Serangan drone yang diduga dilancarkan Iran kembali mengguncang kawasan Teluk di tengah berlanjutnya perang Amerika Serikat–Israel melawan Iran yang kini memasuki pekan kelima. Salah satu serangan menghantam tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait, memicu kebakaran besar.
Sementara itu, pihak berwenang di Bahrain juga melaporkan kebakaran di sebuah fasilitas perusahaan yang lokasinya tidak diungkap ke publik
Juru bicara Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Kuwait, Abdullah al-Rajhi, pada Rabu mengatakan bahwa bandara menjadi sasaran “serangan terang-terangan” menggunakan pesawat tak berawak.
Menurutnya, serangan tersebut menargetkan tangki bahan bakar di area bandara dan menyebabkan kebakaran besar.
"Penggerebekan tersebut menargetkan tangki bahan bakar di bandara, menyebabkan kebakaran besar terjadi di lokasi tersebut," kata al-Rajhi seperti dikutip oleh Kantor Berita Kuwait (KUNA) dilansir Aljazeera, Rabu (1/4/2026).
Tim darurat langsung dikerahkan ke lokasi untuk memadamkan api. Ia menambahkan, kerusakan yang terjadi bersifat material dan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Advertisement
Di Bahrain, Kementerian Dalam Negeri menyatakan bahwa tim pertahanan sipil sedang menangani kebakaran di sebuah fasilitas perusahaan akibat serangan yang dikaitkan dengan Iran.
“Pihak berwenang terkait sedang mengambil tindakan di lokasi tersebut,” tambah pernyataan itu, tanpa menyebutkan nama perusahaan tersebut.
Advertisement
Ketegangan juga meluas ke wilayah Qatar. Sebuah kapal tanker dilaporkan terkena proyektil tak dikenal di dekat ibu kota Doha, menyebabkan kerusakan pada lambung kapal di garis air.
Menurut laporan United Kingdom Maritime Trade Operations, insiden terjadi sekitar 17 mil laut atau sekitar 32 kilometer di utara pusat industri Ras Laffan.
Kementerian Pertahanan Qatar kemudian mengonfirmasi bahwa negara itu menjadi sasaran tiga rudal jelajah yang diluncurkan dari Iran.
Dua rudal berhasil dicegat, sementara satu lainnya mengenai kapal tanker minyak yang disewa oleh QatarEnergy. Seluruh 21 awak kapal berhasil dievakuasi dan tidak ada laporan korban luka.
Advertisement
Di Uni Emirat Arab, kantor berita resmi WAM melaporkan bahwa pecahan peluru dari hasil pencegatan drone jatuh di sebuah area pertanian di wilayah al-Rifaa, kota Fujairah. Insiden tersebut menewaskan seorang warga negara Bangladesh.
Pihak berwenang setempat saat ini masih menangani lokasi kejadian.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan bahwa sejumlah drone berhasil dicegat dan dihancurkan. Hingga kini, tidak ada laporan korban luka dari wilayah Saudi.
Advertisement
Laporan dari United Nations Development Programme yang dirilis Selasa menyebutkan bahwa produk domestik bruto (PDB) dunia Arab diperkirakan turun sekitar 3,7 hingga 6 persen setelah satu bulan perang.
Nilai kontraksi ekonomi tersebut diperkirakan mencapai USD 120 miliar hingga USD 194 miliar. Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump dan pemerintahannya mengeluarkan pernyataan yang saling bertentangan tentang bagaimana dan kapan perang itu mungkin berakhir.
“Kami akan segera pergi,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada hari Selasa, seraya mengatakan bahwa kepergian itu bisa terjadi “mungkin dalam dua minggu, mungkin tiga minggu”.
Sebelumnya, Washington telah mengancam akan mengintensifkan operasi jika Teheran tidak menerima kerangka kerja gencatan senjata 15 poin AS yang di antara tuntutan intinya mencakup komitmen Iran untuk tidak mengejar senjata nuklir, menghentikan semua pengayaan uranium, dan membuka kembali sepenuhnya Selat Hormuz.
Namun, Teheran menolak usulan tersebut dan menyebutnya sebagai tuntutan yang maksimalis dan tidak masuk akal, sambil menegaskan bahwa Iran menginginkan pengakhiran konflik secara permanen. Iran juga menuntut kompensasi atas kerusakan yang disebabkan oleh serangan AS-Israel terhadap negara tersebut.