Trump Minta Netanyahu Kurangi Serangan ke Lebanon
Sebelumnya, Trump telah mengumumkan perjanjian gencatan senjata yang berlangsung selama dua minggu dengan Iran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa ia telah meminta kepada kepala otoritas Israel, Benjamin Netanyahu, untuk mengurangi serangan terhadap Lebanon. Permintaan ini muncul di tengah proses perundingan antara Washington dan Teheran untuk mengakhiri konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah.
"Saya berbicara dengan Bibi dan dia akan mengurangi serangan. Saya hanya berpikir kita harus sedikit lebih mengurangi serangan," ungkap Trump dalam wawancara dengan NBC News pada Kamis, 9 April 2026, merujuk kepada Netanyahu.
Trump juga menyampaikan optimisme yang tinggi mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran, seperti yang dilaporkan oleh Antara News pada 10 April. Dalam konteks ini, Netanyahu sebelumnya telah memberikan instruksi kepada kabinet Israel untuk memulai dialog langsung dengan Lebanon, dengan tujuan melucuti senjata gerakan Hizbullah dan membangun hubungan damai antara kedua negara.
Pada malam Selasa, 7 April, Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran, dengan syarat bahwa Teheran setuju untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Setelah pengumuman gencatan senjata tersebut, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menyatakan bahwa Teheran akan memulai pembicaraan dengan AS di Islamabad pada Jumat, 10 April. Meskipun demikian, Trump menegaskan bahwa penghentian serangan Israel di Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan dengan Iran, karena tindakan tersebut berkaitan dengan gerakan Hizbullah.
Iran, di sisi lain, menganggap bahwa hal ini merupakan pelanggaran terhadap gencatan senjata yang telah disepakati dengan Washington. Gencatan senjata ini dianggap sebagai langkah positif setelah terjadinya konflik terbaru di Timur Tengah, yang dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Sebagai respons terhadap serangan tersebut, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel dan beberapa fasilitas militer AS di Timur Tengah, serta membatasi lalu lintas di Selat Hormuz.
Tindakan ini memicu gangguan pasokan energi global dan menyebabkan lonjakan harga energi di seluruh dunia.