Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai program pembuatan rekening massal bagi masyarakat punya peran strategis dalam menjaga keberlanjutan literasi finansial, sekalipun angka kepemilikan akun bank di Indonesia saat ini sudah tinggi.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengungkapkan bahwa kepemilikan rekening resmi bagi generasi muda begitu menginjak usia 17 tahun menjadi pijakan awal (entry point) yang krusial. Fasilitas ini penting untuk memupuk kebiasaan menabung serta bertransaksi secara aman sejak dini.
"OJK menyambut baik dan mendukung prinsip dasar dari program pemerintah terkait pembukaan rekening massal bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang baru menginjak usia 17 tahun maupun penerima manfaat bansos," kata Dian dalam jawaban tertulis dikutip dari Antara, Sabtu (12/9).
Dian menambahkan, skema tersebut sejalan dengan target nasional dalam memperluas inklusi keuangan. Langkah ini sekaligus menjamin distribusi bantuan sosial berjalan efektif, efisien, transparan, dan langsung masuk ke rekening penerima (direct-to-account).
Meski begitu, ia menegaskan proses pembukaan rekening wajib mematuhi prinsip kehati-hatian (prudential banking). Pihak bank tetap harus menjalankan prosedur know your customer (KYC) sesuai regulasi. Efisiensi pembuatan akun ini bisa dimaksimalkan lewat integrasi data kependudukan (e-KTP/Dukcapil) secara digital yang aman serta terverifikasi.
Guna memastikan skema ini berjalan mulus tanpa kendala operasional di lapangan, Dian menyebut sinergi antara Pemerintah, Bank Indonesia (BI), OJK, dan industri perbankan sangat diperlukan dalam menyusun petunjuk teknis maupun kerangka aturan.
Sebagai gambaran, data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat jumlah rekening simpanan telah menembus 701,48 juta akun per Juli 2026. Angka tersebut tumbuh 8,9 persen secara year to date (ytd), atau melonjak 10,10 persen secara year on year (yoy) dibanding periode yang sama tahun lalu yang berada di angka 637,15 juta akun.
Advertisement
Rencana Pemerintah dan Skema Bansos
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah sedang merancang mekanisme penyediaan rekening massal bagi seluruh warga. Kebijakan ini menindaklanjuti instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan seluruh rakyat Indonesia memiliki akses tabungan bank guna menggenjot literasi dan inklusi keuangan nasional.
Terkait pembiayaan program, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan alokasi dana proyek ini belum ditetapkan secara pasti.
“Belum (ditetapkan) sebesar Rp11 triliun. Ini anggarannya masih belum dihitung,” kata Purbaya menjelaskan kepada wartawan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (10/9).
Di sisi lain, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan menginformasikan bahwa realisasi program akan dimulai sebentar lagi. Seluruh masyarakat berusia 17 tahun ke atas bakal dibukakan rekening anyar sebagai saluran utama penerimaan bansos.
“Mulai Oktober seluruh rakyat Indonesia usia 17 tahun ke atas akan dibukakan rekening baru di BRI. Dimodali Rp50 ribu. Semua bantuan nanti ke situ, beasiswa, bantuan pangan, bantuan tunai, PKH, segala macam,” kata Zulkifli pada Jumat (11/9).