Selain Cuci Darah, Ini Pilihan Pengobatan Gagal Ginjal yang Jarang Diketahui
Penanganan gagal ginjal dapat dilakukan melalui CAPD atau transplantasi, selain opsi cuci darah atau hemodialisis yang juga tersedia.
Hemodialisis atau cuci darah bukanlah satu-satunya pilihan untuk menangani masalah gagal ginjal. Menurut Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir, dalam data yang dipublikasikan oleh Indonesian Renal Registry (IRR) 2024, situasi saat ini sangat memprihatinkan. Dari total 136.793 pasien aktif dan 60.034 pasien baru, sekitar 98 persen hanya menjalani hemodialisis (HD).
Di sisi lain, terapi alternatif yang lebih mandiri seperti Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) hanya mencakup 2 persen, dan angka transplantasi ginjal yang seharusnya menjadi solusi terbaik masih di bawah 1 persen.
Menurut laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), CAPD adalah metode cuci darah yang berfungsi membuang zat sisa dan kelebihan cairan dengan menggunakan membran peritoneal sebagai saringan dialisis. Proses dialisis dengan CAPD berlangsung secara terus menerus selama 24 jam setiap hari. Seperti prosedur medis lainnya, CAPD memiliki manfaat dan risiko, namun secara umum, prosedur ini lebih memberikan keuntungan. Beberapa keuntungan dari CAPD antara lain:
- Pasien gagal ginjal tidak perlu datang ke rumah sakit untuk menjalani hemodialisis, karena dengan metode CAPD, pasien dapat melakukan cuci darah di rumah atau tempat lain setelah dipasangi kateter.
- Peralatan CAPD bersifat portable, sehingga mudah dibawa ke mana saja. Hanya dengan kantong cairan dialisat, klip, dan kateter, pasien bisa melakukan prosedur ini dengan mudah.
- Dibandingkan dengan metode hemodialisis lainnya, CAPD dapat membantu menjaga fungsi ginjal lebih lama.
- Pasien yang menggunakan CAPD memiliki lebih sedikit larangan atau batasan makanan, sehingga mereka bisa lebih fleksibel dalam mengatur asupan makanan dan minuman.
- Metode ini juga membantu mengurangi beban kerja jantung dan tekanan di pembuluh darah, serta lebih baik dalam mengontrol jumlah cairan dalam tubuh.
Melihat berbagai manfaat tersebut, Tony berharap agar pemerintah dapat merumuskan kebijakan yang mendorong diversifikasi terapi ginjal, sehingga tidak hanya berfokus pada hemodialisis. Ia menekankan bahwa ketergantungan yang hampir total pada mesin cuci darah dapat membawa Indonesia menuju krisis dalam layanan HD. Hal ini menyebabkan jumlah pasien terus meningkat, sementara kapasitas layanan tidak mampu mengimbangi, sehingga antrean pasien semakin panjang dan beban anggaran kesehatan dapat meningkat.
Data dari BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa pada tahun 2019, beban biaya untuk penyakit ginjal mencapai Rp6,5 triliun, dan diperkirakan melonjak menjadi Rp11 triliun pada tahun 2024. Jika tidak ada perubahan dalam strategi layanan ginjal nasional, tekanan terhadap sistem pembiayaan kesehatan akan meningkat secara signifikan dalam 10 hingga 20 tahun ke depan.
Selain itu, dari segi kualitas hidup, terapi HD juga diketahui memiliki tingkat kesejahteraan pasien yang lebih rendah dibandingkan dengan terapi pengganti ginjal lainnya. Data dari Indonesian Renal Registry (IRR) menunjukkan tingkat kematian pasien HD masih sangat tinggi, yaitu lebih dari 90 ribu jiwa pada tahun 2023 dan sekitar 50 ribu jiwa pada tahun 2024.
Jumlah Pasien Tiap Tahun Bertambah
Tony menegaskan bahwa jika situasi ini dibiarkan berlanjut, kebutuhan infrastruktur layanan kesehatan akan meningkat secara signifikan. Setiap tahun, jumlah pasien gagal ginjal terus bertambah, yang mengharuskan adanya penambahan mesin hemodialisis (HD), ruang pelayanan, serta tenaga kesehatan yang terlatih. Tanpa peningkatan kapasitas layanan kesehatan yang sejalan dengan bertambahnya jumlah pasien, nyawa pasien akan terus berada dalam bahaya.
"Selama bertahun-tahun, ketimpangan informasi mengenai terapi pengganti ginjal sangat minim. Banyak pasien baru mengetahui tentang CAPD atau transplantasi hanya dari sesama pasien di komunitas, bukan dari tenaga medis atau sistem layanan kesehatan yang resmi," jelasnya.
Reformasi Sistem Layanan Ginjal di Tingkat Nasional
Tony mendesak pemerintah untuk segera melakukan reformasi dalam sistem layanan ginjal nasional. Pemerintah serta tenaga kesehatan perlu memastikan bahwa setiap pasien menerima edukasi yang komprehensif mengenai semua pilihan terapi, seperti hemodialisis (HD), Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD), dan transplantasi ginjal sebelum memulai dialisis yang pertama.
"Di saat yang sama, akses transplantasi harus diperluas dan hambatan biaya diturunkan agar pasien memiliki peluang hidup yang lebih baik, bukan terjebak seumur hidup pada mesin cuci darah," ungkap Tony. Dia juga menekankan pentingnya penerapan Home Dialysis untuk mengurangi tekanan pada fasilitas kesehatan dan beban anggaran negara. Pencegahan serta deteksi dini perlu dijadikan prioritas, mengingat 90 persen pasien tidak menyadari bahwa mereka menderita penyakit ini hingga mencapai stadium lanjut.
"Sistem layanan ginjal di Indonesia harus memberikan pilihan terapi yang adil bagi setiap pasien," tegasnya. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan pasien dapat memperoleh perawatan yang lebih baik dan meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.