Misteri Kapal Nabi Nuh di Gunung Ararat, Peneliti Temukan Terowongan Bawah Tanah yang Cocok dengan Kisah Alkitab
Peneliti menemukan terowongan tersembunyi di bawah tanah di gunung tersebut.
Di pegunungan tinggi Turki, terdapat sebuah formasi geologi misterius yang diyakini sebagian peneliti sebagai sisa-sisa Bahtera Nabi Nuh.
Menurut Alkitab, kapal raksasa tersebut menyelamatkan umat manusia dan berbagai jenis hewan dari kehancuran saat banjir besar lebih dari 4.300 tahun lalu.
Kini, tim peneliti asal Amerika yang bekerja di Formasi Durupınar dekat Gunung Ararat menemukan bukti adanya terowongan tersembunyi yang disebut sesuai dengan kisah dalam Alkitab.
Andrew Jones, peneliti independen dari Noah's Ark Scans, menggunakan radar penembus tanah untuk menemukan jaringan “koridor” yang mengarah ke ruang kosong di bagian tengah yang ia sebut sebagai atrium.
Teknologi Pendeteksi Panas
Jones mengaitkan temuan ini dengan deskripsi Bahtera dalam Alkitab, yang menyebut kapal tersebut memiliki tiga tingkat untuk menampung Nuh, keluarganya, serta pasangan hewan.
“Tuhan memerintahkan Nuh membawa hewan-hewan itu masuk. Jadi hewan-hewan itu akan berada di sana, bersama Nuh dan keluarganya,” kata Jones kepada GB News, seperti dilansir Daily Mail, Senin (20/4).
“Yang menarik, rongga-rongga ini tersusun di bawah tanah—dan bukan acak. Terowongan ini mengikuti pola tertentu. GPR adalah cara untuk melihat bawah tanah menggunakan radar.”
Ia menambahkan bahwa studi lanjutan menggunakan termografi inframerah (IRT), teknologi pendeteksi panas yang dapat mengungkap struktur tersembunyi, juga menunjukkan kemungkinan adanya bentuk lambung kapal yang terkubur jauh di dalam tanah.
Ukuran Bahtera
Terletak sekitar 29 kilometer di selatan Gunung Ararat—puncak tertinggi di Turki—Formasi Durupınar baru dikenal dunia modern kurang dari satu abad.
Menurut laporan setempat, hujan deras dan gempa pada Mei 1948 mengikis tanah di sekitarnya dan menyingkap formasi misterius tersebut, yang kemudian ditemukan oleh seorang penggembala Kurdi.
Alkitab menyebut Bahtera Nuh berlabuh di “pegunungan Ararat” setelah banjir selama 150 hari yang menenggelamkan bumi dan semua makhluk hidup yang tidak berada di dalam kapal kayu itu.
Yang menarik, formasi tersebut berada dekat dengan gunung yang puncaknya diyakini sebagian orang sesuai dengan bentuk dan ukuran bahtera.
Menurut ukuran dalam Alkitab, bahtera itu memiliki panjang 300 hasta, lebar 50 hasta, dan tinggi 30 hasta—sekitar 157 meter panjang, 26 meter lebar, dan 16 meter tinggi.
Memicu Perdebatan
Gagasan bahwa bahtera tersebut mendarat di Gunung Ararat telah lama memicu perdebatan.
Banyak ilmuwan berpendapat bahwa formasi tersebut hanyalah fenomena geologi alami, sementara yang lain yakin bahwa itu menunjukkan sesuatu yang jauh lebih luar biasa.
Tim Noah's Ark Scans termasuk yang meyakini kemungkinan kedua.
Jones mengatakan kepada GB News bahwa ia dan timnya mengumpulkan 88 sampel dari dalam dan luar “kapal” pada tahun 2024.
Pengujian tanah menunjukkan kadar kalium yang sangat tinggi, yang dinilai konsisten dengan jumlah besar kayu yang telah terurai.
“Namun, karena iklim yang sangat dingin, banyak bagian bahtera masih utuh dan mengalami pembatuan. Selama hampir enam bulan dalam setahun, lokasi ini sepenuhnya membeku,” tulis Noah's Ark Scans di platform X.
Pada 2024, Jones mengungkapkan bahwa timnya menemukan struktur bersudut hingga kedalaman 20 kaki di bawah permukaan, yang bisa jadi merupakan ruangan di bawah semacam dek.
Pengujian Tanah
Dalam Kejadian 6:14, Alkitab menggambarkan bahtera: “Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofer; buatlah kamar-kamar di dalamnya dan tutuplah dengan ter di bagian dalam dan luar.”
“Ini bukan sesuatu yang diharapkan jika lokasi tersebut hanya berupa batu padat atau hasil aliran lumpur acak,” kata Jones kepada The Christian Broadcasting Network.
“Namun ini justru sesuai dengan apa yang diharapkan jika ini adalah kapal buatan manusia, selaras dengan spesifikasi Bahtera Nuh dalam Alkitab.”
Tim juga melakukan pengujian tanah yang menemukan hal-hal yang dianggap menarik.
“Kami melihat rumput yang tumbuh di dalam formasi berbentuk kapal memiliki warna berbeda dibanding area di luarnya,” ujar Jones, yang menurutnya bisa mengindikasikan asal buatan manusia, bukan alami.
William Crabtree, anggota lain dari Noah's Ark Scans, menambahkan bahwa sebuah terowongan tampak membentang dari ujung formasi ke bagian tengah, dan cukup besar untuk dilalui manusia.
“Tujuan utamanya bukan hanya uji tanah atau pemindaian GPR, tapi bisa masuk ke dalam ‘kapal’ itu sendiri,” kata Jones kepada Patterns of Evidence.
“Pengeboran inti, mengambil sampel dari dalam, melihat struktur bawahnya, rongga-rongga itu, bahkan memasukkan kamera ke dalamnya. Ini peluang yang mungkin bisa kami lakukan musim berikutnya.”
“Apa pun yang terjadi, kapan pun Tuhan membuka jalan, kami akan terus melanjutkan penelitian di lokasi ini.”