Perayaan Africa Day 2026 Jadi Tanda Tingginya Tingkat Kepercayaan pada Indonesia
Afrika sebagai mitra strategis masa depan karena memiliki sumber daya alam melimpah serta populasi usia muda yang besar.
Perayaan 'Africa Day 2026' di Jakarta dimanfaatkan negara-negara Afrika untuk memperluas dan memperkuat hubungan ekonomi dengan Indonesia di tengah situasi geopolitik global yang masih penuh ketidakpastian. Hubungan historis sejak Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung turut menjadi landasan penting dalam penguatan kerja sama tersebut.
Dalam resepsi diplomatik yang berlangsung di Hotel Four Seasons Jakarta, Jumat (22/5) malam, perwakilan dari 54 negara Afrika hadir guna mempererat hubungan bilateral dengan Indonesia. Duta Besar Tunisia untuk Indonesia, Mohamed Trabelsi, menilai Afrika sebagai mitra strategis masa depan karena memiliki sumber daya alam melimpah serta populasi usia muda yang besar.
Sejumlah sektor strategis menjadi fokus kerja sama, mulai dari e-commerce, e-banking, hingga investasi energi gas yang telah berjalan di Tanzania. Negara-negara Afrika juga memandang Indonesia memiliki peran penting sebagai mitra pembangunan di kawasan Global South.
Mohamed Trabelsi mengatakan hubungan dekat antara Indonesia dan negara-negara Afrika tidak terlepas dari dukungan Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan negara-negara Afrika sejak Konferensi Asia-Afrika 1955. Ia mengungkapkan Tunisia bahkan belum merdeka saat konferensi bersejarah itu digelar.
"Indonesia selalu memiliki tempat istimewa di hati kami. Hal itu karena Indonesia secara konsisten mendukung kemerdekaan dan kebebasan negara-negara di Afrika. Saat kita kembali ke tahun 1955, Tunisia belum merdeka pada saat itu," ujarnya.
Acara tersebut juga dihadiri masyarakat sipil yang selama ini memiliki hubungan dengan berbagai kedutaan besar negara Afrika di Jakarta. Kehadiran para undangan nonpemerintah dan diplomatik membuat lobi Hotel Four Seasons dipenuhi tamu, termasuk remaja dan anak-anak.
Berbagi Cerita dengan Merdeka.com
Sejumlah tamu dari berbagai latar belakang turut berbagi cerita dengan Merdeka.com, mulai dari pengusaha ekspor-impor kurma Tunisia, warga Afrika Selatan yang tinggal di Jakarta, aktivis lingkungan asal Rwanda, hingga pelajar dari Mozambik. Mereka berbincang di area hotel yang dipenuhi berbagai barang tradisional Afrika yang dipamerkan di sejumlah booth.
"Saya sudah bekerja 14 tahun di kedutaan Tunisia, tapi belum pernah berkunjung ke sana. Seperti kebanyakan atase diplomatik Afrika lainnya, suasana kekerabatan sangat erat di dalam kedutaan kami," ujar Agnes Erlisa, alumnus Jurusan Sastra Prancis Universitas Indonesia.
"Kepercayaan yang telah terbangun dalam komunitas warga Tunisa dan Afrika di Jakarta membuat banyak pengusaha dari sana merasa nyaman dan beberapa sudah sangat lancar berbahasa Indonesia karena sudah lebih dari 20 tahun bolak-balik ke Jakarta," tambahnya lagi.
Meski berbagai kerajinan tradisional dari Mesir, Afrika Selatan, Tunisia, dan Rwanda dipamerkan dalam Africa Day 2026, produk-produk tersebut belum dijual kepada pengunjung. Penjualan pernak-pernik tradisional Afrika rencananya akan dilakukan dalam agenda pameran berikutnya seperti International Women Day.