Iran Tegaskan Mustahil Kembali Buka Selat Hormuz di Tengah Pelanggaran Gencatan Senjata Terang-terangan

Konflik dilancarkan Trump dan Israel terhadap Iran belum berhasil mencapai tujuan diinginkan, bahkan justru menimbulkan ketidakstabilan di seluruh dunia.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida - Reporter
Iran Tegaskan Mustahil Kembali Buka Selat Hormuz di Tengah Pelanggaran Gencatan Senjata Terang-terangan
Kapal-kapal berlayar melintasi Teluk Arab menuju Selat Hormuz saat matahari terbenam di Uni Emirat Arab, Senin (23/3/2026). (Dok. AP/File) (© 2026 Liputan6.com)

Iran telah menyita dua kapal di Selat Hormuz di tengah ketegangan meningkat dengan Amerika Serikat (AS). Kedua negara kini memberlakukan blokade di jalur pelayaran yang penting ini, yang pada masa damai dilalui oleh sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Kebuntuan yang terjadi di selat tersebut menimbulkan keraguan mengenai kelanjutan perundingan damai yang sebelumnya terhenti.

Mohammad Bagher Ghalibaf, ketua parlemen sekaligus kepala negosiator Iran, menyatakan pada Rabu (22/4) malam bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz "mustahil" selama AS dan Israel terus melakukan pelanggaran gencatan senjata dengan terang-terangan.

Dalam pernyataannya, Ghalibaf menyebutkan bahwa tindakan AS, seperti "blokade laut", "penyanderaan ekonomi dunia", dan "provokasi perang oleh zionis" menghalangi upaya untuk mencapai perdamaian.

Dia menambahkan dalam unggahan di platform X bahwa "AS dan Israel tidak mencapai tujuan mereka melalui agresi militer dan juga tidak akan mencapainya melalui intimidasi."

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengonfirmasi bahwa mereka telah menghentikan dua kapal yang berusaha melintasi Selat Hormuz dan menggiringnya ke perairan Iran.

Menurut laporan dari kantor berita Iran, Tasnim, IRGC menuduh kedua kapal, MSC Francesca berbendera Panama dan Epaminondas berbendera Liberia, berusaha keluar dari Selat Hormuz secara diam-diam.

Kapal Epaminondas, yang dioperasikan oleh perusahaan Yunani, telah dikonfirmasi oleh menteri luar negeri Yunani sebagai kapal kargo yang diserang. Sebuah lembaga pemantau keamanan maritim yang berbasis di Inggris melaporkan adanya serangan terhadap kapal-kapal di jalur perairan tersebut.

Salah satu insiden melibatkan kapal yang didekati oleh kapal bersenjata Iran yang kemudian melepaskan tembakan, menyebabkan kerusakan berat pada anjungan kapal. Penyitaan ini menjadi yang pertama kalinya Iran mengambil alih kapal sejak awal perang yang dimulai pada 28 Februari, dan terjadi setelah AS menembaki serta menyita kapal kargo Iran dalam operasi lain di Samudra Hindia.

Dampak perang dipimpin Trump memiliki konsekuensi signifikan

Presiden AS Donald Trump belum berhasil mengatasi krisis ekonomi dan diplomatik global yang muncul akibat perang yang dia luncurkan. Perang tersebut tidak hanya gagal menggulingkan rezim anti-AS, tetapi juga tidak menghentikan ambisi nuklir Iran. Sebaliknya, konflik ini menyebabkan penutupan Selat Hormuz, yang berujung pada krisis ekonomi global yang semakin parah.

Dalam upaya menghadapi tekanan untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut, Trump mencoba menekan Iran agar mengakhiri blokadenya, namun upaya tersebut tidak berhasil. Akibatnya, ia memutuskan untuk memberlakukan blokade versi AS sendiri yang berdampak pada kenaikan harga bahan bakar dan menimbulkan ancaman inflasi jangka panjang.

Negara-negara Asia yang sangat bergantung pada minyak dari Teluk Persia merasakan dampak yang signifikan, mengalami kelangkaan bahan bakar, pupuk, dan bahan baku lainnya yang biasanya melewati selat tersebut. Meskipun negara-negara Barat lebih terlindungi, mereka tetap merasakan efek dari krisis ini. Jerman, sebagai ekonomi terbesar di Eropa, terpaksa memangkas proyeksi pertumbuhan untuk tahun 2026 menjadi 0,5 persen.

Sementara itu, Yunani mengumumkan tambahan bantuan sebesar 500 juta euro untuk mendukung rumah tangga dan petani. Perdana Menteri Yunani, Kyriakos Mitsotakis, menyatakan, "Ekonomi nasional masih bertahan dan bahkan lebih baik dari perkiraan. Namun, tekanan dari harga kebutuhan sehari-hari, biaya anak-anak, bahan bakar yang lebih mahal, dan perawatan lansia masih dirasakan."

PBB mengajak semua pihak untuk memberikan bantuan kepada para pelaut

Sementara itu, kepala badan maritim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meminta bantuan untuk ribuan pelaut yang terjebak di Teluk akibat penutupan Selat Hormuz. Organisasi Maritim Internasional (IMO) melaporkan bahwa sekitar 20.000 pelaut dan 2.000 kapal terdampar di kawasan tersebut. Pada akhir pekan lalu, Iran mengungkapkan bahwa mereka telah menerima proposal baru dari Washington, tetapi juga menunjukkan bahwa perbedaan antara kedua pihak masih sangat signifikan.

Pakistan berperan sebagai mediator dalam situasi ini, namun sebuah hotel mewah di Islamabad yang disiapkan untuk perundingan tetap kosong pada hari Rabu. Iran tidak pernah secara terbuka menerima undangan untuk melanjutkan perundingan putaran kedua, sementara delegasi AS yang dipimpin oleh wakil presiden JD Vance tidak pernah meninggalkan Washington. Seorang pejabat Pakistan yang mengetahui persiapan tersebut menyatakan kepada Reuters, "Kami sudah menyiapkan segalanya. Kami benar-benar siap untuk pembicaraan ini. Sejujurnya, ini merupakan kemunduran yang tidak kami perkirakan karena pihak Iran tidak pernah menolak dan sejak awal bersedia untuk hadir serta ikut serta, dan hingga kini tetap demikian."

Pada masa jabatan pertamanya, Trump menarik AS dari kesepakatan yang membatasi program pengayaan nuklir Iran. Ia tidak setuju dengan perjanjian tersebut yang ditandatangani oleh Barack Obama, dan mendapat tekanan dari Israel, musuh utama Iran, untuk menjauhi jalur diplomasi. Selama bertahun-tahun, Israel telah mendorong AS untuk menyerang Iran, namun tidak ada pemerintahan di Washington yang menyetujuinya karena dianggap kontraproduktif dan berisiko memicu kekacauan seperti yang terjadi saat ini.

Rekomendasi