikan pertempuran antara Israel dan kelompok Hizbullah.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bahkan berkomitmen untuk "menghancurkan" Hizbullah. Seorang pejabat militer Israel mengungkapkan bahwa operasi darat kini diperluas lebih dalam ke wilayah Lebanon. Di tengah situasi ini, usaha diplomatik masih terus dilakukan. Televisi pemerintah Iran, IRIB, melaporkan bahwa delegasi tinggi Teheran baru saja kembali dari Qatar setelah melakukan pembicaraan selama dua hari mengenai kerangka perdamaian.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam percakapan telepon dengan Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, menyatakan bahwa Iran siap untuk mencapai "kerangka kerja saling menghormati" demi mengakhiri perang. Di sisi lain, kantor berita Tasnim melaporkan bahwa Iran sedang mempersiapkan kesepakatan 14 poin yang mencakup pembebasan aset Iran yang dibekukan senilai sekitar 24 miliar dolar AS. Sementara itu, situasi domestik di Iran juga mulai menunjukkan perubahan setelah hampir tiga bulan pembatasan internet nasional.
Pemantau internet, NetBlocks, melaporkan bahwa konektivitas internet di Iran mulai pulih sebagian pada 26 Mei, mengakhiri salah satu pemadaman internet nasional terpanjang dalam sejarah modern negara tersebut.