Mengenal Cash Stuffing, Tren Atur Uang Ala TikTok

Tren cash stuffing atau metode menabung menggunakan buku binder atau amplop kembali menjadi perhatian setelah ramai dibahas di TikTok. Cara mengatur keuangan ini membuat seseorang membagi uang berdasarkan kebutuhan agar pengeluaran tidak berlebihan.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani - Reporter
Mengenal Cash Stuffing, Tren Atur Uang Ala TikTok
Ketidakpastian ekonomi dan sulitnya mencapai tujuan finansial membuat sebagian anak muda merasa menabung tidak lagi cukup untuk menjamin masa depan. (Foto/Dok: Pexels)

Mengatur keuangan di tengah berbagai godaan belanja bukanlah hal yang mudah, terutama ketika transaksi hanya membutuhkan beberapa kali sentuhan di layar ponsel.

Di tengah maraknya pembayaran digital, muncul kembali cara lama untuk mengontrol pengeluaran, yaitu cash stuffing atau metode amplop. Cara ini dilakukan dengan membagi uang tunai ke dalam beberapa pos pengeluaran sesuai kebutuhan.

Tren tersebut menjadi populer di TikTok . CNBC Select melaporkan tagar #cashstuffing , #casenvelopesystem , dan #casenvelopes telah mengumpulkan lebih dari 3 miliar tayangan.

Sederhananya , seseorang menentukan anggaran untuk berbagai kebutuhan setiap bulan. Uang kemudian dipisahkan ke dalam amplop atau plastik ziplock binder yang berbeda, misalnya untuk makan, transportasi, hiburan, belanja, hingga kebutuhan rumah tangga.

Ketika uang dalam satu amplop kebutuhan habis, pengguna harus berhenti mengeluarkan uang untuk kategori tersebut sampai periode berikutnya.

Gen Z di Era Serba Digital

Fenomena cash stuffing menarik menjadi karena terjadi ketika transaksi digital semakin berkembang.

Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 4,79 miliar transaksi pada Januari 2026 atau tumbuh 39,65 persen secara tahunan. Transaksi QRIS bahkan tumbuh 131,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Bank Indonesia juga mencatat hingga Juni 2025 jumlah merchant QRIS telah mencapai 39,3 juta dengan jumlah pengguna mencapai 57 juta. BI menyebut QRIS berkembang sejalan dengan perilaku generasi muda yang memiliki mobilitas tinggi.

Artinya, masyarakat Indonesia, termasuk generasi muda, semakin terbiasa melakukan transaksi tanpa uang tunai.

Namun, justru dalam kondisi tersebut metode cash stuffing menawarkan pendekatan yang berbeda. Pengguna bisa melihat secara langsung berapa banyak uang yang masih tersedia untuk setiap kebutuhan.

Gen Z Juga Melek Finansial

Kebiasaan menggunakan metode cash stuffing juga tidak serta-merta menunjukkan rendahnya pemahaman finansial generasi muda.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan ( SNLIK ) 2025 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan ( OJK ) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok usia 18-25 tahun memiliki indeks literasi keuangan sebesar 73,22 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangan kelompok usia tersebut mencapai 89,96 persen.

Secara keseluruhan, hasil SNLIK 2026 menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69,57 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 93,61 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan hasil SNLIK 2025.

Data tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat Indonesia yang memiliki akses terhadap layanan keuangan. Namun, memiliki akses ke layanan keuangan tidak selalu berarti seseorang mudah mengendalikan pengeluarannya.

Di akhir cash stuffing menawarkan pendekatan yang sederhana yaitu membatasi uang yang boleh digunakan sebelum pengeluaran terjadi.

Bisa Bantu Cegah Impulsif Buying

Salah satu kelebihan cash stuffing adalah membuat batas pengeluaran terasa lebih nyata.

Berbeda dengan saldo rekening atau dompet digital yang dapat digunakan berkali-kali selama saldo masih tersedia, uang dalam amplop memiliki batas yang jelas.

Misalnya, seseorang menetapkan anggaran Rp2 juta untuk kebutuhan makan selama satu bulan. Uang tersebut kemudian dibagi ke dalam amplop mingguan sebesar Rp285 ribu.

Jika uang pada minggu pertama habis sebelum waktunya, pengguna harus menahan pengeluaran atau menyesuaikan kebutuhan lainnya.

Cara ini bisa membantu orang yang merasa sulit mengontrol belanja impulsif karena setiap transaksi secara langsung mengurangi jumlah uang yang terlihat.

Masih Ada Kekurangannya

Meski terlihat sederhana, cash stuffing bukanlah metode yang sempurna.

menyimpan uang tunai dalam jumlah besar memiliki risiko kehilangan atau pencurian. Metode ini juga kurang praktis untuk kebutuhan yang harus dibayar secara digital.

Selain itu, uang yang hanya disimpan dalam bentuk tunai tidak mendapatkan imbal hasil seperti ketika ditempatkan pada instrumen atau rekening yang memberikan bunga. Oleh karena itu, metode cash stuffing tidak bisa diterapkan secara penuh.

Pengguna bisa mengambil konsep dasarnya, yakni membagi uang berdasarkan kebutuhan, tetapi melakukannya melalui rekening atau aplikasi keuangan.

Dengan cara tersebut, seseorang tetap mendapatkan batas pengeluaran tanpa harus membawa banyak uang tunai.

Pada akhirnya, inti dari cash stuffing bukan semata-mata mata kembali menggunakan uang kertas. Metode ini lebih menekankan pentingnya menentukan batas pengeluaran dan disiplin mengikuti anggaran yang telah dibuat.

Rekomendasi