Gagal Ginjal Tak Lagi Serang Lansia, Belasan Ribu Anak Muda Jalani Cuci Darah
Berikut adalah data IRR mengenai pasien cuci darah yang berusia muda di Indonesia selama periode 2016 hingga 2019.
Di Indonesia, jumlah pasien yang menjalani cuci darah (hemodialisis) di kalangan usia muda mencapai belasan ribu. Menurut data dari Indonesian Renal Registry (IRR), yang menganalisis 122.449 pasien selama periode 2016 hingga 2019, terdapat tren peningkatan kasus gagal ginjal yang memerlukan cuci darah seiring bertambahnya usia.
Rincian lebih lanjut menunjukkan bahwa pada usia kurang dari 20 tahun terdapat sekitar 800 kasus hemodialisis, sementara untuk usia 20-29 tahun mencapai 2.400 kasus, dan untuk usia 30-39 tahun tercatat sebanyak 8.600 kasus.
BPJS Kesehatan melaporkan bahwa klaim layanan hemodialisis terus meningkat, dengan estimasi kenaikan sekitar 7 persen pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya.
"Di 2025 ini ada 147 ribu kunjungan klaim hemodialisa. Walaupun kita tahu ya ada CAPD dan transplant, tapi memang hemodialisa makin terus naik," ungkap Analis Kebijakan Penjaminan Manfaat Rujukan Pratama BPJS Kesehatan, drg. Tiffany Monica, dalam peringatan Hari Ginjal Sedunia 2026.
Tiffany juga menambahkan bahwa total biaya hemodialisis oleh BPJS Kesehatan diperkirakan mencapai kurang lebih Rp 7 triliun pada tahun 2021, dan untuk penanganan gagal ginjal pada tahun 2025 mencapai Rp 13 triliun.
Gagal ginjal menjadi salah satu masalah kesehatan yang serius di Indonesia, meskipun jumlah pasiennya hanya sekitar 640 ribu jiwa, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pasien penyakit jantung yang mencapai 3 juta jiwa.
"Jadi walaupun memang secara nominal damage-nya lebih besar jantung, tapi secara pembiayaan per orang ini sebenarnya di ginjal banyak sekali pembiayaannya," jelas Tiffany.
Cuci darah atau hemodialisis (HD) adalah prosedur yang digunakan untuk menyaring darah secara mekanis dengan mesin dialiser sebagai pengganti fungsi ginjal yang rusak, dan di Indonesia, layanan ini telah berkembang pesat sejak tahun 2014.
Orang-orang yang memerlukan cuci darah adalah mereka yang mengalami gagal ginjal kronik (GGK), yang merupakan salah satu masalah kesehatan publik paling serius di Indonesia. GGK ditandai dengan kerusakan ginjal yang progresif dan ireversibel, di mana ginjal tidak mampu lagi menyaring limbah dan cairan berlebih dari tubuh secara efektif.
Ketika kondisi ini mencapai stadium akhir, terapi pengganti ginjal, termasuk hemodialisis, menjadi sangat penting untuk mempertahankan kehidupan pasien.
Cuci darah bukanlah satu-satunya metode untuk menggantikan fungsi ginjal
Cuci darah bukan satu-satunya pilihan untuk menangani gagal ginjal. Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir, mengungkapkan data IRR 2024 yang menunjukkan kondisi yang memprihatinkan.
Dari total 136.793 pasien aktif dan 60.034 pasien baru, sekitar 98 persen pasien hanya menjalani hemodialisis (HD). Sementara itu, terapi alternatif yang lebih mandiri seperti Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) hanya mencakup 2 persen, dan angka transplantasi ginjal, yang secara medis merupakan solusi terbaik, masih berada di bawah 1 persen.
Menurut laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), CAPD adalah proses cuci darah yang berfungsi untuk mengeluarkan zat sisa dan kelebihan cairan dengan menggunakan membran peritoneal sebagai saringan dialisis. Proses dialisis ini berlangsung secara terus menerus selama 24 jam dalam seminggu. Seperti prosedur medis lainnya, terdapat manfaat dan risiko, namun tidak perlu khawatir karena prosedur ini memiliki lebih banyak manfaat. Beberapa manfaat dari CAPD adalah:
- Pasien gagal ginjal tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani hemodialisis. Dengan metode CAPD, pasien dilengkapi dengan kateter yang memungkinkan mereka untuk melakukan cuci darah di rumah atau tempat lain.
- Peralatan CAPD bersifat portable, sehingga mudah dibawa ke mana saja. CAPD hanya terdiri dari kantong cairan dialisat, klip, dan kateter yang digunakan untuk mengalirkan cairan dialisat ke dalam rongga perut.
- Jika dibandingkan dengan metode hemodialisis lainnya, CAPD dapat membantu mempertahankan fungsi ginjal lebih lama.
- Larangan atau batasan makanan pada penderita gagal ginjal yang menggunakan metode CAPD lebih sedikit, sehingga mereka bisa lebih fleksibel dalam mengatur asupan makanan dan minuman.
- CAPD juga dapat membantu mengurangi beban kerja jantung dan tekanan di pembuluh darah, serta lebih baik dalam mengontrol jumlah cairan dalam tubuh.
Diperlukan perubahan dalam strategi layanan ginjal nasional
Dengan mempertimbangkan manfaat dari Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD), Tony menginginkan agar pemerintah merumuskan kebijakan yang mendukung diversifikasi terapi untuk penyakit ginjal, tidak hanya terfokus pada hemodialisis.
Ia menekankan bahwa ketergantungan yang hampir sepenuhnya pada mesin cuci darah mengarah pada potensi krisis dalam layanan hemodialisis, mengingat jumlah pasien yang terus meningkat, sementara kapasitas layanan tidak bisa mengejar, sehingga antrean pasien untuk mendapatkan terapi semakin panjang dan berpotensi membebani anggaran kesehatan negara.
Menurut data dari BPJS Kesehatan pada tahun 2019, biaya yang ditanggung untuk penyakit ginjal mencapai Rp6,5 triliun, dan diperkirakan akan melonjak tajam menjadi Rp11 triliun pada tahun 2024.
Hal ini menunjukkan bahwa tanpa adanya perubahan dalam strategi layanan ginjal di tingkat nasional, tekanan pada sistem pembiayaan kesehatan akan meningkat secara signifikan dalam rentang waktu 10 hingga 20 tahun ke depan.
Selain itu, dari perspektif kualitas hidup, terapi hemodialisis diketahui memberikan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah bagi pasien dibandingkan dengan terapi pengganti ginjal lainnya.
Data dari Indonesian Renal Registry (IRR) menunjukkan bahwa angka kematian pasien hemodialisis masih sangat tinggi, dengan lebih dari 90 ribu jiwa meninggal pada tahun 2023 dan sekitar 50 ribu jiwa pada tahun 2024.
Ini menunjukkan urgensi untuk melakukan perubahan dan pengembangan dalam metode terapi ginjal agar dapat meningkatkan kualitas hidup pasien dan mengurangi beban pada sistem kesehatan nasional.