Gaji pertama kerap membuat fresh graduate bimbang: menabung, berinvestasi, atau memenuhi keinginan yang sempat tertunda. Pertanyaan itu wajar muncul ketika mulai mandiri secara finansial dan harus menyusun rencana penggunaan penghasilan.
Menurut Perencana Keuangan sekaligus Founder & CEO Mitra Rencana Edukasi (MRE) Mike Rini Sutikno, kebingungan memilih menabung atau investasi sebenarnya bukan inti persoalan. Ia menekankan pentingnya membangun ketahanan finansial lebih dulu.
"Ini untuk menjawabnya berarti sebenarnya bukan kepada menabung atau investasi dahulu, karena kedua-duanya sama-sama perlu dilakukan," ujar Mike saat dihubungi Liputan6.com.
Mike menjelaskan, banyak fresh graduate belum memiliki simpanan sama sekali. Dalam kondisi itu, yang utama adalah membangun bantalan keuangan untuk menghadapi risiko tak terduga, bukan mengejar imbal hasil semata.
"Salah satu ciri keuangan yang sehat adalah kita memiliki ketahanan finansial dari kondisi-kondisi risiko keuangan yang menyebabkan kita harus mengeluarkan sejumlah uang untuk bertahan hidup," jelas Mike.
Ia merekomendasikan tempat penyimpanan yang likuid dan stabil untuk dana darurat, seperti tabungan bank, deposito, dan reksa dana pasar uang berisiko rendah. Investasi jangka panjang tetap penting, namun prioritasnya datang setelah bantalan keuangan memadai.
"Penting mana dana darurat sama harus punya rumah sendiri atau harus investasi pensiun? Menurut saya dari sisi urgensinya, dana darurat," tegasnya.
Advertisement
Simulasi Dana Darurat untuk Gaji Rp 3 Juta
Mike memberi contoh sederhana bagi fresh graduate bergaji Rp 3 juta yang menargetkan dana darurat setara tiga bulan gaji atau Rp 9 juta.
Dengan mengalokasikan 30% dari gaji per bulan (Rp 900 ribu) khusus untuk dana darurat, target Rp 9 juta bisa terpenuhi dalam 10 bulan. Ketika saldo mencapai sekitar setengah target, misalnya Rp 5,4 juta pada bulan keenam, alokasi dapat disesuaikan agar tujuan keuangan lain mulai berjalan.
"Yang tadinya Rp 900 ribu itu bisa dibagi dua, Rp 450 ribu buat nerusin target dana darurat, Rp 450 ribu lagi mulai kita investasi, misalnya cicil emas atau reksa dana saham," paparnya.
Dengan begitu, dana darurat terus bertambah sambil investasi mulai dicicil, meski tidak dimulai bersamaan sejak hari pertama menerima gaji.
Mike menyebut porsi 30% cocok bagi fresh graduate tanpa tanggungan. Namun pada kondisi sandwich generation, beban kebutuhan pokok bisa menyerap 80–90% gaji sehingga porsi menabung perlu menyesuaikan kemampuan.
"Kalau persentasenya berat, Anda mungkin enggak usah pakai persentase, sesuai dengan kemampuan. Mungkin Rp 100 ribu, mungkin Rp 50 ribu, gitu," katanya.
Ia menekankan konsistensi menyisihkan dana lebih penting daripada besaran nominal per bulan.
Advertisement
Mengapa Menabung Lebih Tepat untuk Dana Darurat?
Mike menegaskan dana darurat tidak boleh ditempatkan pada instrumen berisiko tinggi seperti saham. Harga aset semacam itu fluktuatif dan bisa anjlok saat dana dibutuhkan mendesak, sehingga pemilik berisiko menjual pada kondisi rugi.
Karena itu, ia membedakan tegas antara menabung untuk dana darurat—yang menuntut likuiditas dan stabilitas—dengan investasi yang relevan setelah bantalan keuangan terbentuk dengan baik.
Bagi fresh graduate, pokok keputusan bukan pada urutan menabung atau investasi, melainkan memahami tingkat urgensi setiap tujuan keuangan dan menyusun alokasi gaji berdasarkan prioritas tersebut, bukan rumus yang kaku.