Mengenang Ayatollah Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Tak Pernah Gentar Lawan AS-Israel hingga Akhir Hayat

Ayatollah Khamenei diketahui selama ini memainkan peran penting dalam politik Iran selama lebih dari empat dekade.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Mengenang Ayatollah Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Tak Pernah Gentar Lawan AS-Israel hingga Akhir Hayat
Mengenang Ayatollah Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran Tak Pernah Gentar Lawan AS-Israel hingga Akhir Hayat (Merdeka.com)

Kabar duka dating dari perpolitikan Iran. Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi negeri Persia itu, gugur dalam serangan militer Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu pagi (28/2) waktu setempat.

Ayatollah Khamenei gugur akibat serangkaian serangan dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran.

Pembunuhan terhadap Ayatollah Khamenei, menimbulkan gejolak politik di dalam maupun luar negeri Iran. Ayatollah Khamenei diketahui selama ini memainkan peran penting dalam politik Iran selama lebih dari empat dekade.

Sejak tahun 1989, dia menjabat sebagai pemimpin politik dan agama Iran. Dia memimpin di tengah berbagai perubahan sosial dan politik besar, serta menempatkan Iran lebih luas di panggung internasional.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (AP) @ 2023 merdeka.com

Dalam profil Ayatollah Ali Khamenei dikutip dari Middle EastEye.net, disebutkan bahwa pemimpin tertinggi Iran itu lahir dalam keluarga ulama pada 19 April 1939.

Dia memulai pendidikan agama di pelbagai seminari di kota suci Mashhad dan Najaf, Irak. Setelah kembali ke Iran, dia menetap di Qom untuk melanjutkan studi agama di bawah bimbingan tokoh-tokoh terkemuka seperti Ayatollah Hossein Borujerdi dan Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang kelak menjadi pemimpin tertinggi.

Selama tahun 1960-an dan 1970-an, Khamenei terlibat dalam kegiatan rahasia melawan rezim Shah, Mohammad Reza Shah Pahlavi, yang mengakibatkan ditangkap dan disiksa beberapa kali polisi rahasia SAVAK.

Pada tahun 1979, protes rakyat berhasil menggulingkan Shah. Khomeini, yang telah berada dalam pengasingan sejak pertengahan 1960-an, kembali ke Teheran disambut kerumunan penuh suka cita dan dukungan meluas.

Peristiwa ini menandai babak baru dalam sejarah Iran, di mana Khamenei memainkan peran penting dalam membentuk arah negara.

Khamenei Tewas, Presiden AS Klaim Pemimpin Tertinggi Iran Meninggal dalam Serangan Gabungan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan AS-Israel, namun Teheran membantah keras klaim kematian Khamenei tersebut dan menegaskan pemimpinnya dalam kondisi aman. AntaraNews

Khamenei dengan cepat meraih posisi penting di awal era revolusi, berperan sebagai anggota Dewan Revolusi Islam, serta menjabat di parlemen dan sebagai wakil menteri pertahanan. Ia juga memimpin salat Jumat di Teheran.

Khamenei merupakan salah satu tokoh revolusioner terkemuka yang mengalami percobaan pembunuhan pada tahun 1981, ketika sebuah bom yang disembunyikan dalam perekam pita meledak saat ia memberikan pidato di sebuah masjid.

Serangan ini dihubungkan dengan kelompok oposisi anti-ulama, yaitu Forqan Group. Akibat serangan tersebut, Khamenei mengalami luka serius dan kehilangan fungsi di lengan kanannya.

Setelah pembunuhan Presiden Mohammad Ali Raja'i dan Perdana Menteri Mohammad Javad Bahonar pada Agustus 1981 oleh Mujahedin-e Khalq (Organisasi Mujahidin Rakyat Iran), Khamenei mencalonkan diri sebagai presiden dan berhasil meraih 95 persen suara dalam pemilihan yang tidak memiliki pesaing. Dia mendapatkan dukungan terbuka dari tiga kandidat lainnya, salah satunya adalah Mir-Hossein Mousavi, yang kelak menjadi perdana menteri.

Khamenei berupaya memperkuat pengaruh lembaga ulama atas kekuasaan utama, meskipun sering berselisih dengan tokoh-tokoh yang lebih condong ke kiri, termasuk Mousavi.

Dalam kebijakan luar negerinya, Khamenei awalnya fokus pada penanganan konflik Iran yang berlangsung selama delapan tahun dengan Irak yang dipimpin oleh Saddam Hussein, yang menewaskan sekitar satu juta warga sipil dan tentara dari kedua belah pihak.

Pada September 1987, Khamenei mengkritik kehadiran AS di kawasan tersebut dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Ia menyampaikan, "Pesan kami kepada pemerintah Dunia Ketiga adalah bahwa selama tatanan dominasi dan situasi saat ini masih ada, mereka harus berusaha menciptakan persatuan di antara mereka sendiri: ini adalah cara terbaik untuk menjadi kuat." Pernyataan ini menunjukkan sikap Khamenei yang tegas terhadap intervensi asing dan pentingnya solidaritas di antara negara-negara berkembang.



Pada tahun 1989, dunia mengalami perubahan besar dengan berakhirnya Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Iran mulai merasakan dampak signifikan dari peristiwa tersebut. Meninggalnya Ruhollah Khomeini, Khamenei pada 3 Juni 1989 menjadi momen penting bagi negara itu.

Pengganti Ruhollah Khomeini yang sudah ditunjuk sebelumnya, Ayatollah Hossein Ali Montazeri, diabaikan dan secara efektif dicopot dari jabatannya hanya tiga bulan sebelum kematiannya, karena desakannya untuk lebih banyak pluralisme dalam politik.

Majelis Ahli Iran kemudian menunjuk Khamenei sebagai pemimpin baru, meskipun Khamenei sendiri merasa tidak layak untuk mengemban peran tersebut. Teori Khomeini tentang pemerintahan Islam, yang menjadi salah satu dasar sistem politik Republik Islam, berfokus pada konsep perwalian ulama, yang dikenal sebagai velayat-e faqih.

Konstitusi Republik Islam menegaskan kekuasaan ulama atas negara, yang berarti hanya ulama Syiah tingkat tinggi yang dianggap layak untuk menjadi otoritas tertinggi di Iran. Namun, pada bulan Juni 1989, Khamenei hanya menjabat sebagai hojatoleslam tingkat menengah. Beberapa ulama bahkan meragukan kelayakannya dalam aspek keagamaan untuk memegang jabatan tersebut.

Sejak saat itu, Khamenei menjadi tokoh terkuat di Iran, dengan kewenangan sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata dan pemimpin spiritual bagi kaum Syiah.

Dalam pidato pelantikannya, Khamenei menyatakan bahwa dirinya hanyalah seorang "seminaris kecil". Perubahan yang terjadi pada konstitusi kemudian menyatakan bahwa pemegang jabatan lebih penting untuk "menyadari zaman" dan memiliki pemikiran politik, daripada hanya mengandalkan kualifikasi agama tertentu.

Di saat yang bersamaan, kekuasaan eksekutif kepresidenan pun mengalami peningkatan. Pengambilan kekuasaan yang tidak biasa oleh Khamenei akhirnya mengarah pada terbentuknya kepemimpinan ganda antara dirinya dan Ali Akbar Hashemi-Rafsanjani, presiden yang menjabat dari tahun 1989 hingga 1997.

Pada awal masa pemerintahannya, kedua tokoh yang telah lama berkiprah dalam politik pasca-revolusi Iran ini awalnya bekerja sama dengan baik.

Pada tahun 2015, Majalah Forbes bahkan menempatkannya pada posisi ke-18 dalam daftar orang paling berkuasa di dunia. Khamenei juga dikenal sebagai penggerak utama kebijakan strategis Iran di bidang politik dan militer, yang memengaruhi posisi Iran di kancah internasional.



Di tengah gejolak politik pada 1981, Khamenei menjadi target percobaan pembunuhan yang melumpuhkan lengan kanannya. Insiden ini justru memperkuat hubungannya dengan Pengawal Revolusi Iran, yang kemudian menjadi lembaga militer dan politik yang berperan penting dalam mempertahankan kekuasaan Khamenei hingga saat ini.

Khamenei juga memiliki peran strategis selama Perang Iran-Irak pada 1980-an, yang mempererat hubungannya dengan militer dan memperkokoh posisinya di pemerintahan Iran. Selama masa tersebut, ia banyak terlibat dalam perencanaan militer yang berpengaruh besar pada kekuatan Iran di kawasan Timur Tengah.



Ayatollah Khamenei Disuntik Vaksin Produksi Iran
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei mendapat dosis vaksin Covid-19 buatan lokal, COV-Iran Barekat, di Teheran, Jumat (25/6/2021). Ayatollah Ali Khamenei mengaku tidak tertarik mengambil vaksin buatan luar negeri karena menurutnya lebih baik menunggu vaksin Iran. (KHAMENEI.IR / AFP) @ 2023 merdeka.com

Pada 19 April 2024, di hari ulang tahunnya yang ke-84, Israel meluncurkan rudal ke wilayah Iran sebagai bentuk serangan balasan. Peristiwa ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah konflik panas yang melibatkan Israel dan Hamas, di mana Israel mengklaim bahwa Iran mendukung penuh kelompok Hamas.

Israel sebelumnya telah meluncurkan serangan ke Kedutaan Besar Iran di Damaskus yang menewaskan seorang komandan militer Iran, sementara Iran merespons dengan serangan pesawat tanpa awak ke Tel Aviv. Konflik ini pun terus berlanjut dengan serangan balasan di Isfahan, Iran.

Terbaru, Khamenei, pemimpin Iran, dilaporkan sedang mengalami masalah kesehatan serius setelah serangan Israel terhadap Iran. Berita ini muncul dari laporan The New York Times, yang dikutip oleh First Post pada 27 Oktober 2024.



Perlawanan tak gentar Khamenei terhadap AS-Israel mencapai puncaknya. Serangan AS-Israel itu menewaskan pemimpin kharismatik tersebut.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan juga menargetkan infrastruktur militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Perwakilan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengatakan bahwa Israel "salah perhitungan" dengan menyerang Iran. Sedikitnya 201 orang tewas dan 747 lainnya mengalami luka-luka di Iran akibat serangan Amerika Serikat dan Israel, kata Palang Merah Iran (IRCS) pada Sabtu.

"Sejauh ini, 747 orang luka-luka dan 201 orang meninggal," kata organisasi tersebut seperti dikutip oleh kantor berita Mehr.

Tim penyelamat Iran dilaporkan mencatat serangan di 24 dari 31 provinsi di seluruh negara itu.

Pada Sabtu pagi (28/2), Kementerian Pertahanan Israel mengatakan bahwa mereka meluncurkan serangan terhadap Iran dan menetapkan status darurat di seluruh wilayahnya.

Dengan mengutip pernyataan Kementerian Pendidikan Iran, Kantor berita ISNA melaporkan bahwa sekolah-sekolah di Iran telah ditutup atau untuk sementara beralih ke pembelajaran daring di tengah serangan AS dan Israel.

Di tengah saling selang itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan AS-Israel.

“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah tewas,” tulis Trump di media sosial, Sabtu (28/2), tanpa menyertakan bukti atas pernyataannya.

Klaimnya itu membenarkan laporan media, sementara Teheran menyatakan pemimpinnya tetap aman.

Trump mengatakan Khamenei tidak dapat menghindari sistem intelijen dan pelacakan canggih Amerika Serikat, dan menyebut kerja sama erat negaranya dengan Israel membuat pemimpin Iran dan sejumlah pejabat lain tidak mampu meloloskan diri.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan kepada media AS bahwa pemimpin tertinggi mereka dalam keadaan aman, namun tidak memberikan bukti untuk mendukung bantahan tersebut.

Sebelumnya, kantor berita Rusia Sputnik melaporkan Wakil Presiden Iran Mohammad Jafar Ghaempanah menyatakan Presiden Masoud Pezeshkian dalam kondisi sehat setelah serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu.

“Terlepas dari serangan pengecut rezim Zionis dan Amerika Serikat selama perundingan berlangsung, Pezeshkian berada dalam kondisi kesehatan yang sepenuhnya baik,” tulis Ghaempanah di platform X.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ismail Baghaei juga mengatakan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi tidak terluka dalam serangan tersebut.

“Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi baik-baik saja,” ujar Baghaei seperti dikutip kantor berita resmi IRNA.

Pemerintah Iran telah mengumumkan 40 hari masa berkabung dan libur kerja selama seminggu setelah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei syahid dalam serangan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2), lapor kantor berita Fars.

Televisi pemerintah Iran sebelumnya mengonfirmasi bahwa Khamenei telah syahid dalam serangan tersebut.

Sebagai respons cepat terhadap kekosongan kekuasaan, Iran segera menetapkan otoritas kepemimpinan sementara. Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Mokhber, mengumumkan bahwa Presiden Iran, Ketua Pengadilan, dan seorang anggota Dewan Wali akan bersama-sama menjalankan tugas Pemimpin Tertinggi. Langkah ini diambil untuk memastikan stabilitas dan kelangsungan roda pemerintahan di tengah situasi yang sangat genting.

Gugurnya Ali Khamenei telah memicu gelombang duka dan kemarahan di seluruh Iran, sekaligus meningkatkan eskalasi konflik di Timur Tengah. Pemerintah Iran telah mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari dan meliburkan aktivitas kerja selama seminggu. Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Angkatan Darat Iran secara tegas bersumpah akan membalas kematian Pemimpin Tertinggi mereka, mengindikasikan potensi respons militer yang lebih besar.



FOTO: Iran Berduka Usai Kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam Serangan Militer
Warga berduka atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel, di Teheran, Iran, Minggu (01/03/2026). AFP/ Atta Kenare

Dalam menghadapi kekosongan kepemimpinan tertinggi, Iran bergerak cepat untuk membentuk struktur sementara guna menjaga stabilitas negara. Wakil Presiden Pertama Iran, Mohammad Mokhber, menjelaskan bahwa berdasarkan konstitusi, tugas Pemimpin Tertinggi akan diemban oleh tiga figur kunci: Presiden Iran, Ketua Pengadilan, dan seorang anggota Dewan Wali. Langkah ini merupakan mekanisme darurat yang diatur untuk masa transisi hingga proses suksesi permanen dapat ditetapkan. Mohammad Mokhber sendiri saat ini menjabat sebagai Wakil Presiden Pertama Iran.

Presiden Iran saat ini adalah Masoud Pezeshkian, yang menjabat sejak 28 Juli 2024. Sementara itu, Ketua Pengadilan Iran adalah Gholam-Hossein Mohseni-Eje'i, yang telah menjabat sejak 1 Juli 2021. Dewan Wali, sebagai salah satu pilar penting dalam sistem politik Iran, memiliki peran krusial dalam menafsirkan Konstitusi Iran, mengawasi pemilihan umum, dan memastikan bahwa undang-undang yang disahkan sesuai dengan kriteria Islam. Mohammad Mokhber menegaskan, "Presiden, ketua pengadilan, dan seorang anggota Dewan Wali akan menjalankan tugas Pemimpin Tertinggi di masa kekosongan jabatan," seperti dikutip kantor berita IRNA.


Rekomendasi