Teknik Baru Baca Sinyal Homo erectus pada Garis Keturunan Manusia dari Gigi 400 Ribu Tahun

Enam gigi Homo erectus China berusia 400 ribu tahun mengungkap dua mutasi protein enamel yang memberi petunjuk hubungan dengan manusia modern.

Nasywa Fakhirah
Oleh Nasywa Fakhirah - Reporter
Teknik Baru Baca Sinyal Homo erectus pada Garis Keturunan Manusia dari Gigi 400 Ribu Tahun
Manusia Purba Homo Erectus (Wikipedia/Creative Commons)

Tim peneliti IVPP, Akademi Ilmu Pengetahuan China, melaporkan bukti molekuler yang mungkin menunjukkan adanya hubungan yang sebelumnya belum diketahui antara Homo erectus dan manusia modern. Dikutip dari Science Daily, Sabtu (12/9/2026), temuan ini berasal dari analisis protein pada fosil gigi berusia ratusan ribu tahun.

Secara paralel, mereka mengembangkan teknik paleoproteomik baru yang mampu mengekstraksi informasi dari fosil dengan kerusakan sekecil mungkin. Dengan cara ini, bentuk fosil tetap terjaga walau sampel yang diambil sangat minim.

Keterbatasan bukti molekuler selama ini membuat susunan genetik, keragaman populasi, dan keterkaitan Homo erectus dengan kelompok manusia yang muncul kemudian sulit dipastikan. Selain bernilai ilmiah, banyak sisa manusia purba juga memiliki nilai budaya, sehingga pengambilan sampel destruktif sering tidak dimungkinkan.

Di bawah pimpinan Fu Qiaomei, tim menerapkan pengikisan asam pada enam gigi Homo erectus dari China untuk mengekstraksi jejak protein sambil menjaga morfologi fosil tetap utuh. Homo erectus diketahui sebagai spesies pertama dari genus Homo yang bermigrasi keluar Afrika, namun rekam molekulernya selama ini sangat terbatas.

Dua Mutasi Pada Protein Enamel

Sebuah artikel ulasan yang terbit bersamaan di jurnal Nature menekankan pentingnya protein enamel yang diisolasi dari enam gigi Homo erectus asal China dan menyebut bahwa protein tersebut memberikan "pengetahuan baru tentang bagaimana materi genetik purba pada akhirnya masuk ke dalam populasi manusia modern."

Para peneliti menemukan dua mutasi dari tiga situs fosil di China, yakni Zhoukoudian (Peking Man), Hexian, dan Sunjiadong. Fosil yang dianalisis berusia setidaknya 400 ribu tahun, dan bukti molekuler menunjukkan kemungkinan hubungan genetik antara Homo erectus Asia Timur dan Denisovan. Denisovan sendiri diketahui telah menyumbangkan materi genetik kepada sejumlah populasi manusia modern.

Satu varian, AMBN A253G, belum pernah diidentifikasi sebelumnya dan diusulkan sebagai penanda molekuler populasi Homo erectus. Keberadaannya memberikan bukti pertama bahwa individu-individu dari ketiga situs tersebut berada dalam satu populasi evolusioner yang sama.

Varian kedua, AMBN M273V, yang sebelumnya dipandang mirip dengan Denisovan, kini juga terdeteksi pada Homo erectus. Artinya, varian ini tidak eksklusif bagi Denisovan.

Menurut peneliti, AMBN M273V mungkin masuk ke garis keturunan Denisovan melalui percampuran genetik antarpopulasi manusia purba. Melalui introgresi, Denisovan kemudian berpotensi mewariskan varian tersebut kepada sebagian kelompok manusia modern di Asia Tenggara dan Oseania.

Metode Baru Untuk Menelisik Kekerabatan Manusia Purba

Apabila interpretasi tersebut benar, temuan ini menjadi petunjuk molekuler pertama tentang kemungkinan adanya hubungan antara Homo erectus Asia Timur (termasuk dari Zhoukoudian) dan Denisovan.

Hal ini juga mengisyaratkan adanya keterkaitan genetik yang lebih dalam antara populasi Homo erectus purba dan sebagian orang yang hidup saat ini.

Di luar temuan evolusionernya, para peneliti mengembangkan sejumlah metode eksperimental dan komputasi untuk memperluas informasi yang dapat ditarik dari fosil manusia.

Pendekatan itu mencakup penentuan jenis kelamin hominin purba menggunakan protein enamel spesifik laki-laki bernama AMELY, sistem verifikasi hasil dengan spektrometri massa tandem, berbagai alur analisis data, serta teknik analisis DNA yang terkait dengan varian asam amino tertentu.

Secara bersama-sama, metode-metode ini membentuk kerangka kerja baru bagi riset paleoproteomik yang sistematis.

Dengan mengungkap bukti molekuler seraya meminimalkan kerusakan pada fosil-fosil langka, pendekatan ini dapat membantu memetakan hubungan manusia purba yang sebelumnya sulit diakses melalui teknik genetika tradisional.

Rekomendasi