Harga Emas Dunia Cetak Rekor Lagi, Tembus Rp55 Juta
Kenaikan harga emas dipidcu ketegangan Amerika-China hingga membuat investor lebih memilih aset aman.
Harga emas terus mencatatkan rekor baru pada Rabu (waktu setempat) dengan menembus angka USD3.300 per ounceatau sekitar Rp55 juta dengan kurs Rp16.837 per dolar Amerika Serikat.
Kenaikan harga emas ini terjadi seiring dengan melemahnya dolar AS dan meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China yang menyebabkan investor beralih ke aset yang dianggap aman.
Menurut laporan dari CNBC pada Kamis (17/4), harga emas spot mengalami kenaikan sebesar 3,1% menjadi USD 3.327,78 per ounce, sedangkan emas berjangka AS naik 3,2% menjadi USD 3.344,10.
"Emas tetap mendapatkan dukungan yang kuat dari penurunan nilai dolar AS secara umum, ketidakpastian terkait pengumuman tarif, serta kekhawatiran akan potensi resesi global," ungkap Lukman Otunuga, analis riset senior di FXTM.
Ia juga menambahkan bahwa setelah berhasil menembus USD 3.300, pergerakan harga emas akan ditentukan oleh level-level psikologis selanjutnya.
"Para pelaku pasar mungkin akan mengincar level USD 3.400 hingga USD 3.500 ke atas. Namun, aksi ambil untung atau perkembangan positif dalam hubungan dagang AS-China dapat memicu penjualan," tambah Otunuga.
Ketegangan AS dan China Meningkat
Peningkatan ketegangan kembali terjadi setelah Presiden AS Donald Trump pada Selasa lalu memerintahkan penyelidikan mengenai kemungkinan penerapan tarif terhadap semua impor mineral penting.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya untuk menekan China serta memperkuat industri domestik. Situasi ini mengganggu sentimen pasar global dan memicu aliran dana ke aset aman seperti emas.
Selain itu, nilai tukar dolar AS mengalami pelemahan terhadap sejumlah mata uang utama dan bertahan di dekat posisi terendah dalam tiga tahun terakhir, yang semakin meningkatkan daya tarik emas bagi para pemegang mata uang lainnya.
Kenaikan harga emas semakin terasa
Sepanjang tahun ini, harga emas telah meningkat hampir USD 700. Kenaikan ini dipicu oleh berbagai faktor seperti ketegangan dalam perdagangan, harapan akan pemangkasan suku bunga, serta pembelian besar-besaran oleh bank sentral di seluruh dunia.
Meskipun demikian, para analis mengingatkan akan kemungkinan terjadinya koreksi harga.
"Reli harga emas saat ini agak tidak terkendali, sehingga rawan koreksi. Tapi selama lebih dari setahun terakhir, koreksi harga cenderung dangkal karena banyak pelaku pasar siap membeli saat harga melemah," ungkap Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank.
Di sisi lain, para investor kini tengah menunggu pidato Ketua The Fed, Jerome Powell, yang dijadwalkan berlangsung hari ini. Mereka berharap untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga di masa mendatang.
Pidato ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai langkah-langkah yang akan diambil oleh bank sentral dalam menghadapi kondisi ekonomi yang terus berubah.
Donald Trump meningkatkan tarif impor dari China menjadi 245%
Gedung Putih menginformasikan bahwa China kini menghadapi tarif impor yang mencapai 245%. Hal ini merupakan respons terhadap tindakan balasan yang diambil oleh negara tersebut.
Ketegangan dalam perang dagang antara dua ekonomi terbesar di dunia semakin meningkat akibat langkah yang diambil oleh AS.
Menurut berita yang dirilis oleh Newsweek pada Rabu, 16 April 2025, tarif yang mungkin dikenakan ini lebih tinggi dari tarif sebelumnya yang mencapai 145%, seperti yang tercantum dalam lembar fakta yang diterbitkan oleh Gedung Putih pada malam Selasa.
Tarif ini merupakan bagian dari perintah eksekutif yang ditandatangani oleh Presiden AS, Donald Trump, yang meluncurkan penyelidikan mengenai "risiko keamanan nasional yang ditimbulkan oleh ketergantungan AS pada mineral penting yang diimpor dan produk turunannya."
Mengutip dari Anadolu Ajansi, perintah tersebut juga menjelaskan mengenai tarif timbal balik yang diumumkan pada 2 April.
"China kini menghadapi tarif hingga 245% atas impor ke Amerika Serikat sebagai akibat dari tindakan pembalasannya," ungkap Gedung Putih.
"Pada hari pertama, Presiden Trump memulai kebijakan perdagangan America First untuk membuat ekonomi Amerika Serikat hebat lagi," seperti yang tercatat dalam kutipan tersebut.
Lebih dari 75 negara telah menghubungi untuk mendiskusikan kesepakatan perdagangan baru. Oleh karena itu, tarif yang lebih tinggi secara individual saat ini dihentikan sementara di tengah diskusi ini, kecuali untuk China yang memberikan respons balasan.
"Beberapa bulan lalu, China melarang ekspor gallium, germanium, antimon, dan material berteknologi tinggi lainnya yang memiliki potensi aplikasi militer ke Amerika Serikat," kata pernyataan tersebut.
"Baru pekan ini, China menghentikan ekspor enam logam tanah jarang berat serta magnet tanah jarang untuk memutus pasokan komponen yang sangat penting bagi produsen mobil, perusahaan semikonduktor, dan kontraktor militer di seluruh dunia," lanjut kutipan tersebut.
Pernyataan yang dikeluarkan tidak memberikan rincian tarif yang akan dikenakan oleh China, tetapi mengindikasikan bahwa tarif tersebut bisa meningkat hingga 245%.
Sebagai balasan, China telah menaikkan tarif impor barang-barang asal AS menjadi 125% pada Jumat pekan lalu, setelah Trump menaikkan tarif atas barang-barang China menjadi 145%. Sementara itu, rencana pungutan untuk barang-barang dari negara lain dihentikan sementara selama 90 hari.