Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bukti bahwa pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 bukan hanya sekadar angka di atas kertas. Purbaya mengaku telah memantau langsung hasil hitungan Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut dengan mendatangi pasar.
"Saya juga sering ke pasar, bukan mau jalan-jalan, tapi mau lihat masyarakat belanjanya di mana sih. Ramai terus di mana-mana. Di Yogya ramai, di Surabaya ramai, di Bandung ramai. Di Jakarta juga saya jalan-jalan ke mall ramai, di pasar tradisional juga ramai," ujarnya saat ditemui di Kantor Pusat DJP, Jakarta, Rabu (27/5/2026).
"Mungkin kalau dibilang ada tempat yang enggak ramai, pasti ada. Apalagi kalau diambil fotonya jam 2 malam," kata Purbaya.
Guna memvalidasi angka pertumbuhan ekonomi, Sang Bendahara Negara juga melakukan pengecekan ulang angka penjualan mobil di kuartal I 2026 sebesar 209.021 unit (naik 1,7 persen YoY).
Juga angka penjualan motor di periode yang sama sebesar 1,6 juta unit (turun 4,11 persen), konsumsi masyarakat dengan pengeluaran mencapai Rp3.363,1 triliun (tumbuh 5,52 persen), hingga konsumsi listrik yang tumbuh 2,1 persen secara tahunan.
"Itu enggak otomatis sama dengan PDB-nya. Tapi sebagai checkpoint, betul enggak angka itu? Ketika tentunya naiknya kencang semua, berarti seperti itu," ujar Purbaya.
"Ya, itu memang di atas kertas, tapi kan kertasnya ada data-data. Itu kan BPS mengumpulkan data dari mana-mana, kan?" ujar dia.
Hanya saja, Purbaya mengakui bahwa hitung-hitungan ini belum sempurna seutuhnya. Kendati begitu, ia mengklaim bahwa hasil tersebut bisa jadi tolak ukur bahwa ekonomi Indonesia sudah jauh melesat dibanding periode-periode sebelumnya.
"Ekonomi kan mungkin gak belum sempurna 100 persen. Ini kan kita baru mulai bangkit dari pertumbuhan yang lama ke pertemuan yang lebih cepat. Perlu waktu menyebarkan ekonomi secara merata," tutur dia.