Mengatur keuangandi tengahberbagai godaan belanja bukanlah hal yang mudah, terutama ketika transaksi hanya membutuhkan beberapa kali sentuhan di layar ponsel.
Di tengah maraknya pembayaran digital, muncul kembali cara lama untuk mengontrol pengeluaran, yaitucash stuffingatau metode amplop. Cara ini dilakukan dengan membagi uang tunai ke dalam beberapa pos pengeluaran sesuai kebutuhan.
Tren tersebut menjadi populer diTikTok.CNBC Selectmelaporkan tagar#cashstuffing,#casenvelopesystem, dan#casenvelopestelah mengumpulkan lebih dari 3 miliar tayangan.
Sederhananya, seseorang menentukan anggaran untuk berbagai kebutuhan setiap bulan. Uang kemudian dipisahkan ke dalam amplop atau plastikziplockbinder yang berbeda, misalnya untuk makan, transportasi, hiburan, belanja, hingga kebutuhan rumah tangga.
Ketika uang dalam satu amplop kebutuhan habis, pengguna harus berhenti mengeluarkan uang untuk kategori tersebut sampai periode berikutnya.
Advertisement
Gen Z di Era Serba Digital
Fenomenacash stuffingmenarik menjadi karena terjadi ketika transaksi digital semakin berkembang.
Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 4,79 miliar transaksi pada Januari 2026 atau tumbuh 39,65 persen secara tahunan. TransaksiQRISbahkan tumbuh 131,47 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Bank Indonesia juga mencatat hingga Juni 2025 jumlahmerchant QRIStelah mencapai 39,3 juta dengan jumlah pengguna mencapai 57 juta. BI menyebutQRISberkembang sejalan dengan perilaku generasi muda yang memiliki mobilitas tinggi.
Artinya, masyarakat Indonesia, termasuk generasi muda, semakin terbiasa melakukan transaksi tanpa uang tunai.
Namun, justru dalam kondisi tersebut metodecash stuffingmenawarkan pendekatan yang berbeda. Pengguna bisa melihat secara langsung berapa banyak uang yang masih tersedia untuk setiap kebutuhan.
Advertisement
Gen Z Juga Melek Finansial
Kebiasaan menggunakan metodecash stuffingjuga tidak serta-merta menunjukkan rendahnya pemahaman finansial generasi muda.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi danInklusiKeuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), kelompok usia 18-25 tahun memiliki indeks literasi keuangan sebesar 73,22 persen. Sementara itu, indeksinklusikeuangan kelompok usia tersebut mencapai 89,96 persen.
Secara keseluruhan, hasilSNLIK2026 menunjukkan indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69,57 persen, sedangkan indeksinklusikeuangan mencapai 93,61 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan hasilSNLIK2025.
Data tersebut menunjukkan semakin banyak masyarakat Indonesia yang memiliki akses terhadap layanan keuangan. Namun, memiliki akses ke layanan keuangan tidak selalu berarti seseorang mudah mengendalikan pengeluarannya.
Di akhircash stuffingmenawarkan pendekatan yang sederhana yaitu membatasi uang yang boleh digunakan sebelum pengeluaran terjadi.
Advertisement
Bisa Bantu Cegah Impulsif Buying
Salah satu kelebihancash stuffingadalah membuat batas pengeluaran terasa lebih nyata.
Berbeda dengan saldo rekening atau dompet digital yang dapat digunakan berkali-kali selama saldo masih tersedia, uang dalam amplop memiliki batas yang jelas.
Misalnya, seseorang menetapkan anggaran Rp2 juta untuk kebutuhan makan selama satu bulan. Uang tersebut kemudian dibagi ke dalam amplop mingguan sebesar Rp285 ribu.
Jika uang pada minggu pertama habis sebelum waktunya, pengguna harus menahan pengeluaran atau menyesuaikan kebutuhan lainnya.
Cara ini bisa membantu orang yang merasa sulit mengontrol belanja impulsif karena setiap transaksi secara langsung mengurangi jumlah uang yang terlihat.
Advertisement
Masih Ada Kekurangannya
Meski terlihat sederhana,cash stuffingbukanlah metode yang sempurna.
menyimpan uang tunai dalam jumlah besar memiliki risiko kehilangan atau pencurian. Metode ini juga kurang praktis untuk kebutuhan yang harus dibayar secara digital.
Selain itu, uang yang hanya disimpan dalam bentuk tunai tidak mendapatkan imbal hasil seperti ketika ditempatkan pada instrumen atau rekening yang memberikan bunga. Oleh karena itu, metodecash stuffingtidak bisa diterapkan secara penuh.
Pengguna bisa mengambil konsep dasarnya, yakni membagi uang berdasarkan kebutuhan, tetapi melakukannya melalui rekening atau aplikasi keuangan.
Dengan cara tersebut, seseorang tetap mendapatkan batas pengeluaran tanpa harus membawa banyak uang tunai.
Pada akhirnya, inti daricash stuffingbukan semata-mata mata kembali menggunakan uang kertas. Metode ini lebih menekankan pentingnya menentukan batas pengeluaran dan disiplin mengikuti anggaran yang telah dibuat.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9337721/original/096534200_1788254232-pexels-karola-g-6329031.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383788/original/090737200_1793098308-Screenshot_2026-10-27_162140.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383714/original/067964700_1793095990-IMG-20261027-WA0015.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3626297/original/087718800_1636365636-8_november_2021-3.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9383629/original/026278400_1793093225-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_15.39.18.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2516968/original/022832000_1544091068-Dirut_PNM.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5533697/original/078616900_1773760429-1f3912ca-7653-45df-a7ab-d64716c225a3.jpeg)