Banyak Anak Muda Cuci Darah, Ini Tiga Faktor Utama Pemicu Gagal Ginjal
Decsa mengungkapkan bahwa ia semakin sering berhadapan dengan pasien cuci darah berusia antara 30 hingga 40 tahun, bahkan ada yang lebih muda dari itu.
Penyakit ginjal yang mengharuskan pasien menjalani cuci darah kini semakin banyak terjadi pada kalangan usia muda. Menurut data dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, biaya untuk penanganan gagal ginjal diperkirakan mencapai lebih dari Rp 13 triliun pada tahun 2025.
"Dan yang bikin miris, pasiennya sekarang makin banyak yang usia muda," ungkap dokter spesialis penyakit dalam subspesialis ginjal dan hipertensi, Decsa Medika Hertanto, dalam unggahan di Instagram yang dikutip pada Senin (20/4).
Decsa mengungkapkan bahwa ia semakin sering berhadapan dengan pasien cuci darah berusia antara 30 hingga 40 tahun, bahkan ada yang lebih muda dari itu.
Melihat peningkatan kasus ini, Decsa menyebutkan tiga faktor utama yang menjadi penyebabnya, yaitu:
- Hipertensi yang tidak terkontrol
- Diabetes atau kadar gula darah yang sering tinggi
- Gaya hidup yang buruk, termasuk pola makan yang tidak teratur, kurang beraktivitas, dan kurang tidur.
"Masalahnya, pada tahap awal penyakit ginjal ini hampir tidak menunjukkan gejala. Gejala yang muncul biasanya hanya rasa cepat lelah, pembengkakan di kaki, urine berbusa, atau tekanan darah tinggi yang sering diabaikan," jelasnya.
"Padahal jika sudah terlambat, pasien akan membutuhkan hemodialisis atau cuci darah sebanyak dua hingga tiga kali dalam seminggu, dengan durasi masing-masing sesi antara empat hingga lima jam. Tanpa jaminan BPJS, biaya sekali tindakan cuci darah berkisar antara Rp800.000 hingga Rp 2 juta atau bahkan lebih," tambahnya.
Decsa menekankan bahwa sebenarnya pencegahan masalah ginjal dapat dilakukan dengan cara yang cukup sederhana. Hal ini mencakup pengendalian tekanan darah dan kadar gula darah, memastikan asupan cairan yang cukup, menjaga pola makan yang sehat, melakukan skrining secara rutin, dan berolahraga secara teratur.
"Jaga ginjalmu mulai sekarang karena mencegah selalu lebih baik daripada menyesal di kemudian hari," tutupnya.
Peningkatan Jumlah Pasien Cuci Darah
Kenaikan jumlah pasien cuci darah di kalangan usia muda tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di negara-negara Asia Tenggara lainnya, termasuk Filipina. National Kidney and Transplant Institute (NKTI) di Filipina mengungkapkan bahwa semakin banyak orang dewasa muda yang menjalani dialisis akibat penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup, terutama diabetes dan hipertensi.
"Kami melihat populasi yang menjalani dialisis sekarang lebih muda," ujar Konsultan Nefrologi Dewasa NKTI, Amor Patrice Socorro Estabillo, dalam sebuah konferensi pers di Quezon City, seperti yang dilansir dari laman resmi pna.gov.ph.
Estabillo juga mencatat bahwa pola makan yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi garam dan gula, berkontribusi terhadap meningkatnya penyakit kronis yang berdampak pada kesehatan ginjal. Berdasarkan data dari Registri Ginjal Filipina yang dikelola oleh NKTI sejak tahun 1990-an, Kepala Departemen Gawat Darurat NKTI, Anthony Russell Villanueva, menyatakan bahwa telah terjadi perubahan pola penyakit dan dialisis di kalangan pasien.
"Pada tahun 90-an hingga awal 2000-an, penyebab utama penyakit ginjal stadium akhir adalah glomerulonefritis. Hal ini tidak terkait dengan nutrisi atau makanan," jelasnya.
Glomerulonefritis adalah kondisi yang ditandai oleh peradangan dan kerusakan pada glomeruli, yaitu unit penyaring kecil di ginjal. Gejala yang muncul meliputi adanya darah dan protein dalam urine, pembengkakan atau edema, tekanan darah tinggi, serta penurunan produksi urine. Villanueva menambahkan bahwa penyebab utama penyakit ginjal stadium akhir telah beralih menjadi diabetes sejak tahun 2000, dengan hipertensi sebagai penyebab sekunder.
"Pada saat itu, pola makan masyarakat Filipina mulai bergeser ke pola makan yang lebih Barat. Kita tahu bahwa makanan cepat saji telah menjadi umum pada waktu itu, dan ini juga berkontribusi pada meningkatnya jumlah pasien," ungkapnya.
NKTI juga mencatat bahwa transplantasi ginjal memberikan kualitas hidup terbaik dan kelangsungan hidup terpanjang bagi pasien dengan penyakit ginjal stadium akhir, meskipun dialisis tersedia. Villanueva mengungkapkan bahwa NKTI dan pusat transplantasi lainnya di seluruh Filipina melayani antara 300 hingga 500 pasien transplantasi setiap tahunnya.
Seiring dengan bertambahnya jumlah pasien dialisis yang berusia muda, NKTI menekankan pentingnya perhatian terhadap nutrisi dan kesadaran mengenai penyakit kronis yang berkaitan dengan pola makan untuk mencegah penyakit ginjal. Pasien dengan penyakit ginjal kronis dapat memperoleh manfaat dari asupan nutrisi yang tepat, karena hal ini dapat memperlambat perkembangan penyakit dan menunda kebutuhan untuk menjalani dialisis.
Masyarakat disarankan untuk menghindari atau membatasi konsumsi makanan yang tinggi sodium, kalium, fosfor, dan protein, serta alkohol dan makanan manis. Ini termasuk makanan kaleng, daging olahan, bumbu asin, dan beberapa jenis buah yang mengandung gula tinggi. Dengan kesadaran yang lebih baik tentang pola makan yang sehat, diharapkan dapat menurunkan risiko penyakit ginjal di kalangan generasi muda.
Terapi Alternatif
Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir, baru-baru ini mengungkapkan data dari Indonesian Renal Registry (IRR) 2024. Data tersebut mencerminkan situasi yang memprihatinkan, di mana dari total 136.793 pasien aktif dan 60.034 pasien baru, sekitar 98 persen menjalani hemodialisis (HD).
Di sisi lain, terapi alternatif yang lebih mandiri seperti Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) hanya diakses oleh 2 persen pasien, sedangkan angka transplantasi ginjal yang merupakan solusi medis terbaik, masih berada di bawah 1 persen.
"Di Indonesia, pasien gagal ginjal seolah digiring langsung ke mesin cuci darah tanpa penjelasan utuh mengenai opsi lain seperti CAPD atau transplantasi ginjal," tegas Tony di Jakarta, Kamis (12/3/2026).
Ia berharap pemerintah dapat menyusun kebijakan yang mendorong diversifikasi terapi ginjal, sehingga tidak hanya terfokus pada hemodialisis. Menurut Tony, ketergantungan yang hampir total pada mesin cuci darah berpotensi membawa Indonesia menuju krisis layanan HD. Pasien terus bertambah, sedangkan kapasitas layanan tidak mampu mengejar, yang mengakibatkan antrean pasien untuk terapi semakin panjang dan beban anggaran kesehatan berisiko meledak.
Data dari BPJS Kesehatan tahun 2019 menunjukkan bahwa beban biaya penyakit ginjal mencapai Rp6,5 triliun, dan diperkirakan melonjak tajam menjadi Rp11 triliun pada tahun 2024. Angka ini menunjukkan bahwa tanpa adanya perubahan strategi dalam layanan ginjal nasional, tekanan terhadap sistem pembiayaan kesehatan dapat meningkat secara signifikan dalam waktu 10 hingga 20 tahun ke depan.
Selain itu, dari segi kualitas hidup, terapi HD diketahui memiliki tingkat kesejahteraan pasien yang lebih rendah dibandingkan dengan terapi pengganti ginjal lainnya. Data dari Indonesian Renal Registry (IRR) menunjukkan angka kematian pasien HD masih sangat tinggi, dengan lebih dari 90 ribu jiwa pada tahun 2023 dan sekitar 50 ribu jiwa pada tahun 2024. Hal ini menambah urgensi untuk mengeksplorasi dan menerapkan berbagai opsi terapi yang lebih baik bagi pasien gagal ginjal di Indonesia.
Reformasi Sistem Cuci Darah
Lebih lanjut, Tony menyatakan bahwa jika keadaan ini dibiarkan berlanjut, kebutuhan infrastruktur layanan akan meningkat secara drastis. Setiap tahun, jumlah pasien gagal ginjal terus bertambah, yang mengharuskan adanya penambahan mesin hemodialisis (HD), ruang layanan, dan tenaga medis yang terlatih. Tanpa peningkatan kapasitas layanan kesehatan yang seimbang dengan jumlah pasien, nyawa pasien akan terus terancam.
"Selama bertahun-tahun ketimpangan informasi mengenai terapi pengganti ginjal sangat minim. Bahkan banyak pasien baru mengetahui tentang CAPD atau transplantasi dari sesama pasien di komunitas, bukan dari tenaga medis atau sistem layanan kesehatan resmi," ujarnya.
Tony juga mengingatkan agar pemerintah segera melakukan reformasi pada sistem layanan ginjal di tingkat nasional. Pemerintah bersama tenaga kesehatan perlu memastikan setiap pasien mendapatkan informasi yang lengkap tentang semua pilihan terapi—HD, CAPD, dan transplantasi ginjal—sebelum mereka menjalani dialisis pertama.
"Di saat yang sama, akses untuk transplantasi harus diperluas dan hambatan biaya perlu dikurangi agar pasien memiliki kesempatan hidup yang lebih baik, bukan terjebak seumur hidup pada mesin cuci darah," kata Tony.
Dia juga mendorong penerapan Home Dialysis untuk mengurangi beban pada fasilitas kesehatan dan anggaran negara. Pencegahan serta deteksi dini harus menjadi prioritas, mengingat 90 persen pasien tidak menyadari kondisi mereka hingga mencapai stadium lanjut. "Sistem layanan ginjal di Indonesia harus memberikan pilihan terapi yang adil bagi setiap pasien," pungkasnya.