Bedah Robotik Penggantian Lutut: Tingkatkan Presisi Operasi dan Percepat Pemulihan Pasien
Teknologi bedah robotik untuk penggantian lutut terbukti meningkatkan presisi operasi dan mendukung pemulihan pasien lebih cepat, menawarkan harapan baru bagi penderita osteoartritis.
Teknologi bedah robotik kini menjadi solusi inovatif dalam prosedur penggantian sendi lutut total (TKR). Pemanfaatannya bertujuan meningkatkan presisi tindakan operasi dan mempercepat proses pemulihan pasien secara signifikan. Ini memberikan harapan baru bagi individu yang menderita masalah sendi lutut kronis.
Menurut dr. I Made Yudi Mahardika, Sp.OT, dalam Simposium Orthovolution 2026 di Jakarta, teknologi ini berfungsi sebagai alat bantu vital bagi dokter. Robot membantu dokter melakukan tindakan dengan tingkat ketelitian yang jauh lebih tinggi dibandingkan metode konvensional. Hal ini sangat krusial mengingat variasi anatomi setiap pasien.
Keberhasilan prosedur ini tidak hanya bergantung pada teknologi canggih semata. Kolaborasi erat antar disiplin ilmu medis, mulai dari anestesi hingga rehabilitasi medik, juga memegang peranan penting. Pendekatan holistik ini memastikan pasien mendapatkan hasil optimal.
Meningkatkan Presisi dengan Teknologi Robotik
Teknologi bedah robotik dalam TKR dirancang untuk memfasilitasi dokter dalam mencapai akurasi maksimal. Dokter I Made Yudi Mahardika menjelaskan, “Bukan robotnya yang bekerja untuk kita, tetapi dokter yang difasilitasi teknologi untuk membuat potongan lebih presisi. Variasi anatomi setiap pasien berbeda-beda sehingga teknologi ini membantu penyesuaian selama operasi.”
Salah satu keunggulan sistem robotik adalah kemampuannya memetakan anatomi pasien secara langsung di ruang operasi. Proses ini tidak memerlukan pemindaian CT-scan sebelumnya, yang dapat menyederhanakan persiapan operasi. Tim medis kemudian dapat menyesuaikan posisi dan pergerakan implant agar mendekati fungsi alami lutut pasien.
Dengan presisi yang lebih tinggi, risiko kesalahan dapat diminimalkan, dan hasil fungsional lutut pascaoperasi menjadi lebih baik. Teknologi ini memungkinkan penyesuaian real-time selama operasi, memastikan kesesuaian implant yang optimal. Hal ini berkontribusi pada kenyamanan pasien dan durasi pemulihan yang lebih cepat.
Kolaborasi Tim Medis dan Pemulihan Pasien Optimal
Guru Besar Ortopedi Prof. Dr. dr. Andri Lubis, Sp.OT (K), menegaskan bahwa keberhasilan operasi penggantian sendi adalah hasil kerja tim. “Ahli anestesi, dokter bedah, dan tim rehabilitasi perlu berkoordinasi sejak sebelum tindakan dilakukan agar pasien memperoleh hasil yang optimal,” ujarnya. Kolaborasi ini sangat esensial untuk hasil terbaik.
Dokter spesialis anestesi dr. Fransisca Dewi Kumala, Sp.An, menambahkan peran penting penerapan protokol ERAS (Enhanced Recovery After Surgery). Pendekatan ini berfokus pada pengelolaan nyeri pascaoperasi melalui kombinasi beberapa jenis obat dan teknik blok saraf. Tujuannya agar pasien dapat bergerak lebih cepat setelah tindakan.
“Kami berupaya mengendalikan nyeri dengan berbagai metode agar pasien dapat segera memulai mobilisasi setelah operasi,” kata dr. Fransisca. Pengendalian nyeri yang efektif memungkinkan mobilisasi dini, yang merupakan kunci pemulihan cepat. ERAS memastikan pasien merasa nyaman dan mampu memulai rehabilitasi fisik secepat mungkin.
Penerapan Teknologi Robotik di Fasilitas Kesehatan
Osteoartritis lutut sering menjadi penyebab utama penurunan fungsi gerak pada usia lanjut. Ketika terapi konservatif tidak lagi efektif, penggantian sendi lutut menjadi pilihan penanganan yang vital. Perkembangan teknologi bedah, termasuk sistem robotik, menawarkan solusi yang lebih akurat dan meningkatkan kenyamanan pasien.
Siloam Hospitals Mampang adalah salah satu fasilitas kesehatan yang telah mengadopsi teknologi bedah robotik ini. Mereka menggunakan robot VELYS (VELYS Robotic-Assisted Solution) untuk prosedur TKR. Teknologi ini membantu dokter merencanakan dan melakukan operasi dengan presisi tinggi sesuai kondisi anatomi masing-masing pasien.
Keunggulan VELYS terletak pada teknologi imageless yang tidak memerlukan CT-scan pra-operasi. Sistem ini mampu memetakan anatomi lutut pasien secara langsung di ruang operasi. Pemilihan metode operasi tetap harus disesuaikan dengan kondisi klinis pasien serta pertimbangan dokter yang menangani.
Sumber: AntaraNews