PT Pertamina Patra Niaga terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi energi ramah lingkungan. Melalui produk Sustainable Aviation Fuel (SAF), perseroan kini memanfaatkan minyak jelantah atau Used Cooking Oil(UCO) sebagai salah satu bahan baku utama pembuatan bahan bakar penerbangan berkelanjutan.
Fasilitas pengolahan dan pengembangan SAF ini berpusat di Kilang Cilacap, Jawa Tengah. Fasilitas strategis tersebut menjadi bagian vital dari ekosistem energi Pertamina untuk menciptakan bahan bakar penerbangan masa depan sekaligus mengimplementasikan prinsip ekonomi sirkular dari pengolahan limbah.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menyampaikan bahwa SAF menjadi salah satu topik krusial yang dibahas dalam ajang Pertamax Journey 2026, forum yang mempertemukan para jurnalis dari berbagai wilayah operasional perusahaan.
"Kilang Cilacap menjadi salah satu fasilitas strategis dalam ekosistem energi Pertamina. Dengan kapasitas pengolahan mencapai 348 ribu barel per hari, kilang ini memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan energi nasional," jelas Kitty.
Advertisement
Pionir Green Refinery dan Ekonomi Sirkular
Kilang Cilacap sendiri diproyeksikan menjadi fasilitas green refinery pertama di Indonesia. Kilang ini dirancang secara khusus untuk memproduksi bahan bakar ramah lingkungan berskala besar guna memperkuat kemandirian energi hijau dan SAF nasional.
Penggunaan limbah minyak jelantah sebagai bahan baku SAF terbukti membawa dampak ganda. Selain mengubah barang sisa menjadi rantai nilai energi yang bernilai tinggi, inovasi ini menjadi langkah konkret dalam memotong emisi pada industri penerbangan.
Kitty menegaskan bahwa pengembangan produk SAF merupakan bentuk adaptasi perusahaan dalam merespons kebutuhan industri penerbangan global yang kian menuntut bahan bakar rendah emisi.
"Bagi kami, keberlanjutan dan ketahanan energi bukan dua hal yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya perlu dibangun secara bersamaan," tutupnya.