China Dukung Perpanjangan Gencatan Senjata Iran AS, Situasi Timur Tengah Tetap Kritis

Pemerintah China menyuarakan dukungan atas perpanjangan Gencatan Senjata Iran AS, namun memperingatkan bahwa kondisi di Timur Tengah masih sangat genting dan berpotensi konflik serius.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
China Dukung Perpanjangan Gencatan Senjata Iran AS, Situasi Timur Tengah Tetap Kritis
Pemerintah China menyuarakan dukungan atas perpanjangan Gencatan Senjata Iran AS, namun memperingatkan bahwa kondisi di Timur Tengah masih sangat genting dan berpotensi konflik serius. (AntaraNews)

Pemerintah China menyatakan dukungannya terhadap perpanjangan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. Meskipun demikian, Beijing menilai bahwa situasi di kawasan Timur Tengah masih berada dalam tahap yang sangat kritis. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menekankan pentingnya upaya diplomatik berkelanjutan untuk menyelesaikan perselisihan.

Perpanjangan gencatan senjata ini diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump, yang seharusnya berakhir pada 22 April. Trump mensyaratkan “proposal terpadu” dari Iran untuk mengakhiri konflik secara definitif. Namun, blokade laut AS tetap diberlakukan, yang ditolak Iran sebagai pelanggaran dan penghalang negosiasi.

Ketegangan antara kedua negara telah meningkat sejak 28 Februari, menyusul serangan AS dan Israel terhadap Iran yang dibalas oleh Teheran. Gencatan senjata dua pekan disepakati pada 7 April, namun perundingan lanjutan di Islamabad pada 11-12 April tidak membuahkan hasil signifikan.

Sikap China Terhadap Stabilitas Regional

China mendukung penuh perpanjangan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat sebagai langkah penting. Beijing melihat situasi di Timur Tengah saat ini sebagai fase genting yang berpotensi memicu konflik lebih lanjut. Oleh karena itu, China mendorong semua pihak untuk melanjutkan upaya politik dan diplomatik.

Tujuan utama dari upaya ini adalah untuk mencapai gencatan senjata yang penuh dan bertahan lama di kawasan. Juru Bicara Kemenlu China, Guo Jiakun, menegaskan prioritas utama adalah mencegah terulangnya pertempuran. Ini juga untuk menjaga perdamaian serta stabilitas di Timur Tengah dan kawasan Teluk.

Guo Jiakun menambahkan bahwa China siap memainkan peran aktif dan konstruktif di panggung internasional. Peran ini akan didasarkan pada proposisi empat poin yang sebelumnya diajukan oleh Presiden Xi Jinping. China berkomitmen menjadi teladan dalam melaksanakan kewajiban internasionalnya sebagai negara besar yang bertanggung jawab.

Empat prinsip tersebut meliputi komitmen hidup berdampingan secara damai dan mendorong hubungan antarnegara. Selain itu, penghormatan terhadap kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah negara-negara Teluk menjadi fokus utama. Penegakan hukum internasional dengan PBB sebagai inti dan pendekatan seimbang antara pembangunan dan keamanan juga ditekankan.

Syarat dan Respons Perpanjangan Gencatan Senjata

Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata yang seharusnya berakhir pada 22 April. Perpanjangan ini berlaku hingga Iran mengajukan “proposal terpadu” yang berisi syarat-syarat untuk mengakhiri perang. Langkah ini dilakukan sambil tetap mempertahankan tekanan kuat terhadap Teheran.

Namun, Trump menegaskan bahwa blokade laut AS akan tetap diberlakukan. Iran telah menyatakan bahwa tindakan blokade tersebut merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang ada. Teheran juga menolak untuk bernegosiasi “di bawah bayang-bayang ancaman” atau selama blokade masih berlangsung.

Sikap Iran ini mencerminkan ketidakpastian yang signifikan dalam proses perundingan yang sedang berlangsung. Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan serius. IRGC menyatakan bahwa produksi minyak di seluruh Timur Tengah dapat menjadi target jika serangan diluncurkan dari wilayah negara-negara tetangga di kawasan Teluk.

Sebagai respons terhadap pernyataan Trump, juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan kesiapan militer Iran. Ia menyatakan bahwa militer Iran siap menyerang target yang telah ditentukan. Kesiapan ini akan dilakukan jika Amerika Serikat melancarkan serangan baru, seperti dilaporkan oleh televisi pemerintah Iran.

Eskalasi Ketegangan dan Blokade Maritim

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah meningkat secara signifikan sejak 28 Februari lalu. Pada tanggal tersebut, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan ini menyebabkan kerusakan infrastruktur dan menimbulkan korban sipil di pihak Iran.

Sebagai balasan, Iran kemudian meluncurkan serangan terhadap wilayah Israel serta fasilitas militer AS yang berada di berbagai lokasi di Timur Tengah. Eskalasi ini menunjukkan siklus kekerasan yang perlu dihentikan untuk menjaga stabilitas regional.

Untuk meredakan situasi, Washington dan Teheran sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan, yang berlaku mulai 7 April hingga 22 April 2026. Namun, upaya perundingan lanjutan yang diadakan di Islamabad, Pakistan, pada 11–12 April tidak menghasilkan terobosan berarti.

Menanggapi kebuntuan perundingan, Presiden Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Langkah ini bertujuan untuk menekan Teheran agar kembali ke meja perundingan. Sejak 13 April, AS telah menutup lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz. Jalur ini sangat vital karena menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak, produk minyak bumi, dan LNG global.

Komando Pusat AS (CENTCOM) juga mengonfirmasi penyitaan kapal dagang Iran bernama Touska. Kapal tersebut disebut berupaya menembus blokade di Teluk Oman. Saat ini, kapal Touska berada di bawah kendali penuh Amerika Serikat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi