Iran Tolak Mentah-Mentah Proposal Gencatan Senjata 48 Jam AS
Iran secara tegas menolak proposan gencatan senjata dari AS. Sebab, tidak ada jaminan konflik tak terulang.
Iran secara tegas menolak mentah-mentah proposal gencatan senjata 48 jam dari Amerika Serikat (AS). Penolakan ini dilaporkan oleh Kantor Berita Fars pada hari Jumat, dengan mengutip sumber resmi yang tidak disebutkan namanya.
Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa proposal dari Washington telah disampaikan pada hari Rabu melalui perantara dari negara ketiga. Namun, hingga saat ini masih belum jelas apakah Israel juga akan terlibat dalam rencana gencatan senjata tersebut.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran adalah pihak yang meminta gencatan senjata. Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh Teheran, seperti yang dikutip dari laman Middleeasteye pada hari Sabtu (4/4).
Selain itu, upaya mediasi yang melibatkan Pakistan juga dilaporkan menemui jalan buntu. Iran menolak untuk bertemu dengan pejabat AS di Islamabad, karena menganggap tuntutan dari Washington tidak dapat diterima. Teheran meminta penarikan penuh pasukan AS dari pangkalan di Timur Tengah serta kompensasi atas kerusakan fasilitas sipil, termasuk sekolah dan rumah sakit.
Beberapa negara seperti Turki, Mesir, dan Qatar juga berupaya menjadi mediator dalam situasi ini. Namun, laporan menyebutkan bahwa Qatar menolak untuk mengambil peran tersebut meskipun ada tekanan dari AS dan negara-negara regional lainnya.
Di tengah kebuntuan diplomasi ini, penilaian intelijen AS menunjukkan bahwa Iran masih memiliki kapasitas militer yang signifikan. Sekitar setengah dari peluncur rudal balistik dan drone kamikaze Iran dilaporkan masih aktif, yang bertentangan dengan klaim Washington dan sekutunya yang menyatakan bahwa kemampuan militer Teheran telah lumpuh.
Perkembangan di lapangan juga menunjukkan adanya eskalasi yang serius. Sistem pertahanan udara Iran dilaporkan berhasil menembak jatuh jet tempur F-15E Strike Eagle di wilayah barat daya Iran.
Iran awalnya mengklaim bahwa pesawat tersebut adalah F-35, tetapi kemudian dikonfirmasi oleh sumber militer AS sebagai F-15E. Dengan situasi yang semakin memanas ini, ketegangan di kawasan Timur Tengah dipastikan akan terus berlanjut.
Pesawat F-15E AS Jatuh Ditembak Iran
Insiden tersebut memicu operasi pencarian yang sangat luas oleh kedua belah pihak. Dari dua awak pesawat yang terlibat, satu orang telah berhasil diselamatkan oleh militer AS, sedangkan satu lainnya masih dalam proses pencarian. Lokasi jatuhnya pesawat diduga terletak di provinsi Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad, yang merupakan wilayah pegunungan di Iran.
Dalam insiden yang terpisah, terdapat laporan bahwa pesawat tempur A-10 Thunderbolt II juga ditembak jatuh di dekat Selat Hormuz, dan pilot pesawat tersebut dilaporkan berhasil menyelamatkan diri.
Rangkaian peristiwa ini semakin memperkuat indikasi bahwa konflik yang ada berpotensi berlangsung lebih lama. Dengan jalur diplomasi yang terhambat dan kemampuan militer kedua pihak yang masih cukup signifikan, risiko terjadinya eskalasi lebih lanjut dinilai tetap tinggi dalam waktu dekat.