Peta Selat Hormuz, Siapa Pemilik Sebenarnya Jalur Strategis Perdagangan Ini?
Selat Hormuz adalah jalur perairan penting yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman.
Parlemen Republik Islam Iran pada Minggu (22/6) waktu setempat, telah menyetujui usulan penutupan Selat Hormuz bagi seluruh kegiatan pelayaran menyusul serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran.
"Parlemen telah mencapai kesimpulan bahwa Selat Hormuz harus ditutup," kata Mayor Jenderal Esmaeli Kowsari, anggota Komisi Keamanan Nasional di Parlemen Iran, sebagaimana disiarkan televisi Iran Press TV, dikutip dari kantor berita Anadolu.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut yang paling penting bagi lalu lintas pasokan minyak dunia.
"Keputusan akhir mengenai hal tersebut akan ditetapkan oleh Dewan Keamanan Tertinggi Nasional," kata dia, merujuk pada otoritas keamanan tertinggi di Iran.
Ancaman penutupan Selat Hormuz menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump pada Minggu (22/6) pagi bahwa militer AS telah melancarkan serangan terhadap tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Serangan tersebut terjadi di tengah eskalasi menyusul serangan militer Israel, yang didukung AS, terhadap Iran sejak 13 Juni lalu, yang memicu serangan balasan dari Teheran.
Otoritas Israel menyebut sekurangnya 25 orang tewas dan ratusan lainnya terluka akibat serangan rudal Iran. Sementara, 430 warga Iran tewas dan lebih dari 3.500 lainnya terluka dalam serangan Israel ke negara tersebut, menurut Kementerian Kesehatan Iran.
Sejarah Selat Hormuz
Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Wilayah ini memiliki sejarah panjang dan kompleks. Selat ini menjadi jalur pelayaran penting sejak dahulu kala. Lokasinya yang strategis menjadikannya titik vital perdagangan global, terutama untuk minyak.
Lalu, siapakah pemilik sah dari Selat Hormuz? Bagaimana sejarah selat ini terbentuk hingga menjadi jalur perairan penting?
Nama Selat Hormuz berasal dari Kerajaan Hormuz kuno yang berkuasa antara abad ke-10 hingga ke-17. Kerajaan ini menguasai selat tersebut selama berabad-abad, menjadikannya pusat perdagangan yang makmur. Setelah runtuhnya kerajaan, berbagai kekuatan regional dan internasional mulai memperebutkan pengaruh di wilayah ini.
Selat Hormuz telah menjadi saksi berbagai konflik dan ketegangan sepanjang sejarah. Perang Iran-Irak pada tahun 1980-an menyebabkan gangguan pengiriman minyak melalui selat ini. Insiden penembakan pesawat sipil Iran oleh kapal perang AS pada tahun 1988 juga menjadi bagian dari sejarah kelam selat ini.
Saat ini, ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, terus berlanjut. Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran menjadi salah satu bentuk tekanan politik dan militer. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak ekonomi global yang signifikan.
Peta Selat Hormuz
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, yang kemudian terhubung ke Laut Arab dan Samudra Hindia. Lebarnya hanya sekitar 33 kilometer pada titik tersempit. Jalur pelayaran yang dapat dilalui kapal kargo hanya sekitar 3 kilometer.
Pada peta, Selat Hormuz terlihat sebagai jalur air sempit di antara daratan Iran dan Semenanjung Arab. Peta tersebut menunjukkan lokasi geografis selat, negara-negara yang berbatasan, dan jalur pelayaran utama. Anda dapat dengan mudah menemukan peta Selat Hormuz melalui berbagai sumber daring.
Peta selat hormuz memberikan visualisasi jelas tentang betapa strategisnya lokasi ini. Kontrol atas selat ini berarti kontrol atas sebagian besar pasokan minyak dunia. Maka tidak heran jika banyak negara memiliki kepentingan di wilayah ini.
Siapa Pemilik Selat Hormuz Sebenarnya?
Secara resmi, tidak ada satu negara pun yang "memiliki" Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur air internasional yang diatur oleh hukum laut internasional. Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) menjadi acuan utama dalam pengaturan lalu lintas di selat ini.
Iran dan negara-negara Teluk lainnya memiliki kepentingan strategis yang besar di wilayah ini. Klaim kedaulatan atas perairan teritorial di sekitar selat sering menjadi sumber konflik. Keberadaan Armada ke-5 Amerika Serikat di Teluk Persia juga menunjukkan kepentingan internasional yang besar.
Keamanan dan kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi perhatian utama banyak negara. Gangguan terhadap lalu lintas di selat ini dapat berdampak besar pada ekonomi global. Oleh karena itu, berbagai upaya diplomasi dan militer dilakukan untuk menjaga stabilitas di wilayah ini.