Situs Batujaya: Pimpinan MPR Sebut Bukti Peradaban Luhur dan Toleransi Bangsa Indonesia
Situs Batujaya di Karawang adalah bukti peradaban luhur dan nilai toleransi bangsa, tegas Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. Situs ini bukan sekadar peninggalan purbakala.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyoroti pentingnya Situs Batujaya di Karawang, Jawa Barat. Ia menyebut situs ini sebagai bukti nyata peradaban luhur bangsa Indonesia yang telah ada sejak berabad-abad silam. Pernyataan ini disampaikan dalam Forum Diskusi Aktual Berbangsa dan Bernegara MPR RI.
Diskusi bertajuk "Batujaya: Warisan Peradaban dan Identitas Bangsa" tersebut berlangsung di kawasan Percandian Batujaya pada Jumat (12/6). Lestari Moerdijat menekankan bahwa Situs Batujaya bukan hanya sekadar situs purbakala. Situs ini adalah saksi bisu kehidupan masyarakat yang harmonis di masa lalu.
Keberadaan kompleks percandian Buddha dari abad ke-5, yang lebih tua dari Candi Borobudur, menunjukkan kekayaan sejarah. Bersamaan dengan tumbuhnya kerajaan Hindu, masyarakat di Batujaya mampu hidup berdampingan dalam keberagaman. Ini menjadi pembelajaran berharga tentang toleransi yang telah mengakar di Nusantara.
Situs Batujaya dan Akar Toleransi Bangsa
Lestari Moerdijat secara gamblang menjelaskan bagaimana kompleks percandian di Situs Batujaya menjadi representasi toleransi. Candi Buddha yang berasal dari abad ke-5 ini menunjukkan adanya peradaban maju. Keberadaan candi ini jauh melampaui usia Candi Borobudur yang lebih dikenal luas.
Pada periode yang sama, berbagai kerajaan Hindu mulai berkembang di Nusantara. Namun, di Batujaya, pemeluk kedua agama tersebut dapat hidup berdampingan secara damai. Fenomena ini menggarisbawahi bahwa nilai toleransi sudah hidup dan berakar kuat sejak berabad-abad lalu di wilayah Nusantara.
Pembelajaran dari Situs Batujaya ini sangat relevan untuk konteks Indonesia modern. Ia mengajarkan bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan fondasi kekuatan bangsa. Situs purbakala ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama.
Batujaya: Fondasi Empat Pilar Kebangsaan
Peninggalan bersejarah di Situs Batujaya memiliki kaitan erat dengan empat pilar kebangsaan Indonesia. Lestari Moerdijat menegaskan bahwa situs ini merupakan bagian integral dari perjalanan sejarah bangsa. Perjalanan sejarah ini bermuara pada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Tanpa pemahaman yang mendalam terhadap nilai-nilai sejarah, bangsa Indonesia berisiko kehilangan arah. Lestari Moerdijat mengingatkan bahwa budaya yang lemah akan membuat suatu bangsa mudah tercabut dari akarnya. Oleh karena itu, Situs Batujaya berperan sebagai pengingat akan identitas dan jati diri bangsa.
Pemahaman akan sejarah yang terkandung dalam Situs Batujaya sangat krusial. Hal ini membantu memperkuat karakter generasi penerus bangsa. Warisan budaya ini menjadi landasan untuk membangun bangsa yang kokoh dan berintegritas.
Menjaga Ingatan Bangsa di Era Digital
Forum diskusi tersebut turut dihadiri oleh perwakilan Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Lestari Moerdijat berpesan kepada para calon arkeolog yang hadir. Ia berharap mereka dapat menjadi penjaga ingatan bangsa di masa depan.
Di tengah era digital yang serba cepat, muncul tantangan besar berupa pseudoarkeologi. Lestari Moerdijat menyebutkan adanya cerita-cerita karangan yang marak di masyarakat dan berpotensi menyesatkan. Oleh karena itu, kolaborasi dari seluruh pihak sangat dibutuhkan.
Kolaborasi ini penting untuk menjawab berbagai tantangan sejarah yang muncul. Tujuannya adalah untuk menunjukkan dan memahami bahwa warisan budaya seperti Situs Batujaya adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah peradaban bangsa. Nilai-nilai luhur di dalamnya sangat penting untuk membangun karakter generasi penerus bangsa.
Sumber: AntaraNews