Perusahaan Minyak AS Paling Diuntungkan atas Krisis Selat Hormuz
Sechin juga berpendapat bahwa China lebih siap dibandingkan negara-negara lain dalam menghadapi potensi gangguan di Selat Hormuz.
Perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat menjadi pihak yang paling diuntungkan dari krisis Selat Hormuz karena memperoleh keunggulan nonkompetitif serta peluang menjual pasokan dengan harga lebih tinggi. Demikian kata CEO Rosneft (perusahaan energi Rusia), Igor Sechin dikutip MInggu (7/6).
Berbicara dalam acara St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026, Sechin mengatakan ekspor hidrokarbon Amerika Serikat saat ini memecahkan semua rekor.
Mengutip perkiraan perusahaan konsultan energi Norwegia Rystad Energy, Sechin menyebut perusahaan minyak dan gas Amerika Serikat berpotensi meraih tambahan keuntungan lebih dari USD 60 miliar pada 2026 apabila harga minyak bertahan di kisaran USD 100 per barel.
"Tambahan penerimaan pajak dari sektor tersebut dapat mencapai sekitar 80 miliar dolar AS," tambahnya seperti dilansir dari Anadolu.
Sechin juga berpendapat bahwa China lebih siap dibandingkan negara-negara lain dalam menghadapi potensi gangguan di Selat Hormuz berkat pendekatan yang menurutnya seimbang terhadap keamanan energi dan perencanaan negara jangka panjang.
Menurut Sechin, investasi China dalam energi terbarukan dan infrastruktur transportasi berbiaya rendah telah menyediakan berbagai alternatif bagi konsumen, seperti kendaraan listrik, bus listrik, truk berbahan bakar gas, sistem metro, kereta listrik, dan taksi listrik.
Ketegangan Kawasan Timur Tengah Meningkat
Sementara itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat setelah serangan bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Serangan itu memicu rangkaian serangan balasan di kawasan pada Februari, yang menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan jalur pelayaran serta pasokan energi global.
Iran kemudian melancarkan serangan terhadap Israel dan negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat. Teheran juga melakukan pendekatan berbeda terhadap lalu lintas maritim di Selat Hormuz, salah satu koridor transit energi terpenting di dunia.
Gencatan senjata kemudian mulai berlaku, meskipun upaya diplomatik untuk mencapai penyelesaian yang lebih luas masih terus berlangsung.