Iran Murka terhadap AS hingga Ancam Tutup Selat Hormuz, Nadi Energi Dunia dalam Bahaya
Selat Hormuz seakan "terjepit" antara tebing geopolitik dan saluran pipa ekonomi.
Dunia patut waspada atas dampak serangan Udara Amerika Serikat terhadap tiga situs nuklir Iran;Fordow, Natanz, dan Esfahan. Imbas serangan itu, penasihat terkemuka Pemimpin Tertinggi Iran menyarankan agar pasukan militer Iran menembaki kapal-kapal Amerika dan menutup Selat Hormuz.
Selat ini sangat penting bagi perdagangan minyak dunia. Lembaga Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) memperkirakan sekitar 20 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz per hari pada paruh pertama 2023. Jumlah itu setara dengan perdagangan energi senilai hampir USD600 miliar per tahun Rp9.846 triliun yang diangkut melalui rute maritim.
Jika selat ini ditutup dapat menyebabkan penundaan pengiriman minyak global secara signifikan, yang segera berdampak pada harga minyak.
Namun, para analis juga memperingatkan konsekuensi yang berpotensi lebih serius adalah peningkatan konflik antara Israel dan Iran. Sebab, hal ini dapat menyeret negara-negara lain, termasuk Amerika Serikat, ke dalam pertikaian karena mereka bergantung pada impor minyak dari negara-negara Teluk.
Luas Selat Hormuz
Di titik tersempit hanya selebar 40 km, Selat Hormuz seakan "terjepit" antara tebing geopolitik dan saluran pipa ekonomi. Di tengah perairan dalam jalur tengah, terdapat koridor aman untuk kapal tanker, dikelilingi zona penyangga dan pulau sengketa Greater dan Lesser Tunb. Di sinilah ketegangan bisa berubah menjadi krisis seperti yang pernah terjadi kala Iran-Irak konflik pada 1980–1988.
Doktrin Pertahanan
Analis mengatakan bahwa bagi Iran, menutup Selat Hormuz merupakan bentuk "daya cegah" mirip dengan kepemilikan senjata nuklir.
Artinya, pihak luar akan berpikir beberapa kali untuk bertikai dengan Iran karena Teheran mampu menutup Selat Hormuz yang kemudian akan mengganggu perekonomian.
Karena itu, sejumlah negara menyatakan tidak bakal mengizinkan Teheran menggunakan posisi geografisnya yang strategis itu untuk menghambat aliran pasokan energi global.
Menurut para ahli, Iran mungkin memblokir selat untuk sementara waktu.
Akan tetapi, banyak yang juga yakin bahwa Amerika Serikat dan sekutunya dapat dengan cepat memulihkan arus lalu lintas maritim dengan memanfaatkan kekuatan militer.