Andy Burnham resmi dilantik sebagai Perdana Menteri Inggris ke-59. Politikus Partai Buruh berusia 56 tahun itu menjadi salah satu pemimpin pertama yang secara terbuka menjadikan identitasnya sebagai warga Inggris utara sebagai bagian dari citra politiknya.
Dilansir BBC, Senin (20/7/2026), Burnham dikenal luas sebagai sosok yang vokal memperjuangkan kepentingan wilayah utara Inggris. Julukan "King of the North" melekat kepadanya sejak pandemi Covid-19, ketika ia menentang kebijakan pemerintah pusat terkait pembatasan aktivitas di Greater Manchester.
Meski kini memimpin pemerintahan Inggris, perjalanan Burnham menuju Downing Street tidak berlangsung singkat. Ia menghabiskan puluhan tahun berkarier di dunia politik sebelum akhirnya dipercaya menjadi perdana menteri.
Burnham memulai karier politiknya di Westminster. Ia sempat dua kali mencalonkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh, masing-masing pada 2010 dan 2015.
Pada pencalonan pertama, ia finis di posisi keempat dari lima kandidat. Lima tahun kemudian, ia kembali mencoba peruntungan, tetapi kalah telak dari Jeremy Corbyn.
Karier politik Burnham berubah ketika ia mengambil keputusan meninggalkan Westminster untuk maju sebagai wali kota pertama Greater Manchester pada 2017.
Keputusan itu sempat dipandang berisiko. Namun, justru dari jabatan tersebut Burnham membangun popularitasnya dan menjelma menjadi salah satu tokoh politik paling berpengaruh di luar London.
Advertisement
Tumbuh dari Kelas Pekerja
Burnham lahir di Liverpool pada 1970 dan dibesarkan di Culcheth, Cheshire. Ayahnya bekerja sebagai teknisi BT, sedangkan ibunya menjadi resepsionis di sebuah klinik dokter. Keduanya merupakan pendukung setia Partai Buruh.
Ketertarikan Burnham terhadap politik muncul sejak usia 14 tahun setelah menonton serial BBC Boys from the Blackstuff yang mengangkat kehidupan para pengangguran di Liverpool. Ia juga dikenal sebagai penggemar berat klub sepak bola Everton dan aktif berolahraga sejak kecil. Saat sekolah menengah, Burnham pernah memenangkan simulasi pemilu sekolah sebagai kandidat Partai Buruh dengan kemenangan telak.
Menurut Burnham, latar belakangnya sebagai anak dari keluarga Katolik kelas pekerja membentuk pandangannya mengenai keadilan sosial.
Meski mengaku tidak terlalu religius, Burnham menjadi perdana menteri pertama Inggris yang beragama Katolik saat memasuki Downing Street.
Dalam wawancara dengan The Times, Burnham mengungkapkan ibunya akan terus menyimpan rosario sebagai kenang-kenangan atas pelantikannya. Sementara ayahnya tidak dapat menyaksikan momen tersebut karena menderita demensia.
"Itu menjadi sebuah kesedihan karena sebenarnya ia akan merasa bangga. Bagi saya, ini juga merupakan pencapaiannya," ujar Burnham.
Advertisement
King of The North
Burnham menjadi generasi pertama dalam keluarganya yang mengenyam pendidikan tinggi. Ia mengambil jurusan Sastra Inggris di Universitas Cambridge.
Dalam buku autobiografinya Head North, Burnham mengaku sempat merasa tidak cocok dengan lingkungan kampus. Musik dari band-band asal Manchester seperti The Smiths dan The Stone Roses disebut membantunya menemukan rasa percaya diri.
Setelah lulus kuliah, Burnham bekerja sebagai jurnalis di sejumlah majalah industri sebelum beralih ke dunia politik sebagai peneliti anggota parlemen Tessa Jowell.
Kariernya terus menanjak. Ia menjadi penasihat khusus Menteri Kebudayaan Chris Smith, kemudian terpilih sebagai anggota parlemen Leigh pada 2001. Di era Tony Blair dan Gordon Brown, Burnham pernah menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Menteri Kesehatan, hingga Kepala Sekretaris Kementerian Keuangan.
Saat menjadi Menteri Kebudayaan, Burnham ikut mendorong dibukanya kembali penyelidikan Tragedi Hillsborough yang menewaskan 97 pendukung Liverpool pada 1989.
Pada 2017, Burnham terpilih sebagai Wali Kota Greater Manchester dengan lebih dari 60 persen suara. Ia kembali menang dengan selisih lebih besar pada pemilu 2021. Selama menjabat, Burnham mendapat apresiasi karena mereformasi sistem transportasi melalui Bee Network, yang mengintegrasikan layanan bus dengan moda transportasi lainnya di bawah kendali pemerintah daerah.
Ia juga berupaya mengatasi persoalan tunawisma, meski target mengakhirinya pada 2020 belum berhasil tercapai.
Popularitas Burnham meningkat tajam saat pandemi Covid-19. Ia secara terbuka mengkritik pemerintah Partai Konservatif yang dianggap memperlakukan wilayah utara Inggris secara tidak adil dalam penerapan pembatasan aktivitas.
Sikap itulah yang semakin mengukuhkan julukan "King of the North".
Advertisement
Kembali ke Westminster hingga Jadi Perdana Menteri
Menjelang akhir 2025, Burnham mulai membuka peluang kembali ke politik nasional dan mempertimbangkan maju sebagai pemimpin Partai Buruh.
Namun, langkahnya sempat terhambat setelah tidak mendapat izin maju dalam pemilihan sela di Greater Manchester.
Situasi berubah setelah Partai Buruh mengalami kemunduran dalam sejumlah pemilu regional dan tekanan terhadap kepemimpinan Perdana Menteri Sir Keir Starmer semakin besar.
Kesempatan datang ketika anggota parlemen Josh Simons mengundurkan diri dari daerah pemilihan Makerfield. Burnham kemudian dipilih sebagai kandidat Partai Buruh dan berhasil kembali ke Westminster.
Tak lama berselang, ia dipercaya memimpin Partai Buruh dan akhirnya resmi dilantik sebagai Perdana Menteri Inggris ke-59, menandai puncak perjalanan politik yang telah dibangunnya selama lebih dari dua dekade.