Iran Tutup Selat Hormuz, Ini Negara-Negara Paling Terdampak Pasar Energi Paling Besar Asia Tenggara

Iran resmi menutup Selat Hormuz. Sejumlah kapal yang mencoba melintas bakal menjadi sasaran. Hal itu imbas serangan Israel-AS ke Teheran tewaskan Khamenei.

Henni Rachma Sari
Oleh Henni Rachma Sari - Reporter
Iran Tutup Selat Hormuz, Ini Negara-Negara Paling Terdampak Pasar Energi Paling Besar Asia Tenggara
Iran Tutup Selat Hormuz, Ini Negara-Negara Paling Terdampak Pasar Energi Paling Besar Asia Tenggara (Merdeka.com)

Iran resmi memblokade Selat Hormuz. Imbas serangan Israel-Amerika Serikat yang menyebabkan ratusan warga tewas. Seorang komandan senior dari Garda Revolusi Iran mengatakan pada hari Senin bahwa Selat Hormuz telah ditutup dan memperingatkan bahwa setiap kapal yang mencoba melintasi jalur air tersebut akan menjadi sasaran, menurut laporan media Iran.

Pasar energi global praktis terguncang. Bukan tanpa sebab, Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan minyak global. Di tahun 2025 saja, sebanyak 13 juta barel per hari melintas Selat Hormuz. Yakni, sekitar 31 persen dari seluruh aliran minyak mentah melalui laut, menurut perusahaan konsultan energi Kpler.

Dengan ditutupnya Selat Hormuz, diprediksi Asia menjadi paling terdampak. Lonjakan harga minyak diperkirakan tak bisa dihindari jika Selat Hormuz ditutup berkepanjangan. Beberapa analis memperkirakan harga minyak akan melampaui USD100 per barel. Patokan global Brent terakhir naik 2,6 persen menjadi sekitar USD80 per barel hampir 10 persen lebih tinggi sejak konflik pecah.

Sekitar 20 persen ekspor gas alam cair global yang berasal dari Teluk Persia juga berisiko, terutama yang berasal dari Qatar dan dikirim melalui Selat Hormuz, menurut Kpler. Qatar, salah satu penyedia LNG terbesar di dunia, menghentikan produksi pada hari Senin setelah drone Iran menyerang fasilitasnya di Kota Industri Ras Laffan dan Kota Industri Mesaieed.

"Di Asia, Thailand, India, Korea, dan Filipina adalah yang paling rentan terhadap kenaikan harga minyak, karena ketergantungan impor mereka yang tinggi, sementara Malaysia akan menjadi penerima manfaat relatif karena merupakan pengekspor energi," tulis Nomura dalam sebuah catatan pada hari Senin dikutip cnbc.com, Rabu (4/3).

Negara Terdampak Penutupan Selat Hormuz:

Iran Lepaskan Tembakan Peringatan ke 4 Kapal AS di Selat Hormuz
Dua perahu tradisional berlayar melewati sebuah kapal kontainer besar di Selat Hormuz, Jumat, 19 Mei 2023. (AP/Jon Gambrell) © 2026 Liputan6.com

Asia Selatan diprediksi akan mengalami tekanan fisik secara langsung terkait pasokan LNG. Menurut para analis, sejumlah negara di Asia Selatan sebut saja Qatar dan Uni Emirat Arab menyumbang 99 persen impor LNG Pakistan, 72 persen Bangladesh, dan 53 persen India, menurut data Kpler.

Dengan fleksibilitas penyimpanan dan pengadaan yang terbatas, Pakistan dan Bangladesh sangat rentan. Salah satunya, Bangladesh sudah mengalami defisit gas struktural yang signifikan. Menurut Institute for Energy Economics and Financial Analysis, negara tersebut mengalami kekurangan lebih dari 1.300 juta kaki kubik per hari.

"Pakistan dan Bangladesh memiliki fleksibilitas penyimpanan dan pengadaan yang terbatas, yang berarti gangguan kemungkinan akan memicu penurunan permintaan sektor energi yang cepat daripada penawaran spot yang agresif," kata Go Katayama, analis wawasan utama di Kpler.

India menjadi negara di Asia Selatan yang akan mengalami dampak gabungan terbesar. "Lebih dari separuh impor LNG-nya terkait dengan Teluk, dan sebagian besar diindeks Brent, sehingga lonjakan harga minyak mentah yang disebabkan oleh Hormuz akan secara bersamaan meningkatkan biaya impor minyak dan harga kontrak LNG. Itu menciptakan guncangan fisik dan finansial ganda," kata Katayama.

Termasuk sekitar 60 persen impor minyak India berasal dari Timur Tengah, menurut UBP. Oleh karena itu, blokade yang berkelanjutan akan memperkuat biaya impor energi dan tekanan neraca transaksi berjalan.

Harga Minyak Melonjak 9% Usai Iran Tutup Selat Hormuz
Ilustrasi Harga Minyak Dunia. Foto: AFP © 2026 Liputan6.com

China menjadi negara tak luput dari dampak penutupan Selat Hormuz. Namun, masih memiliki penyangga yang cukup. Yakni, persediaan dan pasokan alternatif. Negara ini adalah importir minyak mentah terbesar di dunia, dan membeli lebih dari 80 persen minyak Iran, menurut Kpler.

Sekitar 30 persen impor LNG-nya berasal dari Qatar dan UEA, dan sekitar 40 persen impor minyaknya melewati Hormuz, perkiraan UBP.

"China terpapar secara material tetapi lebih fleksibel," kata Katayama dari Kpler.

Menurut Kpler, persediaan LNG China hingga akhir Februari mencapai 7,6 juta ton, memberikan perlindungan jangka pendek. Namun, China perlu bersaing untuk kargo Atlantik jika gangguan pasokan berlanjut, sehingga memperketat pasokan di cekungan Pasifik, tambah Katayama. Dalam hal ini, dinamika tersebut dapat meningkatkan persaingan harga di seluruh Asia bahkan jika Beijing menghindari kekurangan pasokan secara langsung.

Arab Saudi telah meningkatkan pengiriman minyak mentah dalam beberapa minggu terakhir, dan cadangan minyak strategis yang dimiliki oleh negara-negara konsumen utama seperti China, dapat memberikan bantalan sementara bagi pasar, kata Rystad Energy dalam sebuah catatan pada hari Minggu.

UBP mengatakan bahwa meskipun China adalah importir energi bersih utama di kawasan ini, China belum tentu yang paling rentan terhadap potensi guncangan pasokan.



Menurut UBP, Jepang mengimpor 75 persen minyak dari Timur Tengah. Sementara, Korea Selatan 70 persen importasinya. Untuk LNG, ketergantungan mereka terhadap Teluk lebih rendah daripada Asia Selatan. Korea Selatan memasok 14 persen LNG-nya dari Qatar dan UEA, sementara Jepang memasok 6 persen, menurut perkiraan Kpler.

Bahkan tanpa kekurangan yang nyata, dampak harga bisa sangat parah. "Ekonomi dengan ketergantungan impor energi yang tinggi seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan lebih rentan terhadap guncangan pasokan," kata Shier Lee Lim, ahli strategi makro dan FX utama APAC di platform pembayaran Convera.

Persediaan juga terbatas. Korea memiliki sekitar 3,5 juta ton LNG dan Jepang sekitar 4,4 juta ton cadangan, cukup untuk sekitar dua hingga empat minggu permintaan yang stabil, menurut Kpler.

Impor minyak bersih Korea Selatan adalah 2,7 persen dari produk domestik bruto, dengan Nomura menandainya sebagai salah satu negara yang paling rentan di bidang neraca transaksi berjalan.

Mayoritas negara di Asia Tenggara akan merasakan dampak penutupan Selat Hormuz. Namun, dampak yang dirasakan lebih kepada inflasi biaya, bukan kekurangan pasokan langsung, kata para ahli industri.

Pembeli LNG yang bergantung pada harga spot akan menghadapi biaya penggantian yang jauh lebih tinggi karena Asia bersaing dengan Eropa untuk kargo Atlantik, kata Katayama dari Kpler.

Thailand khususnya merupakan negara yang paling dirugikan oleh harga minyak dalam kerangka kerja Nomura karena dampak eksternalnya besar dan langsung: Thailand memiliki impor minyak bersih terbesar di Asia sebesar 4,7 persen dari PDB, dan setiap kenaikan harga minyak 10 persen memperburuk neraca transaksi berjalan sekitar 0,5 poin persentase dari PDB negara tersebut.

Rekomendasi