Bawa-Bawa Kepentingan Global, Trump Minta 7 Negara Jaga Selat Hormuz: Ini Buat Kepentingan Kalian Semua!

Langkah tersebut diambil setelah aktivitas kapal tanker minyak di perairan itu banyak terhambat akibat ketegangan militer yang terus meningkat.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Bawa-Bawa Kepentingan Global, Trump Minta 7 Negara Jaga Selat Hormuz: Ini Buat Kepentingan Kalian Semua!
Bawa-Bawa Kepentingan Global, Trump Minta 7 Negara Jaga Selat Hormuz: Ini Buat Kepentingan Kalian Semua! (Merdeka.com)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya sedang berkomunikasi dengan tujuh negara untuk membantu menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Hal ini terkait imbas memanasnya konflik antara AS–Israel dan Iran.

Langkah tersebut diambil setelah aktivitas kapal tanker minyak di perairan itu banyak terhambat akibat ketegangan militer yang terus meningkat.

Mengutip Businesstimes, Senin (16/3/2026), dalam keterangannya kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One, Trump menilai negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak dari kawasan Teluk juga harus ikut bertanggung jawab menjaga keamanan jalur tersebut.

Menurutnya, negara-negara yang selama ini menikmati aliran minyak dari kawasan itu tidak bisa hanya menjadi penonton ketika jalur distribusi energi dunia terganggu.

“Saya meminta mereka ikut terlibat untuk melindungi wilayah mereka sendiri, karena jalur itu juga menyangkut kepentingan mereka,” ujar Trump.

Meski tidak mengungkap secara detail negara mana saja yang telah diajak berbicara, Trump sebelumnya menyebut sejumlah negara yang diharapkan ikut dalam misi pengamanan tersebut, antara lain China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melintas melalui selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut.

Karena itu, gangguan sekecil apa pun di kawasan ini dapat langsung memicu gejolak di pasar energi dunia.

Konflik yang telah memasuki pekan ketiga ini juga meningkatkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah sekaligus mendorong kenaikan harga minyak global.

Di tengah situasi tersebut, Trump mengatakan pemerintah AS masih membuka jalur komunikasi dengan Iran. Namun ia meragukan Teheran benar-benar siap melakukan perundingan serius untuk menghentikan konflik.

Pemerintah AS bahkan mengisyaratkan kemungkinan serangan lanjutan terhadap Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak utama Iran, apabila ketegangan terus berlanjut.

Hingga saat ini, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih belum sepenuhnya normal akibat eskalasi militer di kawasan tersebut.

Sementara itu, laporan The Wall Street Journal menyebut Washington tengah mempersiapkan pembentukan koalisi internasional untuk mengawal kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Namun para pejabat masih membahas apakah operasi pengawalan itu akan dimulai saat konflik masih berlangsung atau setelah situasi mereda.

Gedung Putih sendiri belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan tersebut.

Trump sebelumnya juga menyatakan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) kemungkinan akan segera mengawal kapal tanker minyak yang melewati jalur pelayaran strategis itu.

Di sisi lain, Iran membantah klaim AS yang menyebut Teheran ingin membuka jalur negosiasi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menegaskan negaranya tidak pernah meminta gencatan senjata maupun pembicaraan damai.

“Kami tidak pernah meminta gencatan senjata dan tidak pernah mengajukan negosiasi. Iran siap mempertahankan diri selama diperlukan,” kata Araqchi dalam wawancara dengan program Face the Nation di stasiun televisi CBS.

Ketegangan yang terjadi turut memicu lonjakan harga energi global. Saat ini, harga minyak mentah dunia berada di kisaran USD100 per barel.

Meski demikian, sejumlah pejabat di pemerintahan Trump memperkirakan konflik tersebut tidak akan berlangsung lama. Menteri Energi AS Chris Wright menilai perang dengan Iran kemungkinan hanya berlangsung beberapa minggu lagi.

Ia memperkirakan setelah konflik mereda, pasokan minyak global akan kembali stabil dan harga energi berangsur turun.

“Konflik ini kemungkinan akan berakhir dalam beberapa minggu ke depan, bahkan bisa lebih cepat. Setelah itu pasokan energi akan pulih dan harga minyak akan kembali turun,” ujar Wright dalam wawancara dengan program This Week di ABC.

Rekomendasi