Pemerintah China menyambut baik gencatan senjata sepuluh hari yang disepakati oleh Lebanon dan Israel, di tengah ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah. Kesepakatan ini dicapai setelah mediasi dari Amerika Serikat, menandai langkah penting menuju deeskalasi konflik. Beijing berharap semua pihak dapat mempertahankan momentum negosiasi untuk penyelesaian damai.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa China mendukung semua upaya yang kondusif untuk mengakhiri konflik. Ia menekankan pentingnya penyelesaian perselisihan melalui cara politik dan diplomatik. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers di Beijing pada Jumat (17/4), menyoroti peran China dalam mendorong perdamaian regional.
Gencatan senjata ini mulai berlaku pada Kamis (16/4) pukul 21:00 GMT atau Jumat (17/4) pukul 04.00 WIB. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan antara Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Trump juga berencana mengundang kedua pemimpin ke Washington untuk pembicaraan lebih lanjut, menunjukkan komitmen AS dalam proses perdamaian.
Advertisement
Advertisement
China secara konsisten menyerukan deeskalasi di Timur Tengah, mengingat dampak konflik terhadap stabilitas regional dan global. Guo Jiakun menyoroti bahwa situasi di Timur Tengah telah memicu krisis pasokan bahan bakar global. Konflik yang tidak perlu ini telah menimbulkan kekhawatiran serius akan keamanan energi dunia.
Meskipun demikian, China belum mengirimkan bantuan langsung ke negara-negara yang mengalami krisis energi akibat terhambatnya pasokan bahan bakar. Prioritas utama Beijing saat ini adalah mencegah terulangnya pertempuran dan kekacauan lebih lanjut. Hal ini penting untuk menghindari kerusakan lebih parah pada keamanan energi global.
Guo Jiakun menegaskan bahwa China siap untuk menjaga komunikasi dengan semua pihak terkait. Tujuannya adalah untuk bersama-sama menjaga keamanan energi global. Komitmen ini menunjukkan peran proaktif China dalam mencari solusi jangka panjang bagi tantangan energi.
Advertisement
Advertisement
Di tengah gencatan senjata Lebanon Israel, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengumumkan pembukaan penuh lalu lintas komersial dan perkapalan di Selat Hormuz. Pengumuman ini disampaikan pada Jumat (17/4) melalui media sosial X. Pembukaan selat ini berlaku selama masa gencatan senjata berlangsung, memberikan kelegaan bagi jalur perdagangan vital.
Araghchi menjelaskan bahwa jalur perkapalan yang dibuka telah dikoordinasikan dengan otoritas pelabuhan dan kemaritiman Republik Islam Iran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan apresiasi atas keputusan Teheran ini. Trump bahkan menyampaikan terima kasih melalui platform Truth Social, meskipun sempat menyebut Selat Hormuz sebagai “Selat Iran”.
Namun, beberapa saat kemudian, Presiden Trump kembali menyampaikan di Truth Social bahwa blokade terhadap pelabuhan Iran akan tetap dilanjutkan. Blokade ini akan berlaku hingga negosiasi dengan Iran selesai sepenuhnya. Selat Hormuz adalah jalur strategis yang menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak, produk minyak bumi, dan gas alam cair dunia.
Advertisement
Advertisement
Gencatan senjata Lebanon Israel ini datang setelah serangkaian peristiwa tegang, termasuk serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Negosiasi putaran pertama antara AS dan Iran sempat terjadi pada Sabtu (11/4) di Islamabad, Pakistan. Presiden Trump sebelumnya mengumumkan kesepakatan gencatan senjata dua pekan dengan Teheran.
Namun, perundingan tersebut menemui jalan buntu. Pada Minggu pagi (12/4), Wakil Presiden AS J. D. Vance, selaku ketua delegasi AS, menyatakan bahwa Iran dan AS gagal mencapai kesepakatan. Delegasi AS kembali tanpa hasil, menunjukkan kompleksitas hubungan kedua negara.
Menyusul kegagalan negosiasi awal, Trump mengerahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade Selat Hormuz, memperparah ketegangan. Menurut pemberitaan Axios yang dikutip RIA Novosti, babak kedua negosiasi antara AS dan Iran dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada Minggu (19/4). Ini menunjukkan upaya berkelanjutan untuk mencari solusi diplomatik.
Advertisement
Sumber: AntaraNews