Harga Emas Dunia Diprediksi Menyentuh USD 4.400, Ini Faktor Pendorongnya
Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian politik di Amerika Serikat serta spekulasi seputar pergantian posisi Ketua Federal Reserve (The Fed).
Pengamat ekonomi dan pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi harga emas dunia akan kembali menguat, berpotensi mencapai USD 4.400 pada akhir tahun. Lonjakan ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian politik di Amerika Serikat serta spekulasi seputar pergantian posisi Ketua Federal Reserve (The Fed).
Ibrahim menilai kondisi tersebut mendorong investor global kembali memburu emas sebagai aset lindung nilai.
"Kalau saya lihat per hari ini ada kemungkinan besar bahwa harga emas dunia di akhir tahun ya di bulan Desember ini kemungkinan besar adalah di USD 4.400," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (9/12).
Harga emas dunia ditutup di level USD 4.196
Dalam perdagangan akhir pekan lalu, harga emas dunia ditutup di level USD 4.196, meski sebelumnya sempat melonjak hingga USD 4.372 sebelum terkoreksi. Pergerakan tajam ini menunjukkan pasar masih sangat rentan terhadap sentimen global, khususnya yang berasal dari Amerika Serikat.
Ibrahim mengatakan volatilitas tersebut bukan semata dipicu oleh faktor teknikal, melainkan oleh ketidakpastian arah kebijakan moneter AS ke depan.
Salah satu sentimen terkuat yang memengaruhi pergerakan emas adalah spekulasi pergantian pimpinan The Fed setelah Jerome Powell. Ketidakjelasan mengenai siapa yang akan menggantikan Powell dinilai menambah kecemasan di pasar keuangan.
Penasihat ekonomi Gedung Putih
Nama Kevin Hassett, penasihat ekonomi Gedung Putih dan pendukung kuat Presiden Donald Trump, disebut sebagai kandidat kuat. Jika terealisasi, penunjukan tersebut dinilai berpotensi mengubah arah kebijakan moneter AS secara signifikan.
“Salah satu penyebabnya adalah tentang spekulasi tentang pergantian kepemimpinan The Fed. Ya ini yang larinya itu adalah perpolitikan di Amerika yang terus memanas. Di mana Trump kemungkinan besar akan menunjuk Kevin Hassett,” ujarnya.
Ekspektasi Suku Bunga Rendah Perkuat Daya Tarik Emas
Di sisi lain, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed turut memperkuat tren penguatan emas. Ibrahim menyebut sekitar 88 persen ekonom memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin dalam pertemuan Desember mendatang.
Namun, yang menjadi perhatian utama pelaku pasar bukan hanya pemangkasan suku bunga tersebut, melainkan proyeksi kebijakan moneter sepanjang 2026. Arah kebijakan ini dinilai sangat bergantung pada siapa yang akan memimpin The Fed setelah Powell.
“Di sisi lain pun juga bank sentral Amerika di bulan Desember sudah mengerucut ya 88 persen para ekonom bahwa bank sentral Amerika kemungkinan besar akan menurunkan suku bunga 25 basis point dalam pertemuan di bulan Desember ini,” ujarnya.
Faktor Geopolitik
Selain faktor AS, eskalasi geopolitik di berbagai kawasan turut mendorong ekspektasi kenaikan harga emas. Ibrahim menyebut pertemuan utusan Gedung Putih dengan Presiden Rusia Vladimir Putin tidak menghasilkan terobosan terkait konflik Rusia-Ukraina.
Serangan balasan sporadis Rusia ke Kiev membuat Eropa kembali memanas, mendorong Ukraina menggelar pertemuan darurat dengan Inggris, Prancis, dan Italia.
Ketegangan di Asia Timur juga meningkat seiring latihan militer Tiongkok di sekitar perairan Taiwan. Jepang menegaskan akan membantu Taiwan jika terjadi upaya pencaplokan wilayah, menandai potensi konflik yang lebih luas.
"Nah, ini yang ketegangan-ketegangan inilah yang membuat saya masih optimis bahwa harga emas dunia sampai akhir tahun akan kembali mengalami penguatan," katanya.