Perang Harga Mobil Listrik Makin Sengit hingga Saham BYD Ambrol
Harga saham produsen mobil listrik terus anjlok, sementara margin keuntungan perusahaan-perusahaan otomotif terus turun.
Industri kendaraan listrik (EV) di China tengah menghadapi tekanan berat menyusul perang harga yang semakin memanas. Harga saham produsen mobil listrik terbesar China, BYD, anjlok hingga 17 persen dalam sepekan terakhir, sementara margin keuntungan perusahaan-perusahaan otomotif terus menurun.
Dilansir dari South China Morning Post, saham BYD yang terdaftar di Bursa Hong Kong sempat jatuh dari HKD477,80 pada 23 Mei menjadi HKD378,20 pada awal pekan ini, kehilangan nilai pasar sekitar HKD122,3 miliar (setara Rp254 triliun). Meskipun sempat pulih 4 persen keesokan harinya, tekanan masih terasa akibat laporan kinerja kuartal yang melemah.
Sebagai produsen kendaraan energi baru (NEV) terbesar di dunia, BYD melaporkan penjualan sebesar 382.476 unit pada Mei 2025, naik tipis 0,6 persen dari April. Namun, di pasar domestik China, penjualan stagnan dibandingkan Mei 2024 dan justru turun 2,5 persen dari bulan sebelumnya, di tengah gelombang diskon yang agresif.
BYD Turunkan Harga
Sekitar sepekan sebelumnya, BYD mengumumkan pemangkasan harga untuk 22 model mobilnya, langkah yang disebut para analis sebagai strategi perusahaan untuk menggenjot volume produksi meski mengorbankan margin keuntungan.
“Strategi BYD menunjukkan fokus pada skala produksi, bukan laba per unit, di tengah permintaan domestik yang lemah dan persaingan sengit,” tulis tim analis HSBC dalam laporannya.
JPMorgan Chase mencatat, produsen mobil di China memangkas harga hingga 16,8 persen pada April 2025, lebih dari dua kali lipat rata-rata pemangkasan sepanjang tahun. Akibatnya, margin keuntungan industri menurun menjadi 3,9 persen pada kuartal pertama, dari 4,3 persen sebelumnya.
Ketua Great Wall Motor, Wei Jianjun, memperingatkan bahwa jika perang harga terus berlanjut, industri otomotif China bisa menghadapi krisis likuiditas seperti yang menimpa pengembang properti China Evergrande. Namun, pernyataan ini dibantah oleh Direktur Komunikasi BYD, Li Yunfei, yang menyebut bahwa “tidak ada Evergrande di antara produsen mobil utama China”.
Meski beberapa perusahaan seperti Leapmotor dan Geely mencatatkan pertumbuhan penjualan, pemain lain mengalami penurunan. Pengiriman mobil oleh Nio turun 2,8 persen, sementara Xpeng turun 4,3 persen pada Mei.
Pemerintah China Serukan Persaingan Sehat
Langkah BYD memicu reaksi keras dari pesaing yang ikut menurunkan harga. Situasi ini mendorong kekhawatiran regulator, termasuk media resmi Partai Komunis, People's Daily, yang menyebut bahwa perang harga “mengganggu ekosistem industri, merusak tatanan pasar, dan mengancam keamanan rantai pasokan”.
Surat kabar tersebut mendesak produsen untuk mengutamakan pembangunan jangka panjang dan menghentikan praktik pemangkasan harga demi keuntungan sesaat.
Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi menyatakan akan meninjau ulang kondisi persaingan di industri EV dan memperketat pengawasan. Sementara itu, Asosiasi Produsen Mobil China meminta anggotanya untuk menjaga persaingan yang sehat dan menghindari praktik dumping serta monopoli.
“Perang harga saat ini mencerminkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, yang terus mendorong deflasi,” kata Robin Xing, Kepala Ekonom Morgan Stanley untuk China.
Dia menilai bahwa meski ada seruan untuk mendorong konsumsi domestik, pendekatan yang terlalu mengandalkan sisi pasokan masih mendominasi.