Fakta Mengerikan Antrean Cuci Darah: 1 Pasien Meninggal, 3 Pasien Baru Menunggu
Antrean untuk cuci darah semakin meningkat, sehingga dokter menekankan pentingnya memahami penyebab gagal ginjal dan melakukan deteksi dini sejak awal.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi dari RS EMC Pulomas, dr. Pujiwati, Sp.PD-KGH, FINASIM, mengungkapkan bahwa dalam satu hingga dua tahun terakhir, jumlah pasien yang menjalani cuci darah atau hemodialisis (HD) terus meningkat.
Saat ini, banyak rumah sakit mengalami antrean panjang hingga menyebabkan waiting list. "Kalau untuk persentasenya saya tidak hitung. Tapi dalam satu unit HD, satu pasien meninggal bisa langsung digantikan oleh dua sampai tiga pasien baru. Kapasitasnya tidak cukup, akhirnya terjadi waiting list," ujar Pujiwati kepada Liputan6.com di Jakarta.
Lonjakan jumlah kasus ini memaksa rumah sakit untuk menambah mesin cuci darah, yang berakibat pada peningkatan biaya kesehatan secara signifikan.
Menurut Pujiwati, momentum World Kidney Day seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan penyakit ginjal.
"Harapannya, masyarakat tidak berpikir 'Kalau gagal ginjal tinggal cuci darah saja'. Justru yang penting adalah bagaimana agar tidak sampai ke tahap itu. Di sinilah pentingnya deteksi dini," ujarnya. Pujiwati juga menjelaskan bahwa banyak pasien tidak menyadari gejala awal penyakit ginjal karena sering dianggap sepele.
Dia memberikan contoh seorang pasien muda berumur 25 tahun yang sudah mengalami gagal ginjal saat masih mengerjakan skripsi. Pasien tersebut memiliki riwayat tekanan darah tinggi sejak beberapa tahun sebelumnya namun tidak ditangani secara serius.
"Awalnya hanya dianggap hipertensi biasa. Kadang minum obat, kadang tidak. Setelah tiga tahun, kondisinya sudah harus cuci darah," tambahnya. Menurutnya, hipertensi pada usia muda tidak boleh dianggap remeh karena bisa menjadi tanda adanya gangguan serius, seperti radang ginjal atau Glomerulonefritis.
"Kalau usia muda sudah hipertensi, pasti ada sesuatu. Yang paling sering itu radang ginjal. Prosesnya mungkin sudah berlangsung lima sampai enam tahun sebelumnya," ujarnya.
Gaya Hidup Berkontribusi Sebagai Faktor Risiko
Selain penyakit, gaya hidup anak muda saat ini juga berkontribusi terhadap peningkatan kasus gangguan ginjal. Pujiwati menjelaskan bahwa beberapa pasiennya memiliki kebiasaan mengonsumsi minuman berkafein tinggi, seperti minuman energi, yang sering digunakan untuk begadang saat mengerjakan tugas.
"Banyak yang minum minuman energi supaya bisa begadang dan tetap segar dari pagi," ujarnya. Selain itu, kebiasaan kurangnya konsumsi air putih juga menjadi masalah yang signifikan. Banyak orang lebih memilih minuman manis atau bersoda ketika merasa haus.
"Kalau haus, yang dicari bukan air putih, tapi minuman seperti soda atau minuman berperisa. Rasanya memang lebih nikmat, apalagi kalau dingin," katanya.
Padahal, konsumsi minuman bersoda secara berlebihan dapat memicu berbagai masalah kesehatan, seperti batu ginjal dan dehidrasi.
"Gaya hidup seperti ini yang sekarang banyak terjadi pada anak muda, dan ini berisiko bagi kesehatan ginjal dalam jangka panjang," pungkas Pujiwati. Oleh karena itu, penting bagi anak muda untuk lebih sadar akan pilihan minuman mereka dan meningkatkan konsumsi air putih.
Mengubah kebiasaan ini dapat membantu menjaga kesehatan ginjal dan mencegah masalah yang lebih serius di kemudian hari. Dengan demikian, perhatian terhadap pola makan dan hidrasi yang baik sangatlah penting untuk kesehatan tubuh secara keseluruhan.