Mobil Listrik di China Makin Mahal, Ini Biang Keroknya
Kenaikan harga mulai merambah pasar kendaraan energi baru (NEV) di China, menunjukkan tren yang signifikan dalam industri otomotif saat ini.
Gelombang kenaikan harga mulai melanda pasar kendaraan energi baru (new energy vehicle/NEV) di China. Setelah beberapa tahun terjebak dalam perang harga, kini sejumlah produsen mulai menaikkan harga kendaraan mereka akibat lonjakan biaya rantai pasok.
Menurut laporan media China, Jiemian News, lebih dari 15 produsen otomotif telah melakukan penyesuaian harga. Beberapa nama besar seperti BYD, Xiaomi, dan merek joint venture lainnya juga mulai menaikkan harga karena biaya komponen penting terus merangkak naik.
Faktor utama yang memicu kenaikan ini adalah harga chip penyimpanan DRAM dan bahan baku baterai seperti lithium carbonate yang semakin mahal. Kondisi ini menandai perubahan besar dalam industri mobil listrik Tiongkok.
Sebelumnya, pasar NEV di negara tersebut dikenal dengan persaingan harga yang agresif untuk merebut pangsa pasar. Namun, kini tekanan biaya produksi membuat strategi diskon besar-besaran sulit untuk dipertahankan.
Bahkan, beberapa produsen memilih untuk memangkas insentif penjualan daripada terus menanggung beban produksi yang meningkat.
Salah satu contoh yang mencolok adalah BYD, yang sebelumnya menaikkan harga sistem bantuan berkendara berbasis LiDAR.
Paket Advanced Driver Assistance System (ADAS) tersebut kini dibanderol sekitar US$ 1.660 atau setara dengan Rp 27 juta lebih. Kenaikan harga ini disebut berkaitan langsung dengan lonjakan harga DRAM, yang merupakan komponen penting dalam sistem komputasi kendaraan modern.
Dengan demikian, perubahan ini menunjukkan adanya transisi dalam strategi bisnis para produsen otomotif di pasar NEV China.
Kendaraan Listrik di China Tumbuh
Tekanan biaya yang dihadapi industri otomotif juga berasal dari sektor energi dan bahan mentah global. Data terbaru menunjukkan bahwa inflasi produsen di China telah mencapai angka tertinggi dalam 45 bulan terakhir.
Kenaikan harga logam non-ferrous, minyak, gas, serta komponen teknologi memberikan dampak yang signifikan terhadap biaya produksi mobil listrik dan hybrid. Meskipun demikian, pasar mobil listrik di China tetap menunjukkan pertumbuhan yang sangat agresif.
Pada April 2026, tingkat penetrasi kendaraan energi baru (NEV) di negara tersebut telah menembus lebih dari 61 persen. Hal ini berarti lebih dari setengah dari total mobil baru yang terjual di China merupakan kendaraan listrik murni atau plug-in hybrid (PHEV). Dengan kondisi ini, permintaan terhadap baterai dan komponen elektronik terus meningkat, sehingga menambah tekanan pada rantai pasokan yang ada.