Keluar dari Tekanan Keuangan Generasi Sandwich, Ini Kuncinya

Fenomena yang populer dengan sebutan sandwich generation (generasi terhimpit) ini membuat banyak keluarga menghadapi tantangan keuangan yang kian kompleks.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Keluar dari Tekanan Keuangan Generasi Sandwich, Ini Kuncinya
Besar kecilnya penghasilan bukan masalah pokok dalam keuangan, melainkan bagaimana Anda mengelola keuangan.

Bagi sebagian besar masyarakat usia produktif di Indonesia, menjadi tulang punggung keluarga tidak sekadar mencukupi kebutuhan pasangan dan anak. Banyak di antara mereka yang juga harus menanggung biaya hidup orang tua yang memasuki usia lanjut, hingga anggota keluarga lainnya.

Fenomena yang populer dengan sebutan sandwich generation (generasi terhimpit) ini membuat banyak keluarga menghadapi tantangan keuangan yang kian kompleks, terutama di tengah membumbungnya biaya hidup, pendidikan, dan kesehatan.

Tantangan ini kian nyata seiring perubahan struktur demografi Indonesia yang mulai memasuki fase struktur penduduk tua (ageing population). Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa 82,96 persen rumah tangga lansia masih mengandalkan penghasilan dari anggota keluarga yang bekerja. Hal ini membuktikan betapa besarnya peran kelompok produktif dalam menyokong kehidupan para lansia.

Di saat yang sama, pengeluaran untuk kebutuhan utama keluarga terus melonjak:

  • Biaya Pendidikan Tinggi: Berdasarkan data BPS (Statistik Penunjang Pendidikan 2024), rata-rata biaya kuliah kini mencapai Rp19,01 juta per tahun ajaran.
  • Biaya Kesehatan: BPS (Profil Statistik Kesehatan 2025) mencatat porsi pengeluaran kesehatan rumah tangga terus naik hingga 2,54 persen. Biaya medis tak terduga sering kali menjadi pukulan berat bagi keuangan keluarga jika tidak diantisipasi sejak dini.

Kenaikan biaya sekolah dan risiko pengobatan yang mendadak menuntut satu sumber penghasilan sandwich generation mampu menopang berbagai lini kebutuhan lintas generasi secara bersamaan.

Pentingnya Perlindungan Finansial Sejak Usia Produktif

Corporate Secretary IFG Life, Gatot Haryadi, mengungkapkan bahwa risiko terbesar dari generasi terhimpit terletak pada ketergantungan banyak orang terhadap satu pintu penghasilan.

"Menjadi bagian dari sandwich generation berarti satu penghasilan sering kali menjadi penopang bagi lebih dari satu generasi. Ketika pencari nafkah mengalami risiko kesehatan, kehilangan kemampuan bekerja, atau bahkan meninggal dunia, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pencari nafkah itu sendiri, tetapi juga dapat memengaruhi pendidikan anak, kesejahteraan orang tua, hingga stabilitas ekonomi seluruh keluarga. Karena itu, membangun fondasi finansial sejak usia produktif menjadi semakin penting agar berbagai rencana kehidupan tetap dapat berjalan," ujar Gatot. 

Gatot menambahkan, menyikapi fenomena ini membutuhkan perencanaan matang. Langkah awal membangun fondasi keuangan yang kuat dapat dimulai dari tiga hal utama:

  1. Menyediakan dana darurat,
  2. Memiliki asuransi jiwa dan kesehatan yang sesuai kebutuhan, serta
  3. Menyiapkan peta investasi dan dana pensiun jangka panjang.

"Fenomena sandwich generation harus disikapi dengan bijak. Hal yang lebih penting adalah memastikan setiap tahap kehidupan dipersiapkan dengan baik. Ketika masyarakat membangun fondasi finansial sejak usia produktif, mereka tidak hanya membantu melindungi keluarga hari ini, tetapi juga mempersiapkan diri agar tetap mandiri secara finansial di masa depan. Dengan demikian, setiap generasi dapat saling mendukung tanpa harus mewariskan tekanan finansial yang berlebihan kepada generasi berikutnya," tambah Gatot.

Rekomendasi